Semangat Bandung Kembali Digebrak di Eropa
Angie Natesha Goenadi Go, seorang politisi PDI Perjuangan, menjadi salah satu pembicara utama dalam konferensi internasional “The Rise of Asia 60 Years After Havana” yang diselenggarakan di Paris dan Le Havre, Prancis, pada 18–20 Februari 2026. Konferensi ini bertujuan untuk merefleksikan 60 tahun Konferensi Tricontinental Havana 1966 sekaligus menegaskan kembali relevansi warisan Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955.
Forum akademik yang diselenggarakan oleh Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan Université Le Havre Normandie ini menghadirkan para akademisi dan peneliti dari berbagai belahan dunia, termasuk Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Di hadapan peserta, Angie mempresentasikan makalah dengan judul “From Bandung to Havana: The 1966 Tricontinental Conference and the Evolution of Global South Solidarity”.
Dalam paparannya, Angie menekankan pentingnya membangun kembali solidaritas negara-negara Global South di tengah tantangan geopolitik, ketergantungan ekonomi baru, kolonialisme digital, dan ketidakadilan iklim. Ia menjelaskan bahwa Global South merujuk pada kelompok negara-negara yang umumnya berada di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan sebagian Oseania, termasuk Indonesia. Negara-negara ini memiliki pengalaman sejarah kolonialisme serta tantangan pembangunan ekonomi.
Sejarah Konferensi Bandung dan Havana
Menurut Angie, Konferensi Bandung 1955 yang dipelopori Soekarno menjadi tonggak penting kedaulatan negara-negara Asia-Afrika. Prinsip Dasasila Bandung—menghormati kedaulatan, tidak mencampuri urusan dalam negeri, dan hidup berdampingan secara damai—menjadi benteng diplomasi di era Perang Dingin. Namun, semangat tersebut mengalami pergeseran dalam Konferensi Tricontinental di Havana 1966.
Solidaritas Asia-Afrika-Amerika Latin bergerak dari diplomasi netral menuju sikap lebih konfrontatif melawan imperialisme, terutama di tengah perang Vietnam dan tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba. Meskipun demikian, Angie menegaskan bahwa di tahun 2026, dunia tidak perlu kembali ke konfrontasi permanen seperti 1966. Yang dibutuhkan adalah solidaritas produktif yang mendorong pembangunan ekonomi dan sosial bersama di Global South.
Membangun Tatanan Internasional yang Lebih Adil
Angie mendorong restrukturisasi tatanan internasional yang lebih adil berdasarkan prinsip Bandung, demi mencapai global common good melalui emansipasi, kesetaraan, dan kedaulatan bersama. Ia menekankan bahwa gagasan perdamaian dunia harus kembali pada visi Soekarno melalui Pancasila. Menurutnya, Pancasila menawarkan fondasi damai yang inklusif, menjunjung kemanusiaan, persatuan, demokrasi, gotong royong, keadilan sosial, dan perdamaian abadi.
“Semangat Bandung lahir dari Indonesia, dan Pancasila adalah jawaban untuk membangun dunia yang berkelanjutan, adil, dan damai di abad ini,” ujarnya.
Peserta dan Relevansi Konferensi
Konferensi tersebut diikuti ratusan peserta secara luring dan daring. Hadir pula Guru Besar St. Petersburg University Prof Connie Rahakundini Bakrie, diplomat senior Darmansjah Djumala, serta peneliti dan sejarawan Baskara Wardaya. Kehadiran Angie dinilai menjadi pengingat bahwa warisan Bandung tetap relevan di tengah dunia multipolar yang terus berubah.
Masa Depan Solidaritas Global South
Dalam penutup paparannya, Angie menegaskan bahwa solidaritas antar negara-negara Global South harus diperkuat agar mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia menyarankan adanya kerja sama yang lebih intensif dalam bidang ekonomi, teknologi, dan lingkungan. Dengan membangun kembali semangat Bandung, negara-negara di Global South dapat menciptakan sistem internasional yang lebih adil dan berkelanjutan.







