Peran Big Travel dalam Acara Jalan Sehat HUT ke-80 RI
Pemilik Big Travel Cabang Purwokerto, Lina Diah Novitasari, menjelaskan bahwa hadiah umrah bagi pemenang jalan sehat hingga kini belum terealisasi karena pihak travel hanya berperan sebagai biro yang ditunjuk panitia, bukan sebagai pemberi hadiah. Menurut Lina, awalnya panitia acara jalan sehat HUT ke-80 RI di Kabupaten Banyumas mendatangi kantornya dan bertemu dengan suaminya, Daryanto.
Saat itu, panitia meminta bantuan dana untuk penyelenggaraan acara jalan sehat di Menara Teratai, Purwokerto. “Panitia datang ke sini, ketemu suami saya, Pak Daryanto. Mereka minta tolong untuk pinjaman dana, bukan mengajak sebagai panitia. Katanya nanti Big Travel dilibatkan karena ada hadiah umrah, dan pemenangnya akan diberangkatkan lewat Big Travel,” ujarnya saat ditemui Infomalangraya.com, Kamis (12/2/2026).
Lina mengaku sempat menolak rencana kerjasama tersebut. Ia menilai kegiatan berskala besar dengan membawa nama pemerintah daerah (Pemkab) seharusnya memiliki pendanaan yang jelas, bukan justru meminjam uang untuk operasional awal. “Saya sempat menolak. Event sebesar itu pakai brand Pemda, kok tidak ada dana, malah mau pinjam uang untuk operasional awal seperti cetak tiket. Menurut saya itu riskan,” katanya.
Namun setelah terjadi diskusi internal, suaminya akhirnya setuju membantu dengan alasan ingin melakukan branding Big Travel melalui acara tersebut. Pinjaman dana pun diberikan secara bertahap kepada panitia. Menurut Lina, seluruh transaksi memiliki bukti dan ditandatangani oleh pihak panitia jalan sehat HUT ke-80 RI atas nama Dimas dan Sena. Total pinjaman dari Biro Big Travel yang diberikan mencapai Rp70 juta untuk operasional awal, dengan alasan untuk pencetakan tiket.
Selain itu, Big Travel juga diminta membantu berbagai pengadaan seperti kaos dan tas hoodie. “Kami diminta bantu cetak kaos Rp20 juta, lalu tas hoodie Rp2 juta 80 ribu. Big Travel mengeluarkan dana untuk itu semua. Bahkan untuk tenda booth kami sendiri juga bayar sendiri Rp3,5 juta,” jelasnya.
Pada malam sebelum acara, Lina datang ke lokasi untuk mengecek kesiapan. Ia melihat mobil Honda Brio dan sepeda motor yang dipajang sebagai hadiah utama, sehingga merasa acara tersebut aman. Keesokan paginya, Lina diminta datang ke Menara Teratai karena Sekda Banyumas dijadwalkan hadir ke stand Big Travel.
Saat itu, pemenang hadiah umroh adalah seorang warga Desa Keniten bernama Noviyanti. Pemenang kemudian datang ke lokasi untuk berfoto di booth Big Travel. Namun pada malam harinya, Noviyanti menghubungi Lina dan menyatakan ingin membatalkan hadiah umroh serta menanyakan kemungkinan hadiah tersebut diuangkan. “Saya sampaikan tidak bisa, karena kami hanya memfasilitasi keberangkatan. Yang memberikan hadiah itu panitia, bukan kami,” kata Lina.
Menurutnya, panitia bahkan belum memberikan dana satu rupiah pun kepada Big Travel untuk keberangkatan pemenang. Panitia sempat menyarankan agar pemenang mencari pengganti dari kerabat, di mana pengganti tersebut nantinya membayar sejumlah uang kepada pemenang, yaitu Noviyanti. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan dari panitia. “Saya hubungi Dimas, disuruh cari pengganti. Tapi panitia juga tidak memberi kejelasan. Saya hubungi Pak Sena juga tidak pernah dibalas. Jadi kami memang tidak bisa memberangkatkan karena tidak ada uang masuk dari panitia,” ujarnya.
Rencana awal, pemenang akan diberangkatkan pada keberangkatan tanggal 7 Januari 2026. Namun hingga waktu tersebut, dana dari panitia tetap tidak ada. “Satu rupiah pun belum masuk ke Big Travel terkait pemenang itu,” tegasnya.
Terkait komunikasi dengan pemenang, Lina mengatakan bahwa Noviyanti sempat datang ke kantor bersama saudaranya yang siap menjadi pengganti. Namun, pemenang tetap mengejar panitia, bukan pihak travel, karena memahami posisi Big Travel hanya sebagai penyedia jasa. Lina juga menuturkan, selama persiapan acara, pihaknya banyak membantu panitia, termasuk menyediakan tempat untuk rapat dan konsumsi, tanpa perhitungan biaya.
Ia mengaku percaya pada acara tersebut karena menggunakan logo pemerintah daerah dan pejabat. “Saya pikir ini acara Pemkab Banyumas, karena ada logo bupati dan sekda. Bahkan sempat ada rencana buat kedepan ada promo umroh bersama Sekda,” katanya.
Selain pinjaman Rp70 juta, pihaknya juga mengeluarkan dana Rp15 juta sebagai uang muka (DP) mobil hadiah. Total pinjaman tersebut disertai perjanjian pengembalian satu minggu setelah acara. “Total pinjaman Rp70 juta ditambah Rp15 juta DP mobil. Itu jelas pinjaman, bukan sponsor. Ada komitmen pengembalian satu minggu setelah acara,” ujarnya.
Namun hingga kini, uang tersebut belum dikembalikan. Lina mengaku sudah berkonsultasi terkait langkah hukum, meski sebelumnya masih mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan. “Sudah konsultasi. Awalnya kami tahan dulu karena mau diselesaikan kekeluargaan. Katanya sedang diusahakan, bahkan sampai mau jual tanah,” katanya.
Ia menambahkan, dalam pembicaraan awal, panitia hanya menganggarkan biaya umrah sekitar Rp25 – 30 juta. “Panitia bilang anggarannya Rp25 juta sampai maksimal Rp30 juta,” ucapnya.







