Pernyataan Bahlil Lahadalia tentang Kebijakan Harga BBM di Indonesia
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat memprioritaskan kebutuhan rakyat kecil dalam pengambilan keputusan terkait harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan kenegaraan ke Tokyo, Jepang, pada Senin (30/3/2026). Saat ini, harga minyak dunia telah mencapai 115 dolar AS per barel, namun harga BBM subsidi di dalam negeri masih stabil.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah belum menetapkan kebijakan kenaikan harga BBM subsidi. Ia juga meminta masyarakat untuk percaya kepada Presiden dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi rakyat. “Insyaallah atas arahan Bapak Presiden untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hati untuk memperhatikan rakyat kecil. Percayalah nanti tunggu tanggal mainnya Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa untuk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Bahlil.
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah menyebabkan beberapa negara tetangga seperti Thailand, Filipina, dan Australia menaikkan harga BBM. Namun, pemerintah Indonesia tetap berupaya menjaga stabilitas harga BBM subsidi agar daya beli masyarakat tidak terganggu.
Prediksi Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi
Meski harga BBM subsidi tidak naik, harga BBM non-subsidi atau yang digunakan oleh sektor industri diprediksi akan mengalami kenaikan. Berdasarkan prediksi ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, kenaikan harga BBM non-subsidi diperkirakan tidak lebih dari 10 persen.
Harga BBM non-subsidi di Indonesia saat ini masih mengacu pada ketentuan Pertamina Patra Niaga per 1 Maret 2026. Untuk jenis Pertamax, harga mencapai Rp12.300 per liter, sedangkan Pertamax Green (RON 95) seharga Rp12.900 per liter. Solar non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex memiliki harga masing-masing Rp14.200 dan Rp14.500 per liter.
Selain itu, daftar harga BBM dari merek seperti Shell, BP, dan Vivo juga mencerminkan kenaikan harga. Contohnya, harga BBM Shell Super (RON 92) sebesar Rp12.390 per liter dan V-Power Diesel (CN 51) seharga Rp14.620 per liter.
Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Kenaikan Harga BBM
Pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar tidak akan naik hingga akhir 2026. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi masyarakat. Meskipun harga minyak mentah global meningkat akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pemerintah tetap berkomitmen menjaga keberlanjutan subsidi BBM.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN masih tahan meskipun ada kenaikan harga minyak. Dengan asumsi harga minyak saat ini, defisit APBN diperkirakan masih terkendali di bawah 3 persen. Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai opsi untuk menjaga keseimbangan fiskal, seperti optimalisasi penerimaan negara dan efisiensi belanja.
Stok BBM dalam Negeri dan Kesiapan Pemerintah
Pertamina juga menyatakan bahwa tidak ada rencana kenaikan harga BBM dalam negeri. Komisaris PT Pertamina (persero), Hasan Nasbi, menegaskan bahwa pemerintah belum menetapkan kebijakan kenaikan harga BBM. Ia menjelaskan bahwa stok BBM dalam negeri aman hingga 20 hari, dan pemerintah terus memperbarui stok setiap hari.
Hasan juga menekankan bahwa pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menghindari kelangkaan minyak. Ia meminta masyarakat tidak melakukan panic buying dan percaya pada upaya pemerintah dalam menjaga kestabilan pasokan energi.
Tantangan Distribusi Minyak Global
Distribusi minyak global saat ini tengah tersendat akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran, yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Hal ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah Brent dari sekitar 65 dolar menjadi lebih dari 100 dolar per barel. Meski begitu, pemerintah Indonesia tetap berupaya menstabilkan distribusi minyak di dalam negeri.







