:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Martha-dan-bagus-3.jpg)
Ringkasan Berita:
- Martha meminta suaminya untuk tetap tegar dan berani menghadapi seluruh proses hukum yang berjalan.
- Martha berharap suaminya memiliki pegangan spiritual yang kuat agar tidak lari dari tanggung jawab atas perbuatannya.
- Suasana haru semakin menyelimuti pertemuan tersebut tatkala pelaku menanyakan kondisi psikologis orang tuanya pascaperistiwa berdarah itu.
Infomalangraya.com – Peristiwa pembunuhan keji di Kota Madiun, Jawa Timur, yang dilakukan oleh Dwi Bagus Martono (40) terhadap istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), serta anaknya, AGF (4), menyisakan duka sekaligus momen emosional yang menyita perhatian publik.
Di sela proses prarekonstruksi yang berlangsung di rumahnya di Jalan Kunir Nomor 13, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Selasa (27/10/2026), istri sah pelaku, Martha Amalia Iflahah (34), hadir dan memeluk erat suaminya.
Pelaku tampak bersimpuh di hadapan sang istri setelah mendapatkan dukungan mental, kendati ia telah berkhianat melalui pernikahan siri dengan korban.
Martha, yang berprofesi sebagai Guru SD di Kota Madiun, meminta suaminya untuk tetap tegar dan berani menghadapi seluruh proses hukum yang berjalan.
“Saat bertemu suami saya kemarin di pra-rekonstruksi, alhamdulillah kami sebagai keluarga sempat bertemu. Kalimat pertama yang saya sampaikan ke suami saya adalah, ‘Be Brave (Beranilah), Ya Allah, Be Brave’,” ujar Martha saat ditemui di Hotel Mercure, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Senin (2/11/2026).
Martha berharap suaminya memiliki pegangan spiritual yang kuat agar tidak lari dari tanggung jawab atas perbuatannya.
“He must hold on something. Allah, saya kepengin suami saya itu punya pegangan yang kencang itu sama Gusti Allah. Jadi kalau dia punya rasa takut, dia punya ketakutan, dia bisa berani untuk mempertanggungjawabkan semuanya,” lanjut Martha.
Suasana haru semakin menyelimuti pertemuan tersebut tatkala pelaku menanyakan kondisi psikologis orang tuanya pascaperistiwa berdarah itu.
“Saya jawab, ‘Sudah memaafkan Ayah semua.’ Kemudian dia tersungkur,” jelas Martha.
Tekanan mental sempat dirasakan oleh Martha karena merasa terseret dalam pusaran perkara hukum yang berat padahal ia adalah pihak yang disakiti.
“Di saat saya merasa, ‘Kenapa sih saya yang dikorbankan? Kenapa saya disakiti?’ bahkan dalam perkara hukum ini saya merasa saya yang berada di paling depan untuk ikut bertanggung jawab dan lain sebagainya, untuk hal-hal yang tidak saya lakukan pun,” ungkap Martha.
Meski demikian, dukungan dari orang-orang terdekat memintanya untuk tetap ikhlas mendoakan pelaku selama menjalani proses hukum.
“‘Dimaafkan ya, Mbak. Setiap salat didoakan, semoga Mas Bagus dikuatkan hatinya agar bisa menjalani proses hukum dengan dengan lancar.’ Dan itu saya sampaikan kepada suami saya juga,” tutur Martha.
Ia juga menegaskan agar suaminya tidak takut menghadapi takdir maupun hukuman yang akan dijatuhkan nantinya.
“Artinya apapun putusan hukumnya nanti, putusannya nanti yang diterima suami saya, saya berharap dia memang benar-benar bisa menerima itu semua karena harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan,” tegasnya.
Di akhir pertemuan, Martha memberikan pesan keras agar suaminya tidak mengambil jalan pintas mengakhiri hidup di dalam sel tahanan.
“Kamu jangan bunuh diri di sana. Kalau kamu bunuh diri nanti kamu tidak akan terlahir kembali sebagai manusia. Kamu masih punya kesempatan hidup untuk bertaubat. Manfaatkan untuk itu. Kurang lebih itu sih yang saya sampaikan,” pungkas Martha.
Artikel Ini Telah Tayang di Surya dengan Judul Pernyataan Pengampunan Istri Sah yang Buat Pelaku Pembunuhan Madiun Langsung Bersimpuh







