Penjelasan DPR Mengenai Pengisian Jabatan Kosong di OJK dan BEI
Pengunduran diri sejumlah pejabat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memicu berbagai spekulasi mengenai pihak-pihak yang akan mengisi jabatan kosong di dua lembaga tersebut. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Hekal, memberikan penjelasan terkait hal ini.
Hekal menegaskan bahwa tidak ada “orang titipan” dari Danantara maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses pengisian jabatan kosong di OJK dan BEI. Ia menyatakan bahwa seluruh posisi yang ditinggalkan oleh para pejabat sebelumnya akan diisi oleh figur profesional dengan kompetensi tinggi di bidang pasar keuangan.
“Tidak ada pejabat dari Danantara, Badan Pengelola BUMN, direksi perusahaan BUMN, maupun pihak-pihak yang berafiliasi dengan institusi tersebut yang akan menduduki jabatan pimpinan di OJK maupun posisi eksekutif di BEI,” ujar Hekal dalam keterangan tertulis.
Ia juga menekankan bahwa Komisi XI DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara aktif dan konstruktif guna memastikan independensi OJK dan BEI tetap terjaga. Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga kredibilitas pasar keuangan nasional, baik di mata investor domestik maupun global.
Hekal mengimbau pelaku pasar dan masyarakat agar tidak terjebak dalam spekulasi yang berpotensi memperkeruh situasi. “Pernyataan ini disampaikan untuk memberikan kejelasan dan kepastian kepada publik,” tambahnya.
Latar Belakang Gejolak Pasar
Gejolak pasar modal dimulai pada Rabu (28/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing indeks saham Indonesia. Penundaan tersebut dikaitkan dengan sorotan terhadap konsentrasi kepemilikan saham serta potensi manipulasi harga.
Pada hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 718,44 poin ke level 8.261,78 dan ditutup melemah 7,35 persen di posisi 8.320,56. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026), ketika IHSG sempat jatuh hingga 10,04 persen ke 7.485,35 sebelum akhirnya ditutup di level 8.232,20.
Memasuki Jumat (30/1/2026), IHSG mulai menunjukkan perbaikan dengan menguat tipis 1,18 persen ke posisi 8.329,60.
Gelombang Pengunduran Diri Pejabat
Di tengah tekanan pasar tersebut, lima pejabat penting di BEI dan OJK mengundurkan diri pada Jumat (30/1/2026). Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyatakan mundur pada pagi hari sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar.
Pada malam harinya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten OJK I. B. Aditya Jayaantara turut mengundurkan diri. Beberapa jam kemudian, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga menyatakan mundur.
Penunjukan Pengganti
Untuk menjaga stabilitas kelembagaan, OJK langsung menunjuk Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi sebagai pengganti anggota Dewan Komisioner yang mundur, efektif per 31 Januari 2026. Friderica ditetapkan sebagai anggota pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK, sementara Hasan dipercaya menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Sementara itu, di BEI, Direksi dan Dewan Komisaris dikabarkan akan menunjuk Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Jeffrey Hendrik, sebagai penjabat Direktur Utama untuk menggantikan Iman Rachman.
DPR menegaskan bahwa seluruh proses pengisian jabatan akan tetap dilakukan secara independen dan profesional, tanpa intervensi kepentingan tertentu, demi menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar modal nasional.







