Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tradisi Mahallul Qiyam
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 25 Agustus 2026. Di Indonesia, perayaan ini sering dilakukan dengan berbagai kegiatan yang mencerminkan rasa hormat dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut bisa berupa salawatan, pengajian, atau mendengarkan tausyiah dari para ustaz.
Namun, salah satu hal menarik dalam peringatan Maulid Nabi adalah tradisi Mahallul Qiyam. Tradisi ini biasanya dilaksanakan saat acara besar seperti pengajian akbar atau salawatan bersama. Dalam acara tersebut, jemaah diminta untuk berdiri sambil membaca selawat dan pujian kepada Rasulullah SAW.
Secara bahasa, istilah “Mahallul Qiyam” berarti “tempat atau saat berdiri”. Tradisi ini juga dikenal dengan sebutan marhabanan atau srokalan di beberapa daerah di Indonesia. Biasanya, prosesi Mahallul Qiyam dimulai ketika bacaan maulid sampai pada bagian yang mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, jemaah berdiri dan melantunkan selawat, salah satunya dengan bacaan “Ya Nabi Salam ‘Alaika”.
Bacaan Mahallul Qiyam
Berikut ini adalah beberapa bacaan Mahallul Qiyam yang umum dibacakan dalam Kitab Barzanji atau Kitab Rawi beserta terjemahannya:
- Shalawat dan Marhaban
- Tulisan Arab:
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا
مَرْحَبًا جَدَّ الْحُسَيْنِ، مَرْحَبًا - Bacaan Latin:
Shallallāhu ‘alā Muhammad, shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Marhaban yā marhaban, yā marhaban, marhaban.
Marhaban jaddal Husaini, marhaban. Artinya:
“Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi Muhammad, semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya. Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang. Selamat datang wahai kakek Husain, selamat datang.”Yā Nabī Salām ‘Alayka
- Tulisan Arab:
يَا نَبِي سَلَامٌ عَلَيْكَ
يَا رَسُولُ سَلَمٌ عَلَيْكَ
يَا حَبِيبُ سَلَامٌ عَلَيْكَ
صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ - Bacaan Latin:
Yā nabī salāmun ‘alayka,
yā rasūlu salāmun ‘alayka.
Yā habību salāmun ‘alayka,
shalawātullāhi ‘alayka. Artinya:
“Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu. Wahai Rasul, salam sejahtera untukmu. Wahai kekasih, salam sejahtera untukmu. Semoga selawat Allah tercurah kepadamu.”Asyraqal Badru ‘Alaynā
- Tulisan Arab:
أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُورُ
مِثْلَ حُسْنِكَ مَا رَأَيْنَا
قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُورِ - Bacaan Latin:
Asyraqal-badru ‘alaynā,
fakhtafat minhul-budūru.
Mitsla husnika mā ra’aynā,
qaththu yā wajhas-surūri. - Artinya:
“Purnama telah terbit di atas kami, hingga purnama-purnama lainnya menjadi redup karenanya. Belum pernah kami melihat keindahan seperti keindahanmu, sama sekali, wahai wajah yang penuh kegembiraan.”
- Anta Syamsun Anta Badrun
- Tulisan Arab:
أَنْتَ شَمْسٌ، أَنْتَ بَدْرٌ
أَنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورِ
أَنْتَ إِكْسِيرٌ وَغَالِي
أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُورِ - Bacaan Latin:
Anta syamsun, anta badrun,
anta nūrun fawqa nūri.
Anta iksīrun wa ghālī,
anta mishbāhus-shudūri. Artinya:
“Engkau bagaikan matahari, engkau bagaikan purnama. Engkau adalah cahaya di atas cahaya. Engkau bagaikan obat yang sangat berharga, engkau adalah pelita bagi hati.”Yā Habībī Yā Muhammad
- Tulisan Arab:
يَا حَبِيبِي يَا مُحَمَّدْ
يَا عَرُوسَ الْخَافِقَيْنِ
يَا مُؤَيَّدْ يَا مُمَجَّدْ
يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَيْنِ - Bacaan Latin:
Yā habībī yā Muhammad,
yā ‘arūsal-khāfiqayn.
Yā mu’ayyad yā mumajjad,
yā imāmal-qiblatayn. Artinya:
“Wahai kekasihku, wahai Muhammad. Wahai pengantin Timur dan Barat. Wahai yang mendapat pertolongan, wahai yang dimuliakan. Wahai imam bagi dua kiblat.”Man Ra’ā Wajhaka Yas‘ad
- Tulisan Arab:
مَنْ رَأَى وَجْهَكَ يَسْعَدْ
يَا كَرِيمَ الْوَالِدَيْنِ
حَوْضُكَ الصَّافِي الْمُبَرَّدْ
وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُورِ - Bacaan Latin:
Man ra’ā wajhaka yas‘ad,
yā karīmal-wālidayn.
Hawdhukas-shāfī al-mubarrad,
wirdunā yawman-nusyūri. Artinya:
“Barang siapa memandang wajahmu, niscaya ia berbahagia, wahai manusia yang memiliki kedua orang tua yang mulia. Telagamu yang jernih dan sejuk, adalah tempat yang kami harapkan untuk didatangi pada hari kebangkitan.”Mā Ra’aynāl-‘Īsa Hannat
- Tulisan Arab:
مَا رَأَيْنَا الْعِيسَ حَنَّتْ
بِالسُّرَى إِلَّا إِلَيْكَ
وَالْغَمَامَةُ قَدْ أَظَلَّتْ
وَالْمَلَا صَلُّوا عَلَيْكَ - Bacaan Latin:
Mā ra’aynāl-‘īsa hannat,
bis-surā illā ilayka.
Wal-ghamāmatu qad azhallat,
wal-malā’u shallū ‘alayka. - Artinya:
“Tidak pernah kami melihat unta-unta merindukan perjalanan malam kecuali menuju kepadamu. Awan pun telah menaungimu, dan para malaikat serta penghuni langit berselawat kepadamu.”

Hukum Mahallul Qiyam
Hukum Mahallul Qiyam menjadi persoalan khilafiyah, yaitu perbedaan pendapat di antara ulama. Sebagian ulama membolehkannya, bahkan menganggapnya sebagai tradisi baik selama diisi dengan selawat, zikir, dan penghormatan yang tidak bertentangan dengan syariat. Sebagian ulama lain tidak menganjurkan berdiri karena tidak menemukan perintah khusus dari Al-Qur’an atau hadis untuk melakukannya dalam acara maulid.
Karena itu, sebaiknya persoalan ini tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Orang yang berdiri maupun yang tetap duduk hendaknya tetap menjaga adab, menghormati perbedaan pendapat, dan memusatkan perhatian pada tujuan utama Maulid Nabi: memperbanyak selawat serta meneladani kehidupan Rasulullah SAW.







