Puasa dan Media Sosial: Menjaga Jari, Mata, dan Hati
Ramadan tidak hanya menjadi bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk melatih pengendalian diri secara holistik. Hal ini menjadi inti dari kultum yang disampaikan oleh Dr. H. Syamsu Madyan, Lc., MA., dosen tetap Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (Unisma), dalam acara yang diunggah melalui kanal YouTube Humas Unisma Official.
Dalam kultum dengan tema “Puasa dan Media Sosial, Menjaga Jari, Mata, dan Hati,” Syamsu Madyan mengajak masyarakat untuk merefleksikan makna puasa yang sesungguhnya. Ia menjelaskan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang kemampuan menjaga lisan dan perbuatan. Pengendalian diri menjadi aspek utama dalam menjalani ibadah puasa.
Syamsu memulai penjelasannya dengan menekankan bahwa esensi puasa terletak pada pengendalian diri, terutama dalam hal lisan. Ia menyatakan bahwa pengendalian di dalam hati tidak selalu terlihat, namun yang terlihat adalah tindakan di luar, seperti ucapan dan perilaku.
“Memang di bulan puasa ini yang paling utama adalah lisan, pengendalian diri. Kalau pengendalian di dalam hati itu enggak kelihatan. Yang kelihatan adalah yang di luar. Yang keluar,” ucap Syamsu.
Ia juga menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari nafas orang berpuasa adalah sebagai pengingat untuk lebih banyak diam. “Sesuatu yang paling luar dari diri kita itu cerminannya adalah lisan. Salah satu hikmah kenapa orang puasa itu dibuat nafasnya bau oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah karena memang disuruh diam.”
Menyentil hukum fikih terkait menjaga kebersihan mulut tanpa menghilangkan esensi puasa, seperti penggunaan siwak yang bersih sebelum waktu Zuhur, sebagai bentuk ketaatan sekaligus menjaga adab sosial.
Syamsu Madyan mengingatkan bahwa konsep ‘ngobrol’ atau berbicara kini telah berevolusi, dengan konteks kekinian. “Nah pertanyaanmu tadi bagus karena sekarang ini ngobrol itu bukan hanya dengan lisan. Jadi orangnya diam tapi jari-jarinya ya ini juga penting,” katanya lagi.
Strategi Pragmatis untuk Mengelola Media Sosial Selama Ramadan
Syamsu menawarkan strategi pragmatis untuk mengelola media sosial selama Ramadan. Pertama, idealnya persiapan dilakukan sebelum Ramadan tiba dengan menyetel algoritma. “Jadi di bulan-bulan lalu kamu sudah mulai dislike-dislike konten-konten yang sekiranya membawa madarat, membawa membuat dirimu dosa. Itu satu ya. Sehingga yang menjadi FYP-mu adalah katakanlah konten-konten dakwah, ngaji, begitu lah,” sarannya.
Untuk yang kedua, bagi yang belum mempersiapkan, langkah yang bisa diambil adalah mengurangi intensitas penggunaan secara drastis. “Kalau sudah terlanjur ini sudah di bulan Ramadan ya sudah kurangi. Jangan waktu dihabis-habiskan dengan sosmat atau dengan HP,” tegasnya.
Ia juga mendorong untuk mengambil tindakan nyata, seperti menonaktifkan sementara grup percakapan yang tidak penting atau sepakat mengalihkan obrolan ke konten positif seperti khataman selama Ramadan. “Ini penting ya komitmen untuk kalau yang grup-grup begitu ya penting untuk menyengaja. Menyengaja itu adalah berniat untuk bersama-sama mengendalikan diri,” paparnya.
Waktu Sahur: Waktu Emas untuk Berdua-duaan dengan Allah
Lebih lanjut Syamsu mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu-waktu mustajab, seperti saat sahur. “Waktu sahur itu bukan waktu untuk manusia. Ibaratnya ya kita makan secukupnya kemudian segera bermunajat. Itu sayang sekali ya. Waktu emas itu golden times untuk kita berdua-duaan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala,” jelasnya.
Syamsu mengajak masyarakat untuk bijak dan menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. “Untuk masyarakat yang menonton untuk bijaksana di dalam penggunaan HP-nya, gadgetnya, alangkah bagus jika alat-alat ini seperti pisau bisa dipakai memotong tempe, wortel, bisa juga untuk membunuh kan gitu tergantung orangnya,” tuturnya.
Dengan adanya hal ini diharapkan, media sosial justru dapat dikendalikan untuk menjadi sarana ibadah dan kebaikan.






