Jurnalis Tribun Batam, Ucik Suwaibah
Infomalangraya.com, BATAM– Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berada di Pulau Sembur, Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang, Kota Batam tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
PLTS tersebut kelak menjadi salah satu unit usaha Koperasi Kelurahan Galang Baru yang ditujukan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di bidang perikanan.
Asisten Deputi Kemitraan dari Kementerian Koperasi, Leonardi Pratama, menyatakan bahwa PLTS akan menjadi bagian dari unit usaha koperasi.
PLTS Pulau Sembur Laut yang terletak di Kelurahan Galang Baru, Kota Batam, Provinsi Kepri, diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM RI Ferry Joko Juliantono bersama Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, pada hari Sabtu, 20 Desember 2025.
PLTS dibangun oleh Pertamina NRE bekerja sama dengan KDKMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih), guna memenuhi kebutuhan energi khususnya bagi para nelayan di Pulau Sembur Laut, Kelurahan Galang Baru, Kota Batam serta memberikan bantuan pendingin cold storage untuk hasil tangkapan laut para nelayan.
Menurut Leonardi Pratama, pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan terintegrasi dengan gedung Koperasi Kelurahan Merah Putih Galang Baru yang saat ini sedang dibangun di kawasan Pelabuhan Galang Baru.
“Termasuk PLTS ini nanti akan dioperasikan oleh koperasi sebagai salah satu unit usaha,” kata Leonardi saat diwawancarai di Pulau Sembur, Batam pada Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, koperasi tidak hanya bertugas dalam mengelola PLTS.
Koperasi juga ditugaskan sebagai pengumpul dan penggabung produk perikanan masyarakat agar hasil tangkapan bisa menciptakan nilai tambah.
Leonardi menyebutkan bahwa sektor perikanan memerlukan bantuan infrastruktur mulai dari saat ikan ditangkap hingga tahap penyimpanan.
Salah satu faktor yang penting adalah ketersediaan es untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan.
“Karena sektor perikanan yang paling utama adalah ikan, mulai dari saat menangkapnya membutuhkan es, alhamdulillah sudah tersedia,” katanya.
Oleh karena itu, kehadiran mesin pembuat es dan gudang pendingin di kawasan PLTS diharapkan mampu mendukung kegiatan para nelayan.
Departemen Koperasi, menurut Leonardi, akan terus memberikan dukungan kepada koperasi dalam hal manajemen dan tata kelola.
Pemantauan dilakukan agar koperasi mampu mengelola sumber daya yang ada dan memberikan keuntungan bagi anggota serta masyarakat sekitarnya.
“Maka, kami berharap nantinya semua ini akan dikelola oleh koperasi, dimanfaatkan secara maksimal untuk anggota dan masyarakat sekitar,” katanya.
Vice President PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menyatakan bahwa fasilitas pendukung di Pulau Sembur disiapkan guna meningkatkan efisiensi para nelayan.
Di wilayah tersebut tersedia mesin pembuat es dengan kapasitas produksi 4 ton es per hari serta gudang pendingin untuk menyimpan hasil tangkapan.
Menurut Oki, fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan nelayan Pulau Sembur, tetapi juga bisa membantu masyarakat yang tinggal di pulau-pulau sekitarnya.
“Jadi produksi esnya sebanyak 2 kali 2 ton per hari, total 4 ton per produksi, dan insyaallah akan berlebih serta bisa didistribusikan, seperti arahan Ibu Sekda tadi ke pulau-pulau lain,” ujar Oki.
Ia menyampaikan bahwa keberadaan gudang pendingin juga memberi kesempatan kepada nelayan untuk meningkatkan nilai hasil tangkapan mereka.
Nelayan selanjutnya mampu mengembangkan produk bernilai ekonomi yang lebih besar, misalnya ikan kerapu dan rajungan.
“Lalu ada juga penyimpanan, ini seperti mimpi, mimpi dari nelayan-nelayan di desa-desa Indonesia adalah memiliki cold storage dan alhamdulillah hal ini telah terwujud,” katanya.
Kepala Proyek dan Operasi Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), Norman Ginting, menyatakan bahwa pembangunan di Pulau Sembur merupakan proyek demonstrasi pemanfaatan sumber energi yang dapat diperbarui.
Menurutnya, wilayah tersebut tidak hanya terdiri dari pembangkit listrik.
Di dalamnya terdapat pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 1 megawatt peak (MWp), baterai berkapasitas 1 megawatt jam (MWh), gudang pendingin, mesin pembuat es, serta fasilitas pengisian energi.
Jumlah investasi untuk pengembangan kawasan terpadu tersebut diperkirakan berkisar antara Rp 20 miliar hingga Rp24 miliar.
Kurang lebih sekitar 20 hingga 24 miliar, kisaran di atasnya, merupakan angka yang diperkirakan untuk suatu kawasan terintegrasi dalam lingkungan PLTS ini, termasuk PLTS itu sendiri, cold storage, mesin es, dan stasiun pengisian daya,” ujar Norman.
Ia menyatakan bahwa proyek tersebut menjadi contoh bahwa energi terbarukan tidak hanya mampu menghasilkan listrik.
Energi hijau diharapkan mampu memberikan pengaruh langsung terhadap kegiatan dan kesejahteraan penduduk.
“Bagaimana proyek pembangkit listrik tenaga surya dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Itu adalah tujuan mengapa kita menjalankan proyek ini,” ujar Norman.
Ia menyatakan bahwa Pertamina NRE akan tetap memantau proses peralihan pengelolaan fasilitas bersama koperasi.
Para penduduk setempat yang nantinya akan menjadi operator telah menerima pelatihan dan sertifikasi.
“Jadi tenaga kerjanya nanti memang berasal dari masyarakat setempat. Dan sudah mengikuti pelatihan, sertifikasi, serta siap untuk mengoperasikannya,” katanya.
Menurutnya, Pertamina juga mampu mengawasi operasional PLTS dari jarak jauh menggunakan sistem pemantauan berbasis teknologi internet.
Dengan konsep tersebut, pengelolaan pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Sembur diharapkan mampu beroperasi secara berkelanjutan sambil memberikan manfaat ekonomi kepada penduduk.
Tidak hanya melalui ketersediaan listrik, tetapi juga melalui penguatan usaha koperasi dan sektor perikanan.
( Infomalangraya.com/ucik suwaibah)







