Pengalaman Mendaki Gunung Kilimanjaro yang Menggugah Hati
Fiersa Besari, seorang musisi sekaligus penulis ternama, berbagi pengalaman mendaki Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika. Pengalaman ini tidak hanya menjadi tantangan fisik yang luar biasa, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kekuatan dan keteguhan hati.
Gunung Kilimanjaro adalah gunung berapi tertinggi di Afrika dengan ketinggian 5.895 meter di atas permukaan laut (mdpl). Terletak di negara Tanzania, gunung ini terkenal sebagai gunung bebas (tidak berada dalam pegunungan) tertinggi di dunia. Gunung ini memiliki tiga puncak utama yaitu Kibo, Mawenzi, dan Shira. Puncak tertinggi bernama Uhuru yang terletak di kerucut Kibo.
Bagi Fiersa, pendakian ini menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan karena ia hampir menyerah akibat kondisi fisik dan tantangan ketinggian. “Itu pertama kalinya saya mendaki sampai ketinggian hampir 6 ribu mdpl. Jadi memang campur aduk sekali, saya hampai menyerah, ada potensi saya gagal,” ujar Fiersa usai nonton bareng ekspedisi puncak Kilimanjaro.
Namun, setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan dan mendapat penanganan medis, ia memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Akhirnya, keberhasilan mencapai puncak Uhuru pun menjadi momen yang mengharukan.
“Itu tentu dengan pertimbangan, sudah minum obat, terus ada dokter juga di situ. Akhirnya saya berani melanjutkan sampai akhirnya nyampe (puncak). Ya rasanya sangat-sangat mengharukan,” katanya.
Momen mencapai puncak Uhuru semakin membanggakan, karena Fiersa berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi Afrika itu. Apalagi, kata dia, nama Uhuru memiliki arti kemerdekaan atau kebebasan.
Perjuangan yang mengharukan itu pun dikemas dalam sebuah film hingga digelar nonton bareng di Store Arei Cihampelas. Bahkan, perjalanan pendakian tersebut ditayangkan saat berdekatan dengan perayaan HUT ke-81 RI.
“Ketika bisa disiarkan berdekatan dengan waktu kita 17-an, arti kata Uhuru atau kemerdekaan atau kebebasan itu menjadi sakral sekali ketika saya bisa mengibarkan bendera Indonesia di puncak itu,” ucap Fiersa.
Momen tersebut membuat Fiersa merefleksikan kondisi Indonesia. Menurutnya, meski masih banyak persoalan dan kebijakan yang layak dikritik, tetap ada rasa cinta yang besar ketika mengibarkan bendera merah putih di puncak Kilimanjaro.
“Dan disitu saya menarik garis batas bahwa mengkritik kebijakan-kebijakan yang ada itu, justru membuktikan bahwa kita masih mencintai dan peduli sama negara ini,” ujarnya.
Di balik pendakian yang dilakukannya, Fiersa mengaku bahwa keluarga menjadi alasan utama dirinya selalu memiliki semangat untuk kembali. Ia menyebut, anak dan istrinya sebagai jangkar ketika berada jauh di negara lain.
Ketika pulang usai mendaki, kata Fiersa, orang pertama yang akan tahu cerita sebelum orang lain adalah anak dan istri. Sehingga, perasaan kangen rumah saat melakukan pendakian penuh perjuangan itu tidak bisa digantikan.
“Ketika kita pergi ke negara secantik apapun, dengan gunung-gunung sekeren apapun, tapi ketika kita punya jangkar di rumah, ya tetap saja tempat terindah itu ya rumah gitu,” kata Fiersa.
Menurutnya, pendakian Gunung Kilimanjaro memang relatif lebih mudah jika dibandingkan sejumlah puncak dalam rangkaian Seven Summits, tetapi mendaki gunung itu bukan berarti pendakiannya dapat dianggap sepele. Salah satu tantangan terbesarnya, kata Fiersa, adalah perjalanan panjang sejauh 73 kilometer dengan kenaikan ketinggian terus-menerus.
Sehingga, tubuh yang belum terbiasa dengan kondisi itu dapat mengalami sesak napas, disorientasi, hipotermia, dan lain sebagianya. “Jadi salah satu yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara latihan dengan matang, supaya ketika kita datang ke gunung-gunung di luar sana, kita siap menghadapi segala potensi dan segala resiko,” ujarnya.
Commanditaire Arei, Bryant Peter Budijanto, mengatakan, pihaknya menjalin kerjasama dengan Fiersa Besari sebagai upaya untuk memperluas pengalaman dan inovasi produk lokal melalui berbagai ekspedisi. “Kami juga sangat terbuka untuk setiap peluang kerja sama ke depannya. Salah satunya adalah pendakian Gunung Kilimanjaro, dan mungkin nanti akan ada pendakian lain yang sebelumnya sudah sempat kami sebutkan, meski lokasinya belum bisa dipastikan,” kata Bryant.
Menurutnya, produk lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional, termasuk mendukung aktivitas di lingkungan ekstrem seperti pegunungan bersalju. “Kami ingin membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan produk lokal Indonesia mampu bersaing hingga ke luar negeri, bahkan untuk menjelajahi pegunungan bersalju di belahan dunia lain,” ucapnya.





