Kinerja Investasi Hotel di Asia Pasifik Tumbuh Signifikan
Investasi hotel di kawasan Asia Pasifik menunjukkan pertumbuhan yang kuat sepanjang semester I 2026. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk semakin diperhitungkan oleh para investor, terutama dengan meningkatnya transaksi lintas negara di sektor perhotelan kawasan.
Berdasarkan laporan JLL, nilai transaksi investasi hotel di Asia Pasifik mencapai USD 6,8 miliar atau sekitar Rp 120 triliun pada paruh pertama 2026. Angka tersebut melonjak 54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi kinerja semester I terkuat dalam tujuh tahun terakhir.
Menurut Nihat Ercan, CEO JLL Hotels & Hospitality Group Asia Pasifik, minat investasi di sektor hotel terus menunjukkan tren positif. Hal ini menegaskan daya tarik aset perhotelan di Asia Pasifik. Fundamental pasar yang solid dan aktivitas transaksi yang kuat di kawasan ini turut mendorong investor untuk lebih selektif, dengan mengutamakan kepastian dalam berinvestasi dan mengkaji peluang sebelum mengalokasikan modal.
Pemimpin Investasi di Asia Pasifik
Kinerja investasi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan. JLL mencatat Jepang, Tiongkok, dan Australia menjadi tiga pasar utama yang menopang aktivitas transaksi hotel selama enam bulan pertama 2026.
Jepang berada di posisi teratas dengan nilai transaksi USD 1,9 miliar atau sekitar Rp 33,5 triliun. Nilai tersebut tumbuh 75 persen secara tahunan. Beberapa transaksi portofolio menjadi pendorong utama, seperti akuisisi JPN Kanagawa Hotel Portfolio oleh AB Capital, pembelian JPN Pelican Hotel Portfolio oleh Tosei, serta akuisisi Sapporo Real Estate oleh KKR & PAG.
Tiongkok menyusul dengan transaksi USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,5 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan hingga 224 persen dibandingkan semester I tahun sebelumnya. Aktivitas pasar sekunder mendominasi kuartal II 2026, termasuk melalui lelang untuk properti yang mengalami tekanan finansial maupun aset yang ditawarkan di bawah harga pasar. Salah satu contohnya adalah penjualan sembilan aset milik R&F Group.
Sementara itu, Australia membukukan transaksi hotel senilai USD 901 juta atau sekitar Rp 15,9 triliun. Nilai tersebut meningkat 38 persen secara tahunan. Pertumbuhan di negara tersebut didorong oleh investor swasta, family office, serta pemilik-operator yang bersaing memperoleh aset kelas menengah di wilayah metropolitan dan regional.
Perhatian terhadap Pasar Indonesia
Perkembangan investasi di Asia Pasifik tersebut turut menjadi perhatian bagi pasar Indonesia. JLL menyebut telah memfasilitasi konsultasi terkait investasi untuk Waldorf Astoria Jakarta, yang dijadwalkan dibuka pada 2027 sebagai bagian dari Autograph Tower di kawasan Thamrin Nine.
Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, menjelaskan bahwa kinerja pasar investasi hotel di Asia Pasifik yang solid juga menjadi sinyal yang relevan bagi Indonesia. Transaksi tersebut memperlihatkan bagaimana jaringan yang telah dibangun dalam waktu panjang dapat dikombinasikan dengan keahlian khusus di sektor perhotelan untuk menangani transaksi investasi lintas negara.
Menurutnya, transaksi ini menunjukkan bagaimana JLL memadukan hubungan yang telah terbangun selama bertahun-tahun dengan keahlian khusus di sektor perhotelan dalam mengelola transaksi investasi lintas negara. Hal ini juga mencerminkan kuatnya hubungan ekonomi Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC).
Strategi Investasi yang Berubah
Dari sisi kelompok pembeli, developer menjadi investor yang paling banyak berkontribusi terhadap transaksi hotel di Asia Pasifik pada semester I 2026. Kelompok ini menyumbang 22 persen dari total volume transaksi, disusul pengelola dana sebesar 19 persen serta individu dengan kekayaan tinggi dan family office sebesar 5 persen.
