Momentum Penting untuk Elektrifikasi Transportasi
Peluncuran Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi momen penting dalam mempercepat elektrifikasi transportasi di Indonesia. Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan demikian, kebijakan ini dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan energi nasional.
World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Institute for Development of Economics and Finance Green Transition Initiative (Indef GTI) menilai bahwa pengembangan Molinas perlu dilanjutkan dengan peta jalan yang jelas, bertahap, dan terukur. Hal ini diperlukan agar bisa menjadi bagian dari penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional. Langkah tersebut dinilai semakin relevan di tengah pembahasan pemerintah mengenai penataan akses Pertalite bagi masyarakat mampu.
Menurut kedua lembaga, kebijakan penyaluran BBM dan percepatan elektrifikasi dapat berjalan beriringan untuk mengatasi persoalan energi di sektor transportasi. Penataan konsumsi Pertalite dapat membuat subsidi lebih tepat sasaran, sementara penggunaan kendaraan listrik dan peningkatan efisiensi kendaraan dapat menekan kebutuhan BBM.
“Presiden sudah menetapkan arah yang jelas mengenai masa depan elektrifikasi transportasi Indonesia. Langkah berikutnya adalah memastikan visi tersebut diterjemahkan ke dalam peta jalan yang terukur dan dapat dilaksanakan lintas sektor. Dengan demikian, pemerintah dapat memberikan kepastian bagi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” tutur Senior Manager for Resilient Cities and Transport World Resources Institute (WRI) Indonesia I Made Vikannanda, Rabu (19/8/2026).
Dampak Elektrifikasi terhadap Konsumsi BBM
Dampak elektrifikasi terhadap konsumsi BBM akan lebih besar jika kebijakan tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik, tetapi juga mencakup standar efisiensi kendaraan di tingkat produsen, serta peningkatan porsi kendaraan nol emisi dalam penjualan kendaraan baru. Kebijakan tersebut juga dinilai memberikan waktu bagi industri otomotif untuk mempersiapkan produk, teknologi, hingga kebutuhan investasi.
Elektrifikasi memiliki potensi besar untuk menekan beban APBN. Penggunaan kendaraan listrik dinilai memiliki kaitan dengan ketahanan energi dan kondisi fiskal negara. Pergantian konsumsi BBM impor dengan listrik yang diproduksi di dalam negeri dapat mengurangi kebutuhan impor energi sekaligus mengurangi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN.
Data kompilasi WRI Indonesia menunjukkan lonjakan harga minyak global beberapa kali diikuti peningkatan belanja subsidi dan kompensasi energi pemerintah. Pada 2008, realisasi belanja mencapai Rp 223,1 triliun dari anggaran Rp 116,8 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi Rp 255,6 triliun pada 2011 dari anggaran Rp 139,9 triliun. Pada 2022, realisasi belanja bahkan mencapai Rp 551,2 triliun, jauh di atas anggaran awal sebesar Rp 152,5 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi BBM, khususnya di sektor transportasi, dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi risiko fiskal akibat fluktuasi harga minyak dunia.
Manfaat Ganda dari Elektrifikasi Transportasi
Sementara itu, analisis International Council on Clean Transportation (ICCT) memperkirakan pertumbuhan kendaraan listrik mulai memberikan dampak terhadap pengeluaran energi pemerintah. Pada 2025, penghematan diperkirakan telah mencapai lebih dari Rp 100 miliar karena sebagian konsumsi BBM beralih ke listrik produksi dalam negeri.
Dengan demikian, pengembangan Molinas dan percepatan elektrifikasi transportasi dinilai memiliki manfaat ganda, yakni mendorong transformasi industri otomotif sekaligus mengurangi kebutuhan BBM dan memperkuat ketahanan energi nasional.







