Kondisi The Washington Post yang Mengkhawatirkan
The Washington Post, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Amerika Serikat, kini tengah menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari berbagai kalangan, termasuk mantan pemimpin redaksi The Post, Marty Baron, yang pernah membawa media tersebut meraih 11 Penghargaan Pulitzer dan memperluas ruang redaksi hingga menampung lebih dari 1.000 jurnalis.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Baron menyatakan bahwa arah dan ambisi The Washington Post saat ini mengalami kemunduran signifikan. “Aspirasi organisasi berita ini telah menurun,” ujarnya. “Saya pikir hal itu akan berujung pada berkurangnya pelanggan. Dan saya berharap ini bukan awal dari spiral kematian, tetapi saya khawatir itu bisa terjadi.”
Pemangkasan Karyawan yang Besar
Kekhawatiran tersebut muncul setelah The Post mengeksekusi salah satu gelombang PHK terbesar dalam sejarah industri surat kabar Amerika Serikat. Matt Murray, yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi, menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan memiliki rencana untuk bertahan dan berkembang ke depan. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pelaksanaan PHK besar-besaran.
Hampir sepertiga karyawan The Post diberhentikan. Pada akhir 2023, sebelum program pengunduran diri sukarela diterapkan, perusahaan tercatat memiliki sekitar 2.500 karyawan. Dari jumlah tersebut, hampir 800 orang kini kehilangan pekerjaan. Dampak PHK terasa luas di berbagai lini utama. Departemen olahraga ditutup sepenuhnya, sementara tim peliputan berita lokal, gaya hidup, dan internasional mengalami pemangkasan signifikan. Departemen audio dan video yang sebelumnya telah terdampak pengurangan staf kembali diperkecil. Tim-tim komersial pun tidak luput dari pemangkasan.
Akibatnya, The Post kini beroperasi sebagai organisasi berita yang jauh lebih kecil. Banyak jurnalis—baik yang masih bekerja maupun yang telah diberhentikan—khawatir bahwa penyusutan ini akan membuat The Post kehilangan ambisi jurnalistik yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Tekanan Finansial dan Persaingan yang Ketat
Situasi tersebut terjadi di tengah tekanan finansial yang melanda industri media, serta meningkatnya permusuhan dari Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya terhadap media arus utama. Trump secara terbuka kerap mengancam jaringan berita dan mendorong lembaga regulasi untuk menindak media yang tidak sejalan dengannya.
Dalam periode yang sarat peristiwa penting dalam sejarah Amerika Serikat, sejumlah organisasi media lain juga melakukan PHK, termasuk CBS News—yang kini dimiliki keluarga Ellison yang dikenal dekat dengan Trump—serta surat kabar Atlanta Journal-Constitution.
Kritik Internal dan Perubahan Arah Redaksi
Kritik juga diarahkan kepada penerbit The Post, Will Lewis, yang direkrut Jeff Bezos pada akhir 2023 untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Lewis tidak hadir dalam pertemuan daring dengan karyawan saat pengumuman PHK, sesuatu yang dianggap janggal oleh sebagian staf. “Dia tak terlihat seperti penerbit. Ketika Anda mengumumkan sesuatu yang begitu traumatis, bukankah seharusnya penerbit hadir dalam panggilan itu?” tanya Baron.
Donald E. Graham, pemilik lama The Post yang menjual surat kabar tersebut kepada Bezos pada 2013, juga angkat bicara. Dalam unggahan Facebook yang dibagikan secara luas, ia menulis: “Ini adalah hari yang buruk. Saya sedih melihat begitu banyak reporter dan editor hebat—serta teman-teman lama—kehilangan pekerjaan. Perhatian utama saya adalah kepada mereka; saya akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu.”
Fokus Baru dan Persaingan yang Menantang
Dalam pertemuan virtual dengan karyawan, Murray menjelaskan bahwa tim peliputan politik dan pemerintahan akan menjadi kelompok terbesar di The Post ke depan. Ia menyebut liputan tersebut tetap menjadi pusat keterlibatan pembaca dan pertumbuhan pelanggan. Selain itu, The Post akan terus meliput berita nasional, sains, teknologi, iklim, dan bisnis, meskipun dengan jumlah staf yang lebih terbatas.
Dengan ukuran organisasi yang lebih kecil dan fokus utama pada politik serta pemerintahan federal—khususnya pemerintahan Trump—The Post menghadapi persaingan ketat dari media seperti Politico, Axios, serta pemain baru seperti Punchbowl News.
Jim VandeHei, mantan jurnalis The Post yang mendirikan Politico dan kemudian Axios, mengaku tidak memahami strategi yang kini diambil oleh The Post. Pada musim gugur 2024, The Post juga kehilangan ratusan ribu pelanggan setelah Jeff Bezos secara tiba-tiba membatalkan rencana dukungan editorial terhadap Kamala Harris dalam Pilpres AS. Bezos kemudian mengubah arah halaman opini dengan membatasi fokus pada dukungan terhadap kebebasan individu dan pasar bebas.
Sejumlah pihak khawatir gelombang PHK terbaru ini akan memicu pembatalan langganan lanjutan serta semakin membebani keuangan perusahaan, termasuk kewajiban pembayaran pesangon bernilai jutaan dolar.
Robert Allbritton, mantan pemilik Politico, menyatakan kesedihannya atas PHK tersebut. Sementara itu, serikat pekerja The Post secara terbuka menyerukan agar Bezos menjual surat kabar tersebut jika tidak lagi bersedia berinvestasi pada misi jurnalistiknya.







