Industri plastik di Indonesia kini menghadapi tantangan besar akibat konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Dampaknya terasa pada berbagai sektor, termasuk industri plastik yang sangat bergantung pada bahan baku minyak mentah dan produk petrokimia. Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono menyampaikan bahwa saat ini tingkat utilisasi industri hilir petrokimia masih cukup tinggi, yaitu sekitar 70%. Namun, ia memprediksi adanya penurunan signifikan dalam beberapa pekan ke depan.
Tingkat Utilisasi dan Permintaan Pasar
Fajar menjelaskan bahwa rata-rata tingkat utilisasi industri tetap terjaga karena pelaku industri masih berusaha memenuhi permintaan pasar hingga akhir Ramadan dan satu minggu setelah Idulfitri. Namun, situasi akan berubah pada pekan kedua atau H+10 pasca Idulfitri. Konflik di Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok bahan baku untuk industri plastik, membuat para produsen semakin selektif dalam menerima kontrak.
“Kami hanya melayani atau mengirim yang sudah ada kontrak. Order baru belum dilayani. Kontrak baru pun dipilih-pilih, apakah bisa diberi 100% atau tidak. Dari sisi supply, ada kehati-hatian karena dampak perang ini bisa lebih panjang dari yang diperkirakan,” ujar Fajar.
Ketergantungan Impor Bahan Baku
Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik. Fajar menyebutkan bahwa porsi impor bervariasi tergantung jenis bahan. Beberapa bahan sudah dapat diproduksi dalam negeri, namun untuk bahan seperti polypropylene dan polyethylene, impor mencapai lebih dari 50%.
Lebih dari separuh kebutuhan impor bahan baku plastik berasal dari wilayah Timur Tengah. Kondisi ini memperparah gangguan pasokan akibat keadaan kahar dan serangan militer di kawasan tersebut. Para produsen industri plastik kini sedang berlomba mengamankan pasokan bahan baku.
Peran China sebagai Alternatif
China menjadi alternatif utama bagi produsen plastik Indonesia. Negeri Panda memiliki teknologi yang mampu mengolah berbagai jenis bahan baku, mulai dari nafta, gas, batubara hingga bahan anorganik lainnya. “Dalam hal ini, China secara supply masih cukup untuk penetrasi ke market-market yang mempunyai harga bagus. Sekarang posisi China pasti akan jual mahal karena yang punya banyak teknologi, volume, dan bisa kirim hanya China,” kata Fajar.
Kenaikan Harga Bahan Baku
Gangguan rantai pasok telah memicu kenaikan harga bahan baku plastik. Fajar mencontohkan harga polimer yang naik dari sekitar US$ 1.100 menjadi US$ 1.700 per metrik ton dalam sepekan terakhir. “Jadi lumayan naiknya, 80%-90% dari sebelum perang atau hampir dua kali lipat,” imbuh Fajar.
Dampak pada Industri Kemasan
Produk plastik digunakan oleh berbagai industri, termasuk makanan dan minuman, konstruksi, otomotif, serta peralatan rumah tangga dan elektronik. Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa mengatakan bahwa industri kemasan kini mewaspadai ketidakpastian pasokan dan harga bahan baku akibat gangguan di sepanjang rantai pasok petrokimia dan polimer global.
Porsi impor bahan baku plastik untuk kemasan mencapai sekitar 50% – 60%, karena kapasitas dalam negeri hanya dapat memenuhi maksimal 50% dari kebutuhan. “Belum lagi jenis plastik yang bermacam-macam, tidak semuanya dapat dipenuhi dalam negeri. Kondisi industri kemasan plastik dan hampir semua bisnis terkait juga tidak mudah saat ini,” ungkap Henky.
Strategi Mitigasi dan Inovasi
Pelaku industri kini bertahan dengan stok yang tersedia sambil mencari alternatif pasokan dan inovasi produk. Henky menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik bisa mencapai sekitar 80% – 100%, atau bahkan dua kali lipat dibandingkan harga normal sebelum perang. “Bisa dibayangkan, bagi produsen kemasan harus menaikkan harga jual atau memotong margin keuntungan? Bagi produk jadi, harus menghitung dari elastisitas permintaan. Maka perlu kolaborasi dan inovasi bersama antara produsen kemasan dan pemilik merek,” terang Henky.
Para produsen kemasan berkolaborasi dengan pemilik merek atau produsen FMCG untuk mencari alternatif pengganti material yang tidak terdampak langsung. Misalnya, kemasan flexible yang tadinya memakai film polypropylene dapat digantikan dengan film polyester yang belum terdampak. “Bisa juga mencoba untuk dapat digantikan dengan kemasan kertas jika memungkinkan,” tambah Henky.
Fajar mengemukakan hal serupa. Saat ini, pelaku industri pengguna plastik berupaya memacu inovasi untuk mengurangi pemakaian bahan plastik, memperbanyak porsi kemasan non-plastik, mencari alternatif bahan lain, atau menambah komposisi produk daur ulang. “Dalam situasi ini semua terkena dampaknya. Tinggal bagaimana kesiapan menghadapinya. Rasanya kita harus bertahan dengan inovasi-inovasi yang bisa dilakukan, karena demand dalam negeri sebenarnya masih cukup bagus,” ujar Fajar.







