Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Direktur Operasional InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy Reza Warokka mengatakan penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata. Troy menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi penting dalam memastikan penyelenggaraan MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit berjalan optimal sekaligus memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Saya rasa ini menunjukkan kebersamaan yang luar biasa karena seingat saya ini tinggal 37 hari atau 36 hari lagi menuju MotoGP,” ujar Troy dalam Penandatanganan MoU Kolaborasi dan Sinergi Bisnis dalam Mendukung Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 di Gedung Sarinah, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Troy juga menyoroti kehadiran dua pembalap Indonesia di ajang balap motor dunia tersebut. Meskipun berlaga di kelass Moto2 dan Moto3, kehadiran pembalap Tanah Air dinilai menjadi bagian dari mimpi bersama untuk membawa Indonesia semakin dikenal di panggung motorsport internasional.
Menurut Troy, MotoGP memiliki peran strategis dalam mendorong sektor pariwisata. Troy berhatap gelaran tersebut mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, sekaligus mendorong peningkatan belanja wisatawan di Mandalika dan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“MotoGP bukan hanya sebagai ajang penyelenggaraan olahraga motorsport tapi juga sebagai penggerak ekonomi pariwisata yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang length of stay dan juga sebagai tourism spending di Mandalika dan juga Lombok NTB,” lanjut Troy.
Troy menjelaskan, ITDC bersama MGPA mengembangkan program Bundling Package yang mengintegrasikan tiket Pertamina Grand Prix of Indonesia dengan berbagai kebutuhan perjalanan wisatawan. Paket tersebut mencakup akomodasi, transportasi udara dan laut, layanan bandara, serta hospitality.
Troy menyampaikan program tersebut sekaligus menjadi upaya menjawab persoalan yang kerap muncul menjelang MotoGP, terutama terkait keterbatasan akomodasi, transportasi, dan konektivitas menuju Mandalika. Troy menilai dukungan berbagai pihak pada penyelenggaraan tahun ini semakin kuat.
“Ini jawaban dari pertanyaan banyak orang mengenai sulitnya akomodasi, sulitnya transportasi, sulitnya konektivitas karena sesungguhnya itu sudah terjawab dari beberapa tahun yang lalu namun kali ini menjadi lebih spesial karenna supportnya menjadi lebih luar biasa,” ucap Troy.
Troy mengatakan, sinergi bisnis yang dibangun mencakup berbagai sektor, mulai dari akomodasi, hospitality, transportasi udara dan laut, hingga travel package. Selain itu, aspek logistik juga menjadi bagian penting dalam persiapan penyelenggaraan MotoGP.
“Skema partnership saya rasa juga cukup baik, kita melibatkan mulai dari akomodasi, kemudian hospitality konektivitasnya laut dan udara kemudian juga ada travel package hingga kepada cargo handling,” sambung Troy.
Cargo handling menjadi salah satu elemen penting dalam penyelenggaraan MotoGP dan aktivitasnya akan mulai bergerak sekitar dua pekan sebelum balapan berlangsung. Troy mengatakan, seluruh persiapan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, baik BUMN maupun swasta.
“Kami dari ITDC dan MGPA menyampaikan terima kasih dan penghargaan serta apresiasi karena kerja bersama ini untuk membaawa nama Indonesia mendunia,” lanjut Troy.
Ia menegaskan kolaborasi yang dilakukan tidak hanya ditujukan untuk penyelenggaraan MotoGP 2026. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem pariwisata dan event olahraga di Mandalika secara berkelanjutan.
Troy menyebut penyelenggaraan MotoGP pada tahun sebelumnya menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp4,9 triliun. Dampak tersebut, kata dia, tidak hanya dirasakan di NTB, melainkan juga memberikan manfaat bagi sejumlah daerah lain di Indonesia.
“Sebagai informasi tahun lalu dampak ekonomi adalah Rp4,9 triliun dan itu berdampak bukan hanya di NTB tapi berdampak untuk beberapa daerah di Indonesia termasuk reputasi, branding dan yang juga paling penting adalah media coverage dari hampir banyak negara di dunia,” kata Troy.
Direktur Komersial InJourney Veronica Sisilia menambahkan, sinergi bisnis yang bukan sekadar kerja sama penjualan tiket, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi dengan event olahraga sebagai salah satu penggeraknya. Veronica mengatakan, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi lebih dari sekadar ajamg balap internasional.
“Bagi kami partnership bukan sekedar kerja sama menjual tiket, tapi sebuah event olahraga yang merupakan bagian usaha bersama untuk membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi,” ucap Veronica.
Veronica menilai keberhasilan sebuah event tidak cukup diukur dari jumlah penonton yang hadir di sirkuit. Dampak yang lebih penting ialah kemampuan event menciptakan pergerakan wisatawan, meningkatkan lama tinggal, mendorong belanja wisatawan, serta membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
“InJourney melihat jauh lebih penting bagaimana event itu bisa menciptakan pergerakan wisatawan, meningkatkan lama tinggal, mendorong belanja wisatawan, membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, dan pada akhirnya bisa memberikan dampak yang lebih luas bagi destinasi,” sambungf Veronica.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut menjadi landasan InJourney dalam mengembangkan konsep partnership bundling. Melalui kolaborasi dengan travel management partner dan berbagai mitra dalam ekosistem pariwisata, Veronica berharap wisatawan memperoleh perjalanan yang lebih mudah, nyaman, dan terintegrasi.
“Wisatawan bukan hanya membeli tiket menonton MotoGP, tapi juga dapat memperoleh pilihan akomodasi, transportasi udara maupun laut, serta layanan hospitality. Dengan demikian, pengalaman wisatawan dimulai bukan ketika mereka tiba di sirkuit saja, tapi dimulai sejak mereka merencanakan perjalanan hingga kembali ke negara atau daerah asal,” kata Veronica.







