Infomalangraya.com, BANGLI –Api kembali mengamuk di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Minggu 30 Agustus 2026.
Sedikitnya dua hektare lahan hutan hangus terbakar akibat kobaran api yang dengan cepat membesar.
Kebakaran ini terjadi hanya berselang kurang dari satu bulan sejak peristiwa serupa sebelumnya di TWA Gunung Batur. Kali ini, si jago merah melalap kawasan hutan di Blok Seked, Desa Batur Selatan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, api awalnya muncul di kawasan semak belukar.
Kondisi semak yang mengering akibat musim kemarau, ditambah tiupan angin kencang, membuat api dengan cepat merambat ke area sekitarnya.
Pohon kayu tiblun dan cemara hutan pun tak luput dari amukan api.
Seorang warga setempat, Ni Wayan Serini (43), warga Banjar Kedisan, menyaksikan langsung kebakaran yang kembali melanda hutan di TWA Gunung Batur.
Serini mengungkapkan dirinya melihat api yang dengan cepat membesar.
“Saya sempat kaget melihat tiba-tiba ada kepulan asap tebal dari hutan, dan apinya cepat sekali besar karena ditiup angin kencang,” ujar Serini.
Kapolres Bangli, AKBP Anggun Adhika Putra mengatakan, kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 12.00 Wita.
Saat itu, warga yang melihat kepulan asap tebal dari kawasan hutan langsung melaporkan kejadian tersebut ke Pos Polairud Polres Bangli di Desa Kedisan.
Laporan itu langsung direspons cepat oleh aparat.
Sekitar 15 menit kemudian, personel Polres Bangli, Polsek Kintamani, serta petugas KPHK bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Petugas gabungan berjibaku di tengah kawasan hutan untuk mencegah api terus meluas.
Sekitar pukul 14.00 Wita, dua unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Bangli tiba di lokasi untuk memperkuat upaya pemadaman.
Selain menggunakan APAR portable, petugas juga membuat ilaran atau sekat api untuk memutus jalur rambatan kobaran. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 Wita.
“Meski kobaran api telah padam, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka tetap melakukan pemantauan dan memperkuat sekat api guna memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dan memicu kebakaran susulan,” ujar Kapolres.
Adapun penangan ini melibatkan sebanyak 30 personel Polres Bangli. Mereka dibantu delapan anggota Damkar, lima petugas KPHK, serta sekitar 30 warga.
“Tidak ada korban jiwa. Kami mengerahkan 30 personel Polres, 8 anggota Damkar, 5 petugas KPHK dan dibantu sekitar 30 warga,” ujar AKBP Anggun Adhika Putra.
Kebakaran kali ini menjadi perhatian serius karena bukan pertama kali terjadi di lokasi tersebut.
Sebelumnya, kawasan Blok Seked di TWA Gunung Batur juga dilanda kebakaran pada 11 Agustus 2026 sore.
Saat itu kobaran api yang muncul sekitar pukul 15.00 Wita tersebut membakar semak belukar hingga merambat ke pohon kayu tiblun dan cemara hutan.
Akibat kejadian ini, sekitar 2 hektare lahan hutan terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa pertama tersebut.
Dengan demikian, dalam waktu kurang dari satu bulan, kawasan hutan di lokasi yang sama sudah dua kali dilalap api. Ini tentunya menjadi “warning” bagi semua pihak.
Selain faktor musim kemarau dan angin kencang, polisi menyebut faktor kelalaian manusia juga menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan di Kintamani.
Kondisi cuaca panas dan angin kencang membuat percikan api kecil berpotensi dengan cepat berubah menjadi kobaran besar.
Pembakaran sampah maupun puntung rokok yang dibuang sembarangan menjadi ancaman serius bagi kawasan hutan, terutama selama musim kemarau.
Berjibaku Padamkan Api
Selain di kawasan TWA Gunung Batur, sejumlah lahan di wilayah Kabupaten Karangasem juga mengalami kebakaran hebat.
Bahkan dalam dua hari belakangan, 17,6 hektare lahan terbakar di wilayah Kecamatan Abang dan Kubu, yang merupakan daerah paling terdampak musim kemarau.
Rentetan kebakaran di daerah paling ujung timur Karangasem tersebut membuat petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Karangasem harus bekerja ekstra.
Jarak lokasi yang cukup berjauhan membuat petugas dan armada harus berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Damkartan Karangasem, I Made Suartika, mengatakan dalam dua hari terakhir terjadi empat kejadian kebakaran lahan.
