Penjelasan OJK tentang Rencana Kenaikan Porsi Investasi di Pasar Modal
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penjelasan terkait rencana kenaikan porsi alokasi investasi di pasar modal bagi industri asuransi dan dana pensiun (dapen). Hal ini menjadi perhatian utama karena potensi besar yang bisa dimanfaatkan oleh kedua sektor tersebut untuk mendukung pertumbuhan pasar modal nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mendorong industri dana pensiun dan asuransi agar lebih agresif dalam berinvestasi di pasar modal. Menurutnya, regulasi yang sudah ada telah memberikan ruang yang cukup bagi kedua industri tersebut untuk mengelola portofolio investasinya dengan baik.
“Kami akan mengoordinasikan untuk mendorong dapen dan asuransi itu bisa investasi lebih agresif. Salah satunya seperti yang dicontohkan Pak Menko atau Menteri Keuangan, ya, di LQ45 dahulu dan tidak di saham-saham yang berisiko tinggi,” ujar Ogi saat ditemui seusai acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) OJK.
Investasi di Instrumen Aman dan Berisiko Rendah
Meskipun Ogi menekankan pentingnya investasi di instrumen berisiko rendah, ia juga menyebut bahwa industri asuransi dan dana pensiun tetap dapat berinvestasi di instrumen yang aman seperti deposito, reksa dana, dan Surat Berharga Negara (SBN). Namun, fokus utamanya adalah pada saham LQ45 sebagai contoh investasi yang relatif stabil dan memiliki likuiditas tinggi.
Ogi optimistis bahwa jika tata kelola dan ekosistem di kedua industri tersebut diperbaiki secara baik, peran mereka sebagai investor institusional akan semakin besar. Ia menegaskan bahwa OJK tidak akan melakukan perubahan apa pun terkait Peraturan OJK (POJK) yang ada dalam konteks mengatur batasan dan mekanisme penempatan dana investasi.
“Kami tidak akan melakukan perubahan apa pun, karena ketentuan yang mengatur batasan investasinya sudah cukup memadai. Cuma bagaimana kok kurang investasi? Itu yang mesti dicarikan solusinya agar lebih menarik. Tentunya yang risiko lebih termonitor dengan baik, misalnya saham LQ45,” tambahnya.
Dukungan dari Pemerintah dan Regulasi yang Lebih Fleksibel
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menjelaskan bahwa peningkatan porsi investasi untuk dapen dan asuransi bertujuan untuk memperkuat likuiditas pasar modal domestik. Ia menyebut bahwa pada tahap awal, penempatan dana investasi dana pensiun dan asuransi akan diarahkan ke saham-saham emiten yang likuid dan memiliki fundamental kuat, yakni LQ45.
“Kami akan membebaskan lagi ke 20%, tetapi di saham-saham yang tidak goreng-gorengan. Mungkin untuk pertama dibatasi di LQ45,” ujar Purbaya. Menurutnya, kenaikan batas investasi tersebut akan langsung diberlakukan ke level 20% tanpa dilakukan secara bertahap.
Selain saham, dana pensiun dan asuransi juga tetap diberi keleluasaan untuk menempatkan dana pada Surat Berharga Negara (SBN). “Bisa juga beli SBN. Itu limit, suka-suka mereka mau beli yang mana,” katanya.
Perhatian terhadap Integritas Pasar Modal
Meski membuka ruang investasi yang lebih besar, Purbaya menekankan bahwa pemerintah tetap memperhatikan aspek integritas pasar modal. Ia menegaskan tidak ingin dana asuransi dan pensiun kembali terpapar praktik manipulasi pasar.
“Saya tidak mau melepaskan asuransi ke pasar yang manipulasi. Itu akan diperbaiki semuanya,” katanya. Purbaya juga menyampaikan bahwa pemerintah akan segera menerbitkan aturan kenaikan batas investasi perusahaan dana pensiun dan asuransi di pasar modal dari sebelumnya 8% menjadi 20% dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Penyusunan PMK tengah dikebut dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan penambahan investasi yang ditempatkan di pasar modal seperti LQ45 nanti, risikonya bisa lebih terkendali.







