Kasus Pencabulan di Deli Serdang: Kakek Berusia 64 Tahun Ditahan
Seorang kakek berinisial L (64) harus menjalani penahanan setelah diduga melakukan pencabulan terhadap puluhan siswi Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Aksi tersebut terungkap setelah salah satu korban mengadu ke wali kelas pada hari Kamis (5/2/2026) pagi.
Para guru segera mendatangi L dan melaporkannya ke kepolisian setempat. Unit PPA Satreskrim Polrestabes Medan tiba di lokasi dan langsung memeriksa L. Dalam pemeriksaan, L tidak dapat membantah dan mengakui perbuatannya.
L yang selama setahun terakhir berjualan mainan ini dibawa ke Polrestabes Medan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Menurut AKBP Bayu Putro Wijayanto, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, total korban yang terlibat dalam kasus ini mencapai 28 orang.
Modus Pelaku yang Menggiurkan
Modus yang digunakan oleh L adalah dengan memberikan iming-iming uang jajan sebesar Rp 2.000 atau es krim kepada para siswi. Ia juga sering kali menawarkan mainan sebagai alasan untuk mendekati korban. Saat diinterogasi, L mengakui bahwa ia telah merekam aksinya menggunakan ponsel genggamnya, terutama di dekat tempat berjualan.
Bayu menyebutkan bahwa L tidak bisa berhubungan seksual dengan istrinya karena kondisi kesehatannya. “Jantungnya sudah dipasang ring,” ujarnya. Hal ini membuat L melampiaskan hasrat seksualnya kepada para siswi SD.
Saat ini, pihak kepolisian bersama dinas terkait sedang fokus memberikan pendampingan kepada para korban. L kini ditahan dan dikenakan Pasal 451 huruf b Subs Pasal 417 UU RI No 1 Tahun 2023 tentang KUHPidana. Ancaman hukuman yang bisa diberikan adalah penjara paling lama 15 tahun dengan denda berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 5 miliar.
Peristiwa Awal yang Memicu Kehebohan
Sebelum pelaku ditahan, L nyaris dihajar massa karena diduga melakukan pencabulan terhadap puluhan siswa. Zulfan, kepala dusun di salah satu desa, mengatakan bahwa awalnya dia menerima informasi dari pihak sekolah tentang adanya siswi yang mengalami pelecehan seksual pada hari Kamis (5/2/2026) pagi.
“Saya sampai ke sekolah, para kepala sekolah dan dewan guru sudah berkumpul di lapangan dekat sekolah. Pelaku ada di situ, saya tanyai benar atau tidaknya,” kata Zulfan saat berbicara melalui saluran telepon kepada Kompas.com pada Jumat (6/2/2026).
Menurut Zulfan, L mengakui bahwa ia pernah mencium pipi, bibir, dan membuka rok korban. “Pelaku ini jualan mainan, beras, dan lainnya. Modus dia itu dengan memberikan uang jajan Rp 2 ribu, atau mainan, tapi ada juga yang tidak dikasih apa-apa,” tambahnya.
Karena situasi mulai memanas, Zulfan membawa L ke kantor desa untuk mencegah amukan massa. Selanjutnya, pihaknya bekerja sama dengan para guru untuk mendata siswi yang menjadi korban pelaku.
“Pas didata saya terkejut rupanya sampai 20 siswi korbannya. Setelah itu, saya laporkan ke pihak Polrestabes Medan. Terakhir, pelaku dibawa ke Polres untuk diproses,” ujar Zulfan.