“Dua hari yang lalu kami melakukan penanganan satu titik, kemarin ada tiga titik. Bahkan kebakaran kemarin penanganannya baru selesai dini hari,” kata Suartika, Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Suartika, sebagian besar lahan yang terbakar ditumbuhi ilalang kering. Kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah membesar dan berpotensi menjalar ke area lain.
Petugas dapat mengendalikan api sebelum kobaran merembet ke kebun maupun permukiman warga yang berada di sekitar lokasi.
Di tengah penanganan kebakaran lahan, petugas juga mendapat laporan kebakaran sampah di kawasan sebelah Pura Goa Raja, Besakih, Jumat 28 Agustus 2026 malam.
Laporan tersebut diterima sekitar pukul 23.00 Wita. Api yang berkobar cukup besar membuat masyarakat khawatir kobaran menjalar ke bangunan pura yang berada tidak jauh dari lokasi.
Penanganan kemudian dilakukan oleh petugas Damkartan Karangasem.
Karena lokasi kejadian lebih dekat dengan wilayah Klungkung, petugas Damkar Klungkung turut membantu proses pemadaman.
“Untuk kebakaran sampah di sebelah Pura Goa Raja, Besakih penanganan juga dibantu oleh Damkar Klungkung, karena jaraknya lebih dekat dengan lokasi kejadian,” jelas Suartika.
Damkartan Karangasem kini meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menghadapi potensi kebakaran lahan selama musim kemarau.
Suartika menyebut kondisi sejumlah lahan di wilayah Kubu dan Abang saat ini sangat kering.
Ilalang yang mengering menjadi material yang mudah terbakar ketika terkena api atau percikan.
Petugas Damkartan Karangasem juga tetap bersiaga selama 24 jam dengan personel dan armada lengkap.
Setiap laporan kebakaran akan langsung ditindaklanjuti untuk mencegah api meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
“Kami selalu standby 24 jam, begitu ada laporan kami langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan. Semoga saja tidak ada kebakaran lagi,” harap Suartika.
BPBD Waspada Penuh
Menghadapi puncak musim kemarau 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali meningkatkan kewaspadaan penuh.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), krisis air bersih, kekeringan, hingga potensi kebakaran di area permukiman dan fasilitas pengolahan sampah.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menegaskan pemantauan terhadap titik panas (hotspot) kini dilakukan secara nonstop.
“Ya memantau hotspot 24 jam nonstop,” kata Teja belum lama ini.
BPBD Bali menjalin sinergi erat dengan berbagai instansi untuk memastikan kesiapsiagaan terintegrasi di seluruh wilayah.
Pengawasan tidak hanya berfokus pada kawasan hutan, tetapi juga mencakup sektor pertanian, pasokan air bersih, hingga Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Khusus area kehutanan, langkah pencegahan melibatkan sinergi antara polisi hutan dan masyarakat lokal.
Pemantauan fasilitas pengolahan sampah pun diperketat untuk mencegah potensi kebakaran.
“TPA secara reguler melakukan pendinginan. Hutan sudah dijaga oleh Polhut dan masyarakat sekitar hutan,” jelasnya.
Berdasarkan data BPBD Bali, kebakaran hutan atau lahan telah terjadi di sejumlah titik akibat musim kemarau tahun ini.
Kebakaran lahan tercatat terjadi di Kabupaten Buleleng, di wilayah Kecamatan Gerokgak seluas 91,52 hektare dan Kecamatan Seririt seluas 5 hektare.
Di Karangasem, kebakaran melanda Kecamatan Kubu seluas 5 hektare serta Kecamatan Abang seluas 2 hektare.
Area Nusa Penida dan Gunaksa di Klungkung turut mengalami kebakaran masing-masing seluas 15 hektare dan 2 hektare.
Kemudian disusul Desa Pekutatan di Jembrana seluas 1,5 hektare, serta kawasan hutan Kintamani di Bangli seluas 1,33 hektare.
Selain kawasan hutan, fasilitas pengelolaan sampah dan permukiman juga tak luput dari kebakaran, seperti kejadian di TPST 3R Culik Karangasem seluas 10 are, TPST 3R Tejakula Buleleng, serta TPA Suwung Denpasar.
“TPA Suwung di Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, juga masuk dalam pemantauan. Area yang terdampak kebakaran tercatat sekitar dua are,” papar Teja.
Kepala Pelaksana BPBD Bali berharap koordinasi lintas sektor dapat menekan potensi bencana lanjutan, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
“Semoga saja eskalasi tidak meningkat,” pungkasnya. (weg/mit/sar)
Kumpulan Artikel Bali







