Kesepakatan Pakistan-Iran Buka Jalur Selat Hormuz
Di tengah ketegangan regional yang mengganggu jalur energi global, Iran memberikan izin bagi 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah penting dalam meredakan krisis energi yang sedang terjadi.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah diplomasi intensif antara Islamabad dan Teheran. Meskipun situasi masih tegang, langkah ini dinilai sebagai tanda perdamaian dan isyarat konstruktif yang dapat membantu mencegah krisis energi yang lebih besar.
Sebelum kesepakatan ini dibuat, penutupan jalur strategis tersebut menyebabkan lalu lintas kapal anjlok hingga 90 persen. Hal ini juga memicu lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel.
Jalur Vital Dunia yang Nyaris Lumpuh
Selat Hormuz adalah jalur vital bagi distribusi energi dunia. Namun, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membuat jalur ini nyaris lumpuh. Sejak serangan udara terkoordinasi pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, jalur air strategis ini praktis tertutup.
Akibatnya, sekitar 2.000 kapal sempat terdampar di kedua sisi selat. Lalu lintas maritim dilaporkan turun hingga 90 persen, sementara harga minyak melonjak lebih dari 40 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Mantan menteri Qatar, Mohammed Al-Hashemi, menggambarkan situasi ini sebagai ancaman serius bagi ekonomi global. “Selat Hormuz adalah katup aorta produksi global. Jika gagal, seluruh sistem akan runtuh,” tulisnya dalam kolom di Al Jazeera.
Iran Perketat Kontrol, Terapkan Sistem Izin
Di tengah konflik, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Setiap kapal yang ingin melintas kini diwajibkan menyerahkan rincian kargo, awak, serta tujuan perjalanan.
Setelah itu, kapal harus mendapatkan kode izin dan dikawal melalui perairan Iran. Beberapa laporan menyebut setidaknya dua kapal telah membayar hingga 2 juta dolar AS untuk bisa melintas, dengan pembayaran dilakukan dalam yuan China.
Parlemen Iran juga tengah menyusun regulasi untuk melegalkan sistem pungutan tersebut sebagai sumber pendapatan negara.
Dampak Global: Perdagangan Terburuk dalam 80 Tahun
Gangguan di Selat Hormuz berdampak luas terhadap ekonomi global. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia, Ngozi Okonjo-Iweala, menyebut kondisi saat ini sebagai “gangguan perdagangan terburuk dalam 80 tahun terakhir”.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga minyak, logistik global, hingga inflasi di berbagai negara.
Seorang pejabat Uni Emirat Arab, Sultan Al Jaber, bahkan menyebut situasi ini sebagai “terorisme ekonomi” karena dampaknya dirasakan oleh masyarakat global, mulai dari harga bahan bakar hingga kebutuhan sehari-hari.
Diplomasi Intensif di Balik Kesepakatan
Kesepakatan Pakistan-Iran ini merupakan hasil dari upaya diplomatik intensif Islamabad dalam beberapa pekan terakhir. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan melakukan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, sementara Ishaq Dar juga berkoordinasi dengan Iran dan Turki.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, sebelumnya menyatakan bahwa Islamabad siap menjadi tuan rumah pembicaraan damai jika diperlukan. Kesepakatan ini juga dianggap sebagai sinyal bahwa Pakistan ingin memainkan peran lebih besar dalam meredakan konflik regional.
Negara Lain Mulai Ikut Negosiasi
Selain Pakistan, negara lain juga mulai menjalin kesepakatan serupa dengan Iran. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal-kapal Malaysia juga telah diizinkan melintas setelah komunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Hal ini menunjukkan adanya celah diplomatik di tengah konflik yang masih berlangsung.
Ketegangan Masih Tinggi
Meski ada tanda-tanda pelonggaran, situasi di kawasan tetap tegang. Iran menegaskan akan tetap menutup Selat Hormuz bagi pihak yang dianggap musuh, sambil menuntut pengakuan internasional atas otoritasnya di jalur tersebut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump sempat menjadi sorotan setelah secara tidak sengaja menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” dalam sebuah forum, sebelum segera mengoreksi ucapannya.
Di sisi lain, Israel menegaskan akan melanjutkan operasi militernya, meskipun Amerika Serikat disebut sempat melonggarkan serangan terhadap infrastruktur Iran selama lima hari.
Kesepakatan antara Pakistan dan Iran dinilai sebagai langkah kecil namun signifikan dalam meredakan tekanan global, khususnya di sektor energi. Dengan dibukanya kembali jalur terbatas di Selat Hormuz, diharapkan distribusi minyak dan barang dapat mulai pulih, meskipun belum sepenuhnya normal.
Di tengah konflik yang masih berlangsung, diplomasi seperti ini menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah krisis yang lebih luas di tingkat global.







