Sejarah dan Peran Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto
Kelenteng Hok Tek Bio, sebuah bangunan tempat ibadah etnis Tionghoa yang berada di sebelah utara Pasar Wage Purwokerto, Kabupaten Banyumas, memiliki keunikan arsitektur yang menarik perhatian. Pintu masuknya khas dengan dua patung naga yang saling berhadapan di tengah bola api, sementara seluruh bangunan berwarna merah yang menjadi ciri khas tempat peribadatan etnis Tionghoa.
Kelenteng ini memiliki usia hampir dua abad, berdiri sejak tahun 1831. Nama kelenteng tersebut berasal dari kata “Hok Tek Bio”, yang merupakan salah satu dari tiga agama yang dianut oleh jemaatnya, yaitu Konghucu, Taoisme, dan Buddha. Jumlah jemaat aktif mencapai 100 orang, namun jumlah tersebut meningkat saat ada perayaan atau ibadah tertentu.
Awal Mula Kelenteng sebagai Pendopo
Ketua Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto, Suryana (68), menjelaskan bahwa awal mula bangunan ini adalah pendopo, yaitu tempat berkumpulnya etnis Tionghoa di Purwokerto. Lokasinya dekat dengan pasar yang sekarang dikenal sebagai Pasar Wage.
Menurut Suryana, hampir semua kelenteng berada di dekat pusat keramaian seperti pasar. Di kota-kota pesisir, lokasi kelenteng biasanya tidak jauh dari tempat pelelangan ikan. Ia mengatakan, nenek moyang mereka datang bukan untuk menyebarkan agama, tetapi hanya mencari kehidupan yang lebih baik, sehingga banyak memilih tempat-tempat yang ramai.
Dulunya, ukuran kelenteng ini hanya sekitar 6×20 meter. Suryana sendiri mulai aktif di kelenteng pada tahun 1975. Saat itu, kondisinya tidak terpelihara dan banyak bagian yang ambruk. Meskipun berdiri sejak 1831, kelenteng ini telah mengalami renovasi hingga tiga kali, terakhir pada tahun 1987.
Dampak Inpres 14/1967
Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto menjadi saksi atas termarginalkannya etnis Tionghoa selama masa Orde Baru. Selama 32 tahun, kelenteng ini terlantar dan tidak terurus setelah keluarnya Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang semua kegiatan perayaan Imlek. Bahkan, etnis Tionghoa harus bersembunyi saat melakukan sembahyang.
Suryana mengingat bahwa banyak bagian kelenteng yang ambruk karena tidak terpelihara. Pada masa itu, segala sesuatu yang berbau etnis Tionghoa dibatasi, termasuk sekolah yang tidak boleh beroperasi dan tidak boleh tercatat dalam KTP. Namun, ia bersyukur bahwa di Banyumas tidak terjadi kerusuhan seperti di kota lain.
Keberhasilan Bersama dan Hubungan dengan Gus Dur
Suryana mengatakan bahwa sampai saat ini, etnis keturunan Tionghoa di Purwokerto tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Mereka bisa berbaur dengan umat Islam maupun Pemerintah Kabupaten Banyumas. Menurutnya, hubungan dengan lingkungan cukup baik, termasuk dengan pemerintah setempat.
Sebagai etnis Tionghoa, Suryana sangat berterima kasih kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia bahkan memasang foto wajah Gus Dur di ruangnya di Kelenteng Hok Tek Bio sejak tahun 2005. Menurutnya, Gus Dur adalah sosok yang plural dan sangat berjasa karena mencabut Inpres 14/1967 dan menggantinya dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.
Kelenteng Hok Tek Bio juga memiliki kedekatan dengan sosok dan keluarga Gus Dur. Suryana pernah diundang untuk menghadiri Mukmatar NU di Surabaya. Kemudian, Gus Dur pernah datang ke Purwokerto dan disambut oleh barongsai pada tahun 2005.
Tiap bulan puasa, Ibu Sinta Nuriyah (istri Gus Dur) dua kali datang ke Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto. Mereka menjadi tuan rumah sahur keliling. Suryana dan anak-anaknya juga sering berziarah ke makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur. Sampai saat ini, makam Gus Dur tidak pernah sepi.
Suryana selalu mengingatkan generasi muda dan anak-anaknya untuk tidak lupa jasa-jasanya. Ia mengatakan, “Jika minum air, kita harus ingat sumber airnya dari mana.”







