Peningkatan Kunjungan Wisata di Belitung Timur Saat Liburan Idulfitri
Di pesisir selatan, gulungan ombak yang menghiasi laut dan riuh suara anak-anak bermain air menjadi latar belakang yang menarik bagi destinasi wisata Belitung Timur. Selama pekan ini hingga Jumat (27/3), suasana tersebut menjadi ciri khas dari keindahan alam daerah ini. Di balik keindahan visual tersebut, terdapat antusiasme warga yang berkumpul bersama keluarga dalam momen liburan Idulfitri.
Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Disbudpar Belitung Timur, Kristian Ajie menjelaskan bahwa ada dinamika kunjungan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasanya. Lonjakan ini sudah menjadi hal yang pasti setiap tahunnya sebagai tolok ukur gairah pariwisata daerah. “Momen Lebaran adalah waktu berkumpulnya keluarga. Jadi, untuk kunjungan ke destinasi wisata, itu pastinya mengalami lonjakan dari bulan-bulan biasa,” ujarnya.
Meskipun persentase kenaikan tidak meledak secara drastis, tren tetap menunjukkan grafik yang positif. Berdasarkan pemantauan dinas, terdapat tiga titik utama yang menjadi primadona kunjungan tahun ini. Pantai Punai di Simpang Pesak dan Pantai Burung Mandi di Damar masih memegang tahta sebagai destinasi favorit dari tahun ke tahun.
“Yang paling banyak dikunjungi itu di daerah Pantai Punai, terus di Burung Mandi, sekaligus di kawasan Situ Kulong Minyak,” ucap Ajie.
Namun, ada yang menarik pada tren tahun ini dengan munculnya Situ Kulong Minyak sebagai destinasi yang mulai menyaingi popularitas pantai. Kawasan yang relatif baru ini menjadi alternatif bagi warga Manggar dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana indah, namun dekat dengan pusat kota.
Ajie menjelaskan bahwa lonjakan ini merupakan sebuah pola yang sudah terbaca. Tren dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa kawasan favorit akan tetap dikejar karena aksesibilitasnya yang baik dan fasilitas yang sudah mapan.
“Pasti terjadi (keramaian, red). Soalnya tren dari tahun ke tahun seperti itu. Kawasan favorit itu terkenal karena memang sudah lama, terus karena pantainya indah, seperti Punai dan Burung Mandi itu,” ungkapnya.
Selain tiga besar tersebut, pantai di sekitar ibu kota kabupaten seperti Pantai Serdang juga tak luput dari kerumunan warga. Jarak yang dekat dengan pusat kuliner Manggar menjadikan pantai-pantai ini pilihan praktis bagi keluarga yang ingin berpiknik singkat.
Menyikapi lonjakan ini, Disbudpar tidak tinggal diam dan terus memperkuat kampanye keselamatan bagi para pengunjung. Koordinasi dengan pengelola di tingkat desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terus ditingkatkan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Antisipasi tentu ada, seperti kita memberitahukan di medsos dan kanal promosi untuk tetap stay safe. Jaga keselamatan baik saat menuju tempat wisata maupun selama beraktivitas di sana,” ujar Ajie.
Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan alat keselamatan di objek wisata air mengingat keramaian di bibir pantai seringkali membuat pengawasan menjadi sedikit longgar. Komunikasi intensif dengan para pengelola lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas.
Ajie berharap para wisatawan juga membantu mempromosikan keindahan Belitung Timur melalui genggaman ponsel mereka. Unggahan di media sosial adalah promosi organik yang sangat berharga. “Kami harap wisatawan tetap menjaga keselamatan, terus juga kalau dapat bisa sekaligus mempromosikan di medsos masing-masing. Jadi promosi kita bisa terbantu,” ucapnya.
Ajie ingin menciptakan kesan mendalam bagi para pelancong agar mereka memiliki alasan untuk kembali di masa depan. Kesan yang baik dari wisatawan lokal diharapkan mampu meluas hingga ke luar Pulau Belitung. “Mudah-mudahan objek wisata kita bisa memberikan kesan baik, agar mereka berkunjung lagi dan menyebarluaskan informasi wisata ini ke luar Belitung,” pungkasnya.
Peran TIC dan Laman Digital
Bagi wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Belitung Timur, rambu jalan terkadang belum cukup untuk menjelaskan ke mana harus pergi. Di tengah kebingungan tersebut, sebuah gedung di samping Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur berdiri siap memberikan jawaban.
Gedung tersebut adalah Tourist Information Center (TIC), sebuah fasilitas yang disiapkan khusus untuk menjadi penunjuk arah bagi para wisatawan. Sayangnya, di tengah era digital yang serba cepat keberadaan layanan TIC seringkali terlupakan.
Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Disbudpar Belitung Timur, Kristian Ajie mengatakan, pihaknya sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari informasi akurat. Pintu TIC selalu terbuka lebar bagi wisatawan yang ingin menggali lebih dalam tentang potensi wisata di tujuh kecamatan di Beltim. “Oh iya terbuka, kita sangat terbuka. Kita ada TIC, Tourist Information Center, gedungnya di sebelah,” ujarnya.
Fungsi TIC bukan sekadar tempat bertanya arah, melainkan pusat data sarana dan prasarana di setiap destinasi. Wisatawan bisa mendapatkan gambaran mengenai fasilitas apa saja yang tersedia, mulai dari toilet, tempat ibadah, hingga akses transportasi menuju lokasi. “Di situ kalau ada yang mau menanyakan mengenai apa-apa saja tempat wisata, bagaimana cara menjangkaunya, sarana-prasarana apa yang ada di destinasi wisata tersebut kita ada informasinya,” ucap Ajie.
TIC menyediakan berbagai literatur yang bisa dibawa pulang secara gratis. Brosur-brosur agenda kebudayaan tersedia rapi di atas meja informasi. Akan tetapi, menyadari bahwa mayoritas wisatawan saat ini sangat lekat dengan ponsel, Disbudpar juga melakukan transformasi digital. Mereka telah meluncurkan sebuah laman bernama Inspiring Beltim yang bisa diakses dengan cara melakukan scan kode QR.
Melalui aplikasi ini, informasi mengenai destinasi unggulan di Belitung Timur bisa didapatkan dalam satu genggaman. “Kita arahkan, kita ada di Inspiring Beltim, laman kita. Di situ semuanya sudah terintegrasi bagi mereka yang suka menjelajahi wisata,” ungkap Ajie.







