Sejarah dan Makna Lapis Legit dalam Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo
Lapis legit, kue tradisional yang terkenal dengan lapisan-lapisannya yang lembut dan rasa manisnya yang menggugah selera, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo. Di meja-meja keluarga Tionghoa, khususnya di kawasan Pasar Gede dan sekitarnya, hidangan ini hampir selalu hadir sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.
Asal Usul Kue Lapis Legit
Sejarah lapis legit bermula pada masa kolonial Belanda sekitar abad ke-19. Dalam buku Jejak Rasa Nusantara karya Fadly Rahman, disebutkan bahwa kue ini awalnya dikenal dengan nama spekkoek, berasal dari bahasa Belanda: spek (lapisan) dan koek (kue). Rebusan awal spekkoek dipengaruhi oleh kue Eropa, terutama kue Hungaria bernama dobshtorte. Namun, ketika dibawa ke Nusantara, resep tersebut mengalami penyesuaian besar-besaran.
Masyarakat lokal menambahkan rempah-rempah khas seperti kayu manis, cengkeh, dan pala, menciptakan cita rasa yang lebih kaya dan sesuai dengan selera Indonesia. Akhirnya, spekkoek lebih dikenal dengan nama lapis legit, merujuk pada tampilannya yang berlapis-lapis dan rasanya yang manis legit.
Identik dengan Imlek di Solo
Di Solo, perayaan Tahun Baru Imlek tidak bisa dilepaskan dari kehadiran lapis legit. Hidangan ini hampir selalu ada di meja perayaan etnis Tionghoa. Bahkan, banyak keluarga yang mewariskan resep lapis legit secara turun-temurun. Rasanya yang manis, teksturnya yang lembut, serta aromanya yang kaya rempah menjadikannya pilihan istimewa untuk momen spesial.
Namun, khusus saat Imlek, lapis legit memiliki makna yang lebih dalam. Bagi masyarakat Tionghoa, setiap hidangan Imlek mengandung filosofi. Lapis legit dipercaya membawa keberuntungan dan rezeki. Lapisan-lapisan pada kue ini dimaknai sebagai simbol rezeki yang berlapis ganda serta kehidupan yang terus meningkat di tahun yang baru.
Simbol Rezeki Berlapis
Semakin banyak lapisan pada lapis legit, semakin besar pula harapan akan kemakmuran. Umumnya, lapis legit klasik memiliki sekitar 18 lapisan atau bahkan lebih, yang melambangkan kelimpahan dan keberuntungan. Makna simbolis inilah yang membuat lapis legit tak tergantikan dalam tradisi Imlek di Solo.
Proses Pembuatan yang Rumit
Di balik tampilannya yang sederhana, lapis legit dibuat melalui proses yang rumit dan membutuhkan ketelatenan tinggi. Bahan-bahan yang digunakan pun tergolong premium, seperti kuning telur dalam jumlah besar, mentega berkualitas, tepung terigu, gula, serta campuran rempah-rempah. Adonan dipanggang lapis demi lapis di dalam oven. Setiap lapisan harus matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan.
Proses ini dapat memakan waktu berjam-jam dan membutuhkan ketelitian agar hasilnya lembut, rapi, dan bebas gelembung udara. Karena proses panjang tersebut, lapis legit memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan kue tradisional lainnya.
Harga Sebanding dengan Kualitas
Bahan berkualitas dan teknik pembuatan yang tidak sederhana membuat harga lapis legit tergolong tinggi. Di pasaran, satu loyang lapis legit dijual dengan kisaran Rp200.000 hingga Rp1.000.000, tergantung ukuran dan kualitas bahan. Untuk versi premium yang menggunakan butter wijsman dan lebih banyak kuning telur, harganya bahkan bisa mencapai jutaan rupiah per loyang.
Meski demikian, menjelang Imlek, permintaan lapis legit di Solo tetap meningkat. Banyak toko kue legendaris kebanjiran pesanan, membuktikan bahwa kue ini bukan hanya simbol kemewahan, tetapi juga bagian dari tradisi yang terus dijaga.
Lapis Legit sebagai Simbol Budaya
Lebih dari sekadar hidangan manis, lapis legit telah menjadi simbol akulturasi budaya, warisan kolonial yang berpadu dengan tradisi Tionghoa dan cita rasa Nusantara yang hingga kini tetap menghangatkan perayaan Imlek di Kota Solo.







