Kehadiran Duta Besar Indonesia di Kuala Lumpur
Di sebuah hotel di pusat Kuala Lumpur, Selasa petang 24 Februari 2026, suasana sedang memasuki waktu berbuka puasa. Di ruang pertemuan yang hangat, seorang pria berkemeja batik berdiri menyambut tamu-tamu yang datang. Salaman erat, tanya kabar, dan tukar kartu nama mengisi ruang sebelum azan Maghrib berkumandang. Pria itu adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Malaysia, Dato’ Mohammad Iman Hascarya.
Usianya baru sebulan di Kuala Lumpur. Tepatnya, sebulan efektif bertugas sebagai duta besar. Maka acara iftar Ramadhan bersama media arus utama Malaysia ini bukan sekadar buka puasa biasa. Ia adalah perkenalan, ajang saling menatap mata, dan yang paling penting: mengosongkan gelas untuk kemudian diisi kembali dengan persahabatan.
Ada belasan wartawan senior yang hadir. Dari BERNAMA, kantor berita nasional Malaysia, hingga Malaysia Kini, Berita Harian, Free Malaysia Today, dan New Straits Times. Mereka duduk bersila, melepas penat setelah seharian bekerja, menyambut undangan KBRI yang sejak lama dikenal sebagai kedutaan paling terbuka bagi media lokal.
“Saya Alyaa dari Malaysia Kini. Fokus kami terkait Indonesia kebanyakan tentang pekerja migran. Kami sering bekerja sama dengan media Indonesia,” ujar Alyaa Alhadjri memperkenalkan diri akhir Februari lalu. Matanya bersemangat, seperti lautan isu yang menanti untuk digali.
Nazmi Yaakub dari Berita Harian pun angkat bicara. “Duta-duta lain banyak yang mengirimkan tulisan ke media kami. Duta AS, Duta China. Kalau Dato’ Iman mau menjadi kontributor, silakan saja,” katanya berseloroh, disambut tawa ringan para hadirin.
Dubes Iman mendengarkan dengan saksama. Di wajahnya terlihat ketulusan seorang diplomat yang paham betul: di negara demokrasi, media adalah jembatan yang tak bisa diabaikan. Apalagi di Malaysia, negeri serumpun yang hubungannya dengan Indonesia bagaikan air dan telaga, kadang jernih, kadang beriak, tapi tak pernah kering.
Kehadiran Diplomat dalam Pertemuan
Saat azan Maghrib berkumandang, semua beranjak menuju surau hotel. Suara takbir bergema, menggetarkan jiwa yang seharian menahan dahaga. Seusai shalat, mereka kembali ke ruang makan. Hidangan prasmanan telah tersaji: bubur lambuk yang legendaris, sate yang mengepul, kari kepala ikan tradisi yang menggoda, kerabu sotong, ayam goreng, roti john, martabak, hingga tempe goreng, sengaja dihadirkan sebagai pengingat rasa kampung halaman.
Dubes Iman memulai menu berbukanya dengan martabak dan gorengan. Sederhana, seperti cara diplomat ini membangun hubungan: tanpa pretensi, tanpa jarak. Sementara para wartawan menyantap kari daging dan sate, percakapan kembali mengalir. Gelas-gelas berisi teh tarik, kopi, dan jus menemani diskusi yang kian hangat.
“Sudah pusing belum, Dato’, sebulan jadi duta besar?” tanya seorang wartawan iseng.
Dubes Iman tertawa lepas. “Saya suka dengan tugas saya. I like what I do,” jawabnya. “Lagipula, Malaysia ini istimewa. Negara peringkat empat besar investor di Indonesia. Bahasa kita sama, adat kita sama. Jadi tidak asing.”
Ia kemudian bercerita tentang program prioritas Presiden Prabowo Subianto: Makan Bergizi Gratis (MBG). Puluhan juta menu telah didistribusikan. Ada badan khusus yang mengawasi higienitas dan distribusi. Media Malaysia menyimak dengan antusias. Bagi mereka, ini bukan sekadar berita, tapi potongan mozaik hubungan dua negara yang saling memengaruhi.
Percakapan bergeser ke isu yang lebih konkret. Rencana pengiriman tenaga perawat Indonesia ke Malaysia mengemuka. “Ada permintaan untuk suplai perawat. Soal kehamilan, Indonesia punya pengalaman karena penduduk kami banyak,” kata Dubes Iman, disambut anggukan para wartawan yang paham betul urgensi isu ini di negara mereka.
Isu perlindungan pekerja migran Indonesia pun tak luput dari diskusi. Tiga appendix sebagai jalan keluar amandemen perjanjian penempatan tenaga kerja Indonesia di Malaysia, sebuah topik rumit yang disampaikan dengan bahasa sederhana, agar semua paham bahwa di balik angka-angka statistik, ada jutaan WNI yang menanti kepastian.
Di sinilah letak keistimewaan malam itu. Bukan sekadar buka puasa, tapi pertemuan dua pilar demokrasi: perwakilan negara dan representasi media. Keduanya duduk setara, sama-sama mengosongkan gelas ego, sama-sama membuka ruang untuk saling mengisi. Filosofi timur kuno tentang “mengosongkan gelas” terwujud dalam balutan santap malam yang hangat.
Seorang wartawan senior Malaysia berbisik kepada rekannya, “KBRI ini beda. Mereka paling terbuka.” Mungkin itulah modal terbesar diplomasi Indonesia di negeri jiran: keterbukaan yang dilandasi ketulusan, bukan sekadar protokol.
Malam semakin larut. Sesi foto bersama mengakhiri pertemuan. Namun benang-benang persahabatan yang dirajut malam itu, di atas piring-piring berisi sate dan bubur lambuk, akan terus terjalin lama setelah lampu hotel dipadamkan. Karena diplomasi sejati tak pernah berhenti di ruang pertemuan resmi. Ia hidup dalam setiap percakapan, dalam setiap gelas teh tarik yang dihidangkan, dan dalam setiap tawa yang berbaur dengan doa.
Selamat berbuka, selamat berpuasa. Dan selamat merajut persaudaraan, karena pada akhirnya, hubungan Indonesia-Malaysia bukanlah urusan meja-meja perundingan semata. Ia adalah urusan hati, yang harus dirawat dengan kehangatan seperti malam-malam Ramadhan di Kuala Lumpur ini.







