Peringatan Hari Pers Nasional dan Ulang Tahun Tribun Timur
Hari ini, 9 Februari 2026, pers Indonesia memperingati Hari Pers Nasional. Di hari yang sama, Tribun Timur merayakan usia ke-22. Dalam perjalanan 22 tahun tersebut, banyak hal yang terjadi. Mulai dari perjuangan, tantangan, hingga pencapaian. Nama dan rasa tetap terasa. Masih ingat nama dan masih rasa.
Hari Pers dan HUT Tribun Timur bukan sekadar momen perayaan. Mereka menjadi titik jeda untuk bercermin. Tema Leave Your Mark mengandung makna sederhana tapi menantang: jejak tak selalu terlihat, tetapi dampaknya selalu terasa.
Pers tidak hanya mencatat peristiwa. Ia membentuk ingatan kolektif. Apa yang ditulis hari ini, akan menjadi rujukan esok hari. Apa yang diabaikan, bisa menjadi luka sosial yang diwariskan. Di sinilah pers diuji. Apakah jejak yang ditinggalkan berupa keberanian, atau sekadar keramaian sesaat?
Selama 22 tahun, Tribun Timur tumbuh bersama. Mengusung Spirit Baru Makassar, Mata Lokal Menjangkau Indonesia, mengikuti denyut politik lokal. Menyaksikan pembangunan dan ketimpangan. Mencatat suara warga di pinggiran, dan pernyataan elite di pusat kekuasaan.
Namun bertahan di daerah tidak hanya soal idealisme, melainkan juga soal ketahanan. Tekanan ekonomi media, ketergantungan iklan, dan kedekatan struktural dengan penguasa lokal. Dalam situasi seperti ini, Leave Your Mark tidak bisa dimaknai sebagai popularitas, melainkan keteguhan sikap.
Pers yang dewasa tahu satu hal penting: kedekatan tidak boleh menghapus jarak kritis. Banyak media jatuh bukan karena dibungkam. Ia tergelincir karena terlalu nyaman. Leave Your Mark harus dibaca sebagai komitmen. Menoreh jejak keberanian. Memahat ketelitian. Dan mematri keberpihakan pada kepentingan publik.
Pers yang baik tidak meninggalkan jejak pada penguasa, melainkan pada ingatan kolektif masyarakat. Karena sesungguhnya pers hadir untuk merawat collective imagination. Tema Leave Your Mark terdengar sederhana, namun sesungguhnya mengandung tuntutan etis yang berat.
Dalam ilmu sosial, jejak tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Ia bekerja dalam ingatan, dalam cara orang memahami realitas, dalam bahasa yang membingkai peristiwa. Pers, dalam pengertian ini, bukan sekadar pencatat kejadian, melainkan produsen makna. Apa yang ditulis hari ini akan menjadi rujukan esok hari. Apa yang diulang akan dianggap wajar. Dan apa yang diabaikan berpotensi menjadi luka sosial yang diwariskan, karena ketidakhadiran suara juga merupakan sikap.
Antara Peringatan dan Perlawanan
Sejak Minggu sore, 8 Februari 2026, mitra dan rekan mulai berdatangan ke Gedung Tribun Timur. Mereka datang untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-22 Tribun Timur. Ada yang menyambungnya dengan kalimat “Spirit Baru Makassar, Mata Lokal Menjangkau Indonesia”. Kali ini, tamu tidak hanya disuguhi foto bersama. Mereka juga disilakan mengukit pesan dalam spanduk besar yang telah disiapkan. Pesan singkat disertai tandatangan. Inilah bagian upaya Tribun Timur mematri Leave Your Mark. Sangat sederhana. Namun penuh makna. Terasa.
Sembilan Februari, sebuah tanggal yang seharusnya lebih dari sekadar seremoni tahunan. Pers lahir bukan untuk dirayakan, tetapi untuk diuji. Oleh kekuasaan. Oleh modal. Dan oleh dirinya sendiri.
Di banyak daerah, termasuk Sulawesi Selatan, pers hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, pers dituntut menjadi pilar demokrasi. Di sisi lain, ruang geraknya makin sempit, tekanan makin halus, dan godaan makin nyata. Pers tidak pernah benar-benar bebas dari kekuasaan. Ia hanya menjaga jarak. Masalahnya, jarak itu kini kian menyempit. Bukan selalu karena represi terang-terangan, melainkan karena kedekatan yang terlalu nyaman.
Hari Pers Nasional semestinya bukan hanya tentang penghargaan dan panggung. Bukan hanya tentang pidato dan slogan. HPN adalah momentum bertanya ke dalam: masihkah pers berpihak pada publik? Masihkah suara yang terpinggirkan mendapat ruang? Atau pers justru sibuk menjaga relasi, bukan kebenaran?
Pers yang besar bukan pers yang paling dekat dengan kekuasaan. Melainkan pers yang tetap tegak ketika kekuasaan tak nyaman. Pers tidak membutuhkan pujian. Pers membutuhkan keberanian yang konsisten. Keberanian untuk tidak selalu menyenangkan. Keberanian untuk tetap kritis, bahkan ketika sepi dukungan. Keberanian untuk setia pada publik, bukan pada tepuk tangan.
Pada akhirnya, Hari Pers Nasional bukan soal usia, melainkan soal keberanian menjaga jarak. Dan di situlah martabat pers diuji, setiap hari, bukan hanya setiap 9 Februari. Karena Leave Your Mark sejatinya bersama pers.







