Pengalaman Obi, Pemuda Makassar yang Magang di Hotel Mewah Abu Dhabi
Obi, seorang pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, kini tengah menjalani magang sebagai pramusaji di Hotel St. Regis Saadiyat Resort, Saadiyat Island, Abu Dhabi. Meskipun usianya masih 24 tahun, ia telah membuktikan dirinya mampu menghadapi tantangan besar dalam lingkungan kerja yang sangat berbeda dari Indonesia.
Tantangan Awal: Perbedaan Suhu dan Budaya
Saat pertama kali tiba di Dubai pada musim panas, suhu ekstrem menjadi salah satu hal terberat yang ia hadapi. Di sana, suhu bisa mencapai 45 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dari rata-rata suhu di Indonesia yang sekitar 31 derajat Celsius. Obi mengakui bahwa perubahan cuaca ini membuatnya kesulitan untuk beradaptasi. Bahkan, malam hari saja, ia merasa sulit bernapas karena panas yang luar biasa.
“Malas banget kalau mau turun ke bawah buat merokok karena terlalu panas,” cerita Obi sambil tertawa saat sedang menjalankan tugasnya sebagai pramusaji di hotel tersebut.
Perubahan suhu ekstrem dari panas yang menyengat hingga dingin menusuk tulang juga memengaruhi daya tahan tubuhnya. Awalnya, ia harus memakai banyak lapisan pakaian agar tetap hangat. Namun, setelah dua minggu bekerja, tubuhnya mulai terbiasa dengan kondisi baru.
Meski begitu, pengalaman hidup di UEA memberikan manfaat finansial yang cukup menarik. Meskipun biaya hidup di sini jauh lebih mahal dibandingkan Indonesia, hanya sekitar 30 persen dari gaji yang diterima Obi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ini merupakan angka yang jarang ditemukan di kota-kota besar di Indonesia.
Perbedaan Budaya Kerja: Skill Lebih Dihargai
Selain tantangan fisik, Obi juga mengungkapkan perbedaan budaya kerja antara Indonesia dan UEA. Ia menyebutkan bahwa di Indonesia, banyak anak muda cenderung minder ketika melamar pekerjaan. Syarat seperti penampilan fisik atau tinggi badan sering dianggap sebagai hal penting.
Di UEA, khususnya di Abu Dhabi, Obi merasa diterima tanpa dinilai dari tampilan fisik. Ia menekankan bahwa di tempat kerjanya, kemampuan dan pengetahuan lebih diutamakan. Setiap pekerja dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan skill-nya setiap hari.
“Di sini, tekanan kerjanya jauh lebih keras dibanding di Indonesia. Kita harus terus bergerak, mulai dari target up-selling sampai urusan meyakinkan pelanggan,” ujar Obi.
Bagi Obi, lingkungan seperti ini justru membuatnya merasa dihargai sebagai pekerja yang memiliki kemampuan. Meski ada dinamika sosial antar-negara, ia tidak menyangkal adanya perbedaan dalam cara berinteraksi.
Mimpi di Eropa: Menjajaki Cakrawala Baru
Meski sudah mulai nyaman dengan ritme kerja di Dubai, jiwa petualang Obi belum terpuaskan. Ia pernah tinggal selama tiga tahun di Bali, namun kini ingin mencoba pengalaman baru di Eropa.
Setelah lulus kuliah, Obi berencana melanjutkan karier ke Kroasia atau Hungaria. Alasan utamanya adalah infrastruktur dan suasana hidup yang berbeda dari apa yang ia alami di UEA. Meski ia tahu akan kembali menghadapi suhu dingin ekstrem, ia tetap antusias untuk mencoba.
“Aku ingin ke Kroasia atau Budapest. Bukan semata soal nilai mata uang, tapi juga suasana hidup yang berbeda,” kata Obi.
Ia menambahkan bahwa tujuannya adalah untuk menjajaki kehidupan di luar negara yang ia tinggali sekarang. “Aku sih mau tinggal di Eropa. Lebih tepatnya mungkin Kroasia atau Budapest. Pertama karena mata uang, kedua karena suasananya,” pungkasnya.







