Perang Ekonomi yang Berubah dari Konflik Militer
Perang antara Iran dan Israel tidak lagi hanya terbatas pada konfrontasi militer, tetapi kini beralih ke perang ekonomi. Tanda-tanda ini mulai terlihat jelas dengan serangan Israel terhadap fasilitas gas Iran. Menurut Umud Shokri, penasihat kebijakan luar negeri dan geopolitik energi berbasis di Washington, serangan tersebut menandai pergeseran dalam konflik yang sebelumnya fokus pada aspek militer.
Pada 18 Maret, serangan Israel menargetkan fasilitas yang terkait South Pars serta pusat darat (onshore hub) di Asaluyeh, Provinsi Bushehr. Qatar, yang berbagi cadangan gas tersebut, secara langsung menyalahkan Israel atas serangan ini. Sementara itu, Uni Emirat Arab menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan energi global.
Iran merespons dengan cepat dengan menyerukan evakuasi infrastruktur energi di seluruh Teluk Persia, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. South Pars bukan sekadar aset hidrokarbon biasa. Bersama North Dome milik Qatar, ladang ini membentuk ladang gas alam terbesar di dunia, yang diperkirakan menyimpan 1.800 triliun kaki kubik gas dan 50 miliar barel kondensat.
Bagian Iran mencakup sekitar 36 persen cadangan gas terbukti dan sekitar 5,6 persen cadangan global, menjadikannya pilar utama ekonomi negara tersebut yang kini berada dalam risiko. Asaluyeh berfungsi sebagai inti operasional sistem ini, dengan memusatkan infrastruktur hulu, tengah, dan hilir dalam satu kawasan pesisir.
Produksi lepas pantai memasok kilang, kompleks petrokimia, dan terminal ekspor yang mendukung pembangkit listrik, basis industri, serta ekspor energi Iran. Serangan terhadap Asaluyeh tidak hanya mengganggu produksi, tetapi juga mengancam seluruh rantai nilai energi.
Terletak di sepanjang Teluk Persia dan terhubung ke jalur ekspor melalui Selat Hormuz, Asaluyeh berada di persimpangan antara produksi dan jalur transit. Gangguan berkelanjutan apa pun dapat memperburuk guncangan pasokan di pasar global.
Israel kini melangkah lebih jauh dari sekadar menargetkan aset militer dan nuklir, dengan menyerang inti ekonomi kekuatan Iran. Hal ini menandakan pergeseran strategi menuju pelemahan ekonomi, di mana sistem energi menjadi target utama.
Respons Iran menunjukkan bahwa eskalasi tidak akan tetap terkendali. Media yang terkait Korps Garda Revolusi Islam telah menerbitkan daftar target potensial, seperti Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar, kilang SAMREF dan kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi, serta ladang gas Al Hosn di Uni Emirat Arab.
Dampaknya mulai terlihat. Irak melaporkan penghentian pasokan gas Iran setelah serangan di South Pars, sementara instalasi Ras Laffan di Qatar sedang dievakuasi. Sifat reservoir yang digunakan bersama juga menimbulkan risiko tambahan. North Dome milik Qatar menopang sebagian besar pasokan LNG global ke Eropa dan Asia.
Ketidakstabilan di sisi Iran menimbulkan kekhawatiran terkait pengelolaan reservoir, keselamatan operasional, serta efek limpahan. Kecaman cepat Qatar mencerminkan perhitungan yang jelas, eskalasi di sekitar ladang gas terbesar di dunia mengancam pasar global sekaligus stabilitas regional.
Risiko bahkan meluas melampaui kawasan Teluk. Ladang gas lepas pantai Israel, yakni Leviathan, Tamar, dan Karish, sangat penting bagi pasokan domestik dan ekspor regional, serta tetap rentan terhadap potensi pembalasan.
Israel memiliki infrastruktur energi domestik yang relatif terbatas dan rentan terhadap pembalasan langsung, sementara Iran beroperasi di wilayah dengan konsentrasi aset energi yang padat. Iran mungkin tidak dapat dengan mudah meniru serangan tersebut, tetapi dapat menimbulkan gangguan luas dengan menargetkan produsen Teluk, jalur pelayaran, atau infrastruktur lepas pantai.
Netanyahu Sebut Israel Bertindak Sendiri
Dilansir The Guardian, saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di Yerusalem, Benjamin Netanyahu ditanya apakah ia telah memberi tahu Donald Trump terkait serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran. Netanyahu tidak menjelaskan apakah Trump telah diberitahu sebelumnya mengenai rencana tersebut. Ia hanya menyatakan:
“Israel bertindak sendiri melawan kompleks gas tersebut.”
“Presiden Trump meminta kami untuk menunda serangan di masa mendatang, dan kami tetap berpegang pada hal itu.”
Trump sebelumnya menjauhkan diri dari serangan tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu apa-apa mengenai serangan itu, dan kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya telah meminta Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Israel sebelumnya mengklaim bahwa serangan tersebut dikoordinasikan dengan AS. Namun, laporan yang mengutip pejabat Israel dan beredar hari ini bertentangan dengan pernyataan Trump, termasuk klaim bahwa AS sebenarnya telah mengetahui rencana serangan tersebut. Saat berbicara di Ruang Oval, Trump tidak menjelaskan secara spesifik kapan ia berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel.