Meski investor asing tetap aktif, modal domestik masih menjadi sumber utama dalam akuisisi hotel di kawasan Asia Pasifik. Aktivitas lintas negara terutama terlihat di Jepang, Australia dan Selandia Baru, serta Korea Selatan. Pengelola dana menjadi kelompok investor yang paling aktif dalam transaksi lintas negara.
Selain membeli hotel untuk mempertahankan fungsi awalnya, investor juga mulai melihat peluang dari aset perhotelan dengan performa rendah. Sejumlah hotel dipertimbangkan untuk dialihfungsikan menjadi properti hunian sebagai bagian dari strategi investasi.
Tren Alih Fungsi Aset
Tren tersebut terlihat di Hong Kong. Empat hotel berpindah tangan dengan nilai transaksi gabungan USD 340 juta atau sekitar Rp6 triliun selama semester I 2026. Sebagian besar aset tersebut direncanakan dikonversi menjadi hunian mahasiswa atau properti co-living.
Perubahan fungsi aset juga terjadi di Singapura. Coliwoo mengakuisisi Park Avenue Changi dengan nilai USD 79 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk kemudian dikonversi menjadi properti co-living.
JLL menilai perkembangan tersebut mencerminkan perubahan strategi di pasar modal Asia Pasifik. Hotel mulai dipandang sebagai salah satu jalan bagi investor untuk masuk ke sektor hunian, khususnya melalui strategi opportunistic dan value-add.
Namun, alih fungsi tersebut lebih banyak berkaitan dengan hotel yang telah berusia tua atau memiliki kinerja rendah, sehingga tidak menunjukkan adanya pelemahan fundamental pasar hotel secara keseluruhan.
Proyeksi Pertumbuhan Investasi
Kondisi operasional hotel yang masih positif, kuatnya penyaluran modal dari berbagai kelompok investor, serta peluang untuk melakukan reposisi aset menjadi sejumlah faktor yang menopang prospek investasi hingga akhir 2026.
Julien Nauori, Head of Investment Sales, Asia, JLL Hotels & Hospitality Group, menyatakan bahwa dengan momentum yang lebih kuat dari perkiraan pada semester I 2026, volume investasi hotel di Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh 15-20 persen secara tahunan dibandingkan 2025.
Kepercayaan investor juga diperkuat oleh kinerja operasional hotel sepanjang Januari hingga Mei 2026. RevPAR dalam denominasi dolar AS meningkat rata-rata lebih dari 6 persen di seluruh Asia Pasifik, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung.
Pertumbuhan RevPAR paling kuat tercatat di Australia dan Oseania serta Asia Tenggara. Kinerja tersebut terutama didukung peningkatan average daily rate (ADR) di sejumlah pasar.
Dari sisi pariwisata, jumlah kedatangan wisatawan internasional ke kawasan Asia dan Pasifik tumbuh 3 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Oseania mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9 persen, disusul Asia Timur sebesar 5 persen.
Namun, jumlah kedatangan wisatawan internasional secara keseluruhan masih berada 11 persen di bawah level sebelum pandemi. Dengan demikian, capaian kuartal I 2026 baru setara 89 persen dari tingkat kunjungan pada kuartal I 2019.
Meski belum sepenuhnya kembali ke level prapandemi, arus wisatawan yang masih terjaga serta pertumbuhan RevPAR menjadi faktor yang mendukung daya tarik investasi aset hotel di kawasan Asia Pasifik.
JLL memperkirakan volume investasi hotel Asia Pasifik akan tumbuh 15-20 persen sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut menunjukkan minat investor terhadap aset hotel masih cukup kuat, meskipun strategi investasi kini dilakukan dengan lebih hati-hati melalui proses uji tuntas yang lebih ketat di tengah ketidakpastian ekonomi global.






