Toleransi Antarumat Beragama dalam Peringatan 1 Abad NU di Kota Malang
Perayaan 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Malang, yang berlangsung pada 7 hingga 8 Februari 2026, menjadi momen penting dalam menunjukkan toleransi antarumat beragama dan persaudaraan yang kuat. Salah satu bukti nyata dari hal ini adalah tindakan sejumlah gereja di sekitar lokasi puncak Muhahadah Kubro 1 Abad NU yang membuka pintu mereka untuk para jemaah Nahdliyin.
Salah satu contohnya adalah Kantor Majelis Agung GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Wilayah Jawa Timur yang berada di Jalan S Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Pihak gereja ini memilih menjadi tempat transit bagi ratusan jemaah Nahdliyin asal Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Stadion Gajayana, lokasi utama peringatan 1 Abad NU.
Fasilitas yang Disiapkan untuk Jemaah
Stadion Gajayana menjadi pusat kegiatan peringatan 1 Abad NU selama dua hari. Dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang, banyak jemaah menggunakan bus dan singgah di Kantor Majelis Agung GKJW. Para jemaah menyambut baik fasilitas yang disediakan oleh pengurus GKJW, termasuk tempat istirahat, toilet, serta konsumsi gratis.
Koordinator PIC Jemaah Kecamatan Sukomanunggal Surabaya, Muhammad Thoriq, menjelaskan bahwa Kantor Majelis Agung GKJW menjadi titik transit sementara sebelum rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Stadion Gajayana. Menurutnya, kehadiran jemaah Nahdliyin di lokasi tersebut menunjukkan bahwa peringatan 1 Abad NU tidak hanya dirayakan oleh warga NU, tetapi juga oleh masyarakat lintas iman.
“Seluruhnya yang sudah terkonfirmasi dari Surabaya ada 21 bus. Kami transit dulu di Kantor Majelis Agung GKJW Wilayah Jawa Timur Kota Malang sebelum nantinya kami akan berangkat dari sini jalan kaki ke Stadion Gajayana,” ujar Thoriq.
Ia menambahkan bahwa proses komunikasi hingga penggunaan lokasi transit tersebut terjalin melalui koordinasi antara pengurus PCNU Kota Surabaya dengan pihak GKJW. Jemaah yang berangkat berasal dari 31 kecamatan di Surabaya, masing-masing diorganisasi oleh koordinator kecamatan.
Persaudaraan yang Kuat antara NU dan GKJW
Menurut Ketua Majelis Agung GKJW, Pendeta Natanael Hermawan, penerimaan jemaah Nahdliyin bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar merawat persaudaraan lintas iman yang telah terjalin lama. Ia menyebut bahwa kedekatan historis antara NU dan GKJW bisa dilihat dari lahirnya kedua organisasi ini di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
NU berdiri pada tahun 1926 di Tebuireng, Jombang, sedangkan GKJW lahir pada tahun 1931 di Mojowarno, Jombang. Meskipun berbeda waktu kelahiran, keduanya memiliki akar sejarah yang saling berdekatan secara waktu maupun geografis.
Selain itu, Kantor Majelis Agung GKJW di Malang juga memiliki nilai historis tersendiri, terutama berkaitan dengan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Gus Dur pernah mengajar di tempat ini selama tujuh tahun, dari 1974 sampai 1981, tentang Teologi Islam atau Islamologi kepada para pendeta,” jelas Pendeta Natanael.
Momentum yang Mengukuhkan Toleransi
Peristiwa transit jemaah NU ini pun disebut sebagai napak tilas persaudaraan para pendahulu. Pihak GKJW ingin meneruskan relasi baik yang sudah dirintis sebelumnya oleh para pendiri. Hal ini bertujuan agar persaudaraan antara NU dan GKJW tetap lestari sebagai sesama anak bangsa, khususnya di Jawa Timur dan Kota Malang.
“Kami punya area sekitar tiga hektare. Karena Malang dingin dan ini malam hari, kami sediakan teh, kopi panas, juga ‘pala pendem’, supaya saudara-saudara Nahdliyin tidak masuk angin,” tambahnya.
Momentum Mujahadah Kubro 1 Abad NU ini menjadi potret hidup toleransi di Malang, ketika perbedaan keyakinan justru menguatkan persaudaraan. Kebersamaan yang tercipta antara NU dan GKJW menjadi bukti bahwa persaudaraan lintas iman dapat terjalin dengan baik, meski memiliki latar belakang yang berbeda.







