Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Ibadah: Penghubung Jiwa Manusia dengan Allah, Kata Prof Muhibbuththabary

    25 April 2026

    7 cara meraih sensasi bahagia saat berlari

    25 April 2026

    PLN tingkatkan K3 untuk listrik andal dan aman bagi masyarakat

    25 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 25 April 2026
    Trending
    • Ibadah: Penghubung Jiwa Manusia dengan Allah, Kata Prof Muhibbuththabary
    • 7 cara meraih sensasi bahagia saat berlari
    • PLN tingkatkan K3 untuk listrik andal dan aman bagi masyarakat
    • Respons Mawa Terkait Dugaan Perzinaan Inara Rusli dengan Insanul Fahmi
    • Jadwal Final Proliga 2026: Live Megawati, Gresik vs Pertamina dan Lavani vs Bhayangkara
    • Pelaku usaha RI bidik kolaborasi strategis dengan China untuk ekonomi masa depan
    • DPRD Lampung Tengah Minta Dishub Cabut Izin Proyek PT Angel Yeast
    • Pekerjaan Terlupakan: Menagih Janji Pemulihan Ekonomi di Batu Busuk Padang
    • Air panas atau air dingin, yang lebih baik untuk pencernaan?
    • Resmi Dimulai! MAXI Tour Boemi Nusantara 2026 Jelajahi Indonesia dari Barat ke Timur
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kuliner»Berusia Hampir 2 Abad, Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto Jadi Bukti Pengabaian Etnis Tionghoa

    Berusia Hampir 2 Abad, Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto Jadi Bukti Pengabaian Etnis Tionghoa

    adm_imradm_imr16 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Sejarah dan Peran Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto

    Kelenteng Hok Tek Bio, sebuah bangunan tempat ibadah etnis Tionghoa yang berada di sebelah utara Pasar Wage Purwokerto, Kabupaten Banyumas, memiliki keunikan arsitektur yang menarik perhatian. Pintu masuknya khas dengan dua patung naga yang saling berhadapan di tengah bola api, sementara seluruh bangunan berwarna merah yang menjadi ciri khas tempat peribadatan etnis Tionghoa.

    Kelenteng ini memiliki usia hampir dua abad, berdiri sejak tahun 1831. Nama kelenteng tersebut berasal dari kata “Hok Tek Bio”, yang merupakan salah satu dari tiga agama yang dianut oleh jemaatnya, yaitu Konghucu, Taoisme, dan Buddha. Jumlah jemaat aktif mencapai 100 orang, namun jumlah tersebut meningkat saat ada perayaan atau ibadah tertentu.

    Awal Mula Kelenteng sebagai Pendopo

    Ketua Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto, Suryana (68), menjelaskan bahwa awal mula bangunan ini adalah pendopo, yaitu tempat berkumpulnya etnis Tionghoa di Purwokerto. Lokasinya dekat dengan pasar yang sekarang dikenal sebagai Pasar Wage.

    Menurut Suryana, hampir semua kelenteng berada di dekat pusat keramaian seperti pasar. Di kota-kota pesisir, lokasi kelenteng biasanya tidak jauh dari tempat pelelangan ikan. Ia mengatakan, nenek moyang mereka datang bukan untuk menyebarkan agama, tetapi hanya mencari kehidupan yang lebih baik, sehingga banyak memilih tempat-tempat yang ramai.

    Dulunya, ukuran kelenteng ini hanya sekitar 6×20 meter. Suryana sendiri mulai aktif di kelenteng pada tahun 1975. Saat itu, kondisinya tidak terpelihara dan banyak bagian yang ambruk. Meskipun berdiri sejak 1831, kelenteng ini telah mengalami renovasi hingga tiga kali, terakhir pada tahun 1987.

    Dampak Inpres 14/1967

    Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto menjadi saksi atas termarginalkannya etnis Tionghoa selama masa Orde Baru. Selama 32 tahun, kelenteng ini terlantar dan tidak terurus setelah keluarnya Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang semua kegiatan perayaan Imlek. Bahkan, etnis Tionghoa harus bersembunyi saat melakukan sembahyang.

    Suryana mengingat bahwa banyak bagian kelenteng yang ambruk karena tidak terpelihara. Pada masa itu, segala sesuatu yang berbau etnis Tionghoa dibatasi, termasuk sekolah yang tidak boleh beroperasi dan tidak boleh tercatat dalam KTP. Namun, ia bersyukur bahwa di Banyumas tidak terjadi kerusuhan seperti di kota lain.

    Keberhasilan Bersama dan Hubungan dengan Gus Dur

    Suryana mengatakan bahwa sampai saat ini, etnis keturunan Tionghoa di Purwokerto tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Mereka bisa berbaur dengan umat Islam maupun Pemerintah Kabupaten Banyumas. Menurutnya, hubungan dengan lingkungan cukup baik, termasuk dengan pemerintah setempat.

    Sebagai etnis Tionghoa, Suryana sangat berterima kasih kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia bahkan memasang foto wajah Gus Dur di ruangnya di Kelenteng Hok Tek Bio sejak tahun 2005. Menurutnya, Gus Dur adalah sosok yang plural dan sangat berjasa karena mencabut Inpres 14/1967 dan menggantinya dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.

    Kelenteng Hok Tek Bio juga memiliki kedekatan dengan sosok dan keluarga Gus Dur. Suryana pernah diundang untuk menghadiri Mukmatar NU di Surabaya. Kemudian, Gus Dur pernah datang ke Purwokerto dan disambut oleh barongsai pada tahun 2005.

    Tiap bulan puasa, Ibu Sinta Nuriyah (istri Gus Dur) dua kali datang ke Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto. Mereka menjadi tuan rumah sahur keliling. Suryana dan anak-anaknya juga sering berziarah ke makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur. Sampai saat ini, makam Gus Dur tidak pernah sepi.

    Suryana selalu mengingatkan generasi muda dan anak-anaknya untuk tidak lupa jasa-jasanya. Ia mengatakan, “Jika minum air, kita harus ingat sumber airnya dari mana.”

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Air panas atau air dingin, yang lebih baik untuk pencernaan?

    By adm_imr25 April 20262 Views

    Banting Setir Jadi Chef, Ummurais Culinary Melesat

    By adm_imr25 April 20261 Views

    Daftar Harga Bahan Pokok Pasar Bersehati Manado 18 April 2026: Harga Rica dan Daging

    By adm_imr25 April 20263 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Ibadah: Penghubung Jiwa Manusia dengan Allah, Kata Prof Muhibbuththabary

    25 April 2026

    7 cara meraih sensasi bahagia saat berlari

    25 April 2026

    PLN tingkatkan K3 untuk listrik andal dan aman bagi masyarakat

    25 April 2026

    Respons Mawa Terkait Dugaan Perzinaan Inara Rusli dengan Insanul Fahmi

    25 April 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?