Ambisi Manufaktur Inggris dan Peluang Kolaborasi Strategis
Pemerintah Inggris sedang mencoba untuk meningkatkan kapasitas manufaktur otomotif nasional, dengan target ambisius mencapai produksi 1,3 juta kendaraan per tahun pada 2035. Namun, data menunjukkan bahwa produksi kendaraan di Inggris pada 2025 baru mencapai 738.000 unit. Dengan angka ini, terdapat celah besar yang harus diisi oleh produsen baru. Salah satu pihak yang menarik minat pemerintah adalah Chery, raksasa otomotif Tiongkok.
Chery, melalui merek Omoda dan Jaecoo, telah menjadi salah satu merek asal Tiongkok dengan pertumbuhan tercepat di Inggris. Ketertarikan Chery untuk memproduksi kendaraan secara lokal juga didorong oleh situasi geopolitik. Tarif Uni Eropa terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok membuat produksi langsung di daratan Eropa atau Inggris menjadi pilihan yang lebih kompetitif secara ekonomi dibandingkan jalur ekspor.
Diskusi antara Chery dan pihak-pihak terkait masih berada pada tahap awal. Namun, kolaborasi ini berpotensi menjadi langkah besar bagi Chery untuk memperkuat kehadirannya di pasar Eropa tanpa harus membangun pabrik dari nol. Hal ini juga bisa menjadi solusi praktis bagi Jaguar Land Rover dalam mengoptimalkan penggunaan kapasitas pabrik yang belum terpakai sepenuhnya.
Hubungan Erat Chery dengan Jaguar Land Rover dan Tata Motors

Hubungan antara Chery dan Jaguar Land Rover tidaklah baru. Keduanya sudah memiliki perusahaan patungan (joint venture) yang sukses di Tiongkok. Pada tahun 2024, JLR bahkan melisensikan merek Freelander kepada Chery untuk mengembangkan model listrik berbasis platform teknologi milik Chery. Kedekatan historis ini memperkuat peluang Chery untuk masuk ke fasilitas produksi JLR di Inggris yang berada di bawah kendali Tata Motors dari India.
Di sisi lain, Jaguar Land Rover menghadapi tantangan finansial setelah mengalami serangan siber pada akhir 2025 yang menyebabkan kerugian setidaknya 196 juta pound sterling. Pengamat otomotif menilai bahwa kapasitas pabrik JLR masih sangat memadai untuk menampung satu atau dua model tambahan dari Chery. Skema berbagi pabrik ini bukan hal asing di industri otomotif global, seperti yang dilakukan Leapmotor dengan Stellantis di Spanyol atau rencana Nissan yang mengizinkan mitranya, Dongfeng, menggunakan kapasitas berlebih di pabrik Sunderland.
Tantangan Biaya Operasional dan Efisiensi Lokal bagi Produsen Tiongkok

Meskipun peluang terbuka lebar, Chery masih mempertimbangkan beberapa tantangan serius dalam melakukan manufaktur di Inggris, terutama terkait tingginya biaya energi dan tenaga kerja. Faktor-faktor ini menjadi parameter penting dalam penilaian kelayakan sebelum Chery memutuskan untuk menandatangani kontrak resmi. Keberhasilan ekspansi ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah Inggris memberikan kompensasi atau insentif yang dapat menyeimbangkan tingginya biaya operasional tersebut.
Saat ini, Chery terus memperluas jejak globalnya dengan mengakuisisi fasilitas bekas Nissan di Barcelona dan Afrika Selatan. Dengan strategi lokalisasi yang agresif, produksi di Inggris akan menjadi pencapaian signifikan dalam membentuk rantai pasok global yang lebih efisien. Jika kesepakatan ini tercapai, Inggris berpotensi kembali menjadi pusat manufaktur otomotif yang disegani dengan bantuan teknologi dan kecepatan pengembangan dari produsen otomotif Tiongkok.
Selain itu, Chery juga optimistis tentang potensi pasar mobil Indonesia pada 2026. Meski sempat anjlok, pihak Chery tetap yakin bahwa pasar mobil di Indonesia akan bangkit kembali. Mereka percaya bahwa dengan strategi yang tepat dan dukungan pasar domestik, Chery dapat memperluas pangsa pasarnya di Asia Tenggara.







