Keterisolasi, AS Menghadapi Perubahan Politik di Kawasan
Amerika Serikat (AS) semakin ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya dalam konflik dengan Iran, terutama di tengah kebuntuan yang berlangsung lama dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Dosen Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul Kibtiah, menilai bahwa posisi AS saat ini semakin terisolasi karena tidak banyak negara yang bersedia terlibat langsung dalam konflik tersebut.
Menurut Tia, negara-negara cenderung mengutamakan kepentingan nasional masing-masing dan mulai menunjukkan sikap yang tidak sepenuhnya sejalan dengan Washington. Hal ini terlihat dari tidak adanya keterlibatan aktif NATO maupun Uni Eropa dalam perang AS melawan Iran. Bahkan, negara-negara Timur Tengah juga mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap Washington.
“
Makanya dia kan sendirian sekarang. Mana ada Uni Eropa, NATO, anggota NATO. Aliansi Timur Tengah sendiri malah ada agreement Mekkah yang dibentuk oleh Saudi, Turki dan Pakistan,” ujarnya.
Perubahan sikap negara-negara di kawasan tersebut merupakan indikasi adanya pergeseran politik Timur Tengah. Tia mencontohkan Arab Saudi yang selama ini dikenal dekat dengan AS kini mulai membuka komunikasi dengan Iran. Sementara Oman juga disebut semakin berani mengambil sikap sendiri meski mendapat tekanan dari Washington.
“Saudi sudah mulai bicara dengan Iran. Padahal Iran itu musuh dalam jangka histori yang cukup panjang sekali. Ah, iya. Tapi sekarang sudah mau bicara,” kata Tia.
Jika Presiden Donald Trump terus mempertahankan pendekatan konfrontatif terhadap Iran, Tia memperkirakan AS bukan hanya menghadapi persoalan di medan perang, tetapi juga risiko kehilangan dukungan politik dari negara-negara lain.
“Kalau Trump terus bersikap seperti itu, dia akan kalah di domestik, Republik ini. Yang kedua, akan ditinggalkan banyak negara karena memang secara tujuan perang juga dari awal sudah salah, hasilnya akan salah,” tuturnya.
Perubahan Lanskap Geopolitik Akibat Konflik
Pengamat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, juga melihat adanya potensi perubahan lanskap geopolitik akibat perang berkepanjangan antara AS dan Iran. Menurut Stanislaus, perang yang berlangsung selama berbulan-bulan menunjukkan bahwa kemampuan militer AS tidak serta-merta membuat Iran menyerah.
“Ini akan mengubah landscape geopolitik bahwa Amerika tidak lagi menjadi negara yang besar dan tidak diakui oleh negara-negara lain sebagai negara yang paling besar lagi,” kata Stanislaus.
Sebaliknya, Iran justru dinilai berhasil menunjukkan kemampuan bertahan menghadapi tekanan militer AS. Stanislaus menilai kondisi tersebut berpotensi mendorong negara-negara lain untuk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada AS.
“Amerika bisa keteteran ketika nanti memutuskan bahwa ya tidak perlu kerja sama dengan Amerika lagi,” katanya.
Ketahanan Iran dan Dukungan Luar Negeri
Tia menilai Iran memiliki ketahanan politik dan sosial yang membuat negara tersebut sulit ditumbangkan. Berbeda dengan sejumlah negara Timur Tengah yang sebelumnya berhasil dijatuhkan dalam konflik dengan AS, Iran dinilai memiliki masyarakat yang relatif solid.
Kondisi tersebut membuat konflik AS-Iran berpotensi berlangsung lebih lama, sementara ketegangan di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Stanislaus memperkirakan Iran akan tetap bertahan menghadapi tekanan AS.
“Iran masih sulit untuk dikalahkan dan Amerika akan sangat sulit mengalahkan Iran,” ujarnya.
Tia menilai sistem Velayat-e Faqih membuat rakyat Iran tetap loyal secara ideologis kepada pemimpinnya, sementara ekonominya relatif mandiri dan dibantu China serta Rusia untuk penjualan minyak. Hal ini memberikan daya tahan yang kuat bagi Iran dalam menghadapi tekanan internasional.
Dengan situasi ini, AS harus mempertimbangkan kembali strateginya dalam menghadapi Iran, karena pergeseran politik di kawasan dan ketahanan Iran menjadikan konflik ini lebih kompleks daripada yang diperkirakan.







