Perang Pasar Otomotif Global: China Berusaha Mengakuisisi Pabrik Nissan-Mercedes-Benz di Meksiko
Pabrikan mobil asal Tiongkok, BYD dan Geely, dikabarkan menjadi kandidat terkuat dalam proses akuisisi pabrik Nissan-Mercedes-Benz yang berada di Aguascalientes, Meksiko. Langkah ini bukan sekadar pembelian pabrik kosong, melainkan bagian dari strategi besar untuk memperkuat posisi mereka di pasar global.
Sebanyak sembilan perusahaan telah menyatakan minat untuk mengakuisisi pabrik tersebut, termasuk Chery dan Great Wall Motor. Namun, menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, BYD dan Geely menjadi kandidat terkuat, dengan VinFast dari Vietnam sebagai finalis ketiga. Meskipun demikian, para produsen tersebut belum memberikan komentar resmi terkait kabar ini.
Pabrik tersebut dianggap sebagai aset strategis dengan nilai jangka panjang. Kehadiran produsen Tiongkok dalam proses akuisisi ini bisa mengubah lanskap industri otomotif Meksiko. Selama beberapa dekade, pabrik-pabrik di negara ini didominasi oleh merek-merek dari Amerika, Jepang, dan Eropa. Kini, produsen Asia Timur siap mengambil alih panggung.
Namun, situasi tidak selesai hanya dengan jual beli biasa. Pemerintah Meksiko berada dalam dilema. Di satu sisi, investasi baru berarti lapangan kerja dan napas segar bagi industri yang terpukul oleh tarif. Di sisi lain, produksi mobil Tiongkok di Meksiko bisa memicu reaksi keras dari Washington.
Beberapa tahun terakhir, pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif 25 persen untuk mobil buatan Meksiko, yang secara efektif menutup pintu bagi kendaraan Tiongkok masuk ke pasar AS. Bahkan, Trump menuding Meksiko menjadi “jalur belakang” produk Tiongkok menuju Amerika. Tekanan ini membuat pemerintah Meksiko bergerak hati-hati.
Mereka tidak bisa memblokir investasi, tetapi sumber pemerintah menyebut bahwa pejabat kementerian ekonomi secara informal mendorong otoritas negara bagian untuk menunda investasi produsen mobil Tiongkok hingga negosiasi perdagangan Amerika Utara rampung.
Tarif tinggi itu justru mendorong produsen Tiongkok mempertimbangkan produksi lokal. Tahun lalu, Meksiko mengenakan tarif 50 persen untuk mobil dan barang Tiongkok. Alih-alih mundur, sejumlah pabrikan memilih opsi lebih strategis, yakni membangun atau membeli fasilitas produksi di dalam negeri.
Di sisi lain, industri otomotif Meksiko sedang tidak baik-baik saja. Pada 2024, sebanyak 2,8 juta dari 4 juta kendaraan penumpang yang diproduksi di Meksiko dikirim ke AS. Ketergantungan ini membuat industri ini sangat rentan terhadap kebijakan tarif Washington.
Dampaknya mulai terasa. Ekspor kendaraan ke AS turun hampir 3 persen pada 2025. Sekitar 60.000 pekerjaan di sektor otomotif Meksiko hilang tahun lalu. Bahkan data federal AS menunjukkan 17.000 pekerjaan otomotif lenyap sejak Januari 2025.
Presiden Asosiasi Industri Otomotif Meksiko (AMIA) Rogelio Garza memperkirakan penurunan yang lebih tajam tahun ini jika tarif tetap berlaku. “Kita tidak bisa terus seperti ini,” kata Garza. “Saat ini, lebih murah mengirim mobil ke AS dari Eropa dan Asia daripada dari Meksiko.”
Pabrik Nissan-Mercedes di Aguascalientes menjadi simbol tekanan tersebut. Mercedes memindahkan produksi GLB ke Hongaria, sementara Nissan menghentikan produksi Infiniti QX50 dan QX55 yang penjualannya lesu. Kombinasi restrukturisasi global dan tarif menjadi pukulan terakhir bagi fasilitas ini.
Padahal pabrik tersebut bukan fasilitas kecil. Dibuka pada 2017, kapasitas produksinya mencapai 230.000 unit per tahun. Fasilitasnya modern, tenaga kerjanya terampil, dan infrastruktur logistiknya sudah mapan. Bagi calon pembeli, ini paket lengkap tanpa perlu membangun dari nol.
Bagi BYD dan Geely, Meksiko bukan sekadar pasar, tapi pintu masuk strategis ke Amerika Latin. Penjualan mobil Tiongkok di Meksiko sendiri melonjak dari nol pada 2020 menjadi sekitar 10 persen untuk pangsa pasar tahun lalu. Dengan total pasar sekitar 1,5 juta unit per tahun, potensinya besar.
Secara global, momentum industri otomotif Tiongkok memang sedang di puncak. Penjualan BYD melonjak sepuluh kali lipat sejak 2020. Geely juga mencatatkan pertumbuhan dua kali lipat. Tahun lalu, masing-masing menjual lebih dari 4 juta kendaraan, nyaris setara dengan Ford.
Ambisi ekspansi itu tentu tak lepas dari restu Beijing. Produsen Tiongkok harus mendapatkan persetujuan pemerintah pusat untuk investasi pabrik di luar negeri. Sejauh ini, kementerian perdagangan Tiongkok disebut mengetahui minat tersebut dan belum mengajukan keberatan.
BYD sebelumnya sempat merencanakan pembangunan pabrik baru di Meksiko, tetapi proses birokrasi yang panjang disebut menjadi kendala. Mengakuisisi fasilitas yang sudah berdiri jelas lebih cepat dan efisien.
Di tingkat lokal, sejumlah pihak melihat peluang besar. Konsultan bisnis Victor Gonzalez menilai investasi Tiongkok bisa menjadi suntikan penting bagi ekonomi daerah. “Terlepas dari politik, hampir semua negara bagian di Meksiko terbuka untuk investasi, manufaktur, dan perekrutan tenaga kerja lokal oleh produsen mobil Tiongkok,” ujarnya.
Jika akuisisi ini terealisasi, BYD atau Geely tidak hanya mendapatkan kapasitas produksi instan, tetapi juga posisi strategis di tengah pusaran geopolitik otomotif global. Ini bukan cuma soal produksi mobil, tapi soal siapa yang menguasai peta manufaktur baru di era kendaraan listrik dan hybrid.
Persaingan dua raksasa Tiongkok ini pun menjadi babak baru ekspansi global industri otomotif Negeri Tirai Bambu. Siapa yang akhirnya membawa pulang pabrik Aguascalientes? Jawabannya bisa menentukan arah industri otomotif Meksiko, bahkan Amerika Latin, dalam beberapa tahun ke depan.







