Pengalaman Pribadi dalam Safari Tarawih di Kota Banda Aceh
Seiring berakhirnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, banyak jejak ibadah yang telah dilalui dengan puasa, shalat Tarawih, Witir, dan qiyamullail. Bagi saya, Ramadhan kali ini membawa pengalaman ibadah yang begitu nikmat dan berkesan. Selama sebulan penuh, saya menjalani sebuah perjalanan yang berbeda: bukan sekadar safari Ramadhan dan safari subuh seperti biasanya, melainkan safari Tarawih sebagai upaya untuk melaksanakan shalat Tarawih dan Witir dengan berkeliling dari satu masjid ke masjid atau meunasah lainnya.
Sebanyak 28 masjid dan meunasah di Kota Banda Aceh menjadi bagian dari perjalanan ini, dimulai dari malam pertama Ramadhan di rumah dan pada akhir Ramadhan kembali lagi ke rumah. Ini seakan menegaskan bahwa setiap langkah ibadah adalah perjalanan yang bermuara pada diri sendiri. Reportase ini bukan untuk memperkuat sebuah dalil, tetapi ingin menceritakan tentang pengalaman yang saya rasakan. Beragam pengalaman pun terajut dalam perjalanan tersebut.
Perbedaan dalam Pelaksanaan Shalat Tarawih dan Witir
Perbedaan dalam pelaksanaan rakaat Tarawih di setiap masjid dan meunasah menghadirkan warna tersendiri. Sedangkan perjumpaan dengan kawan-kawan di setiap masjid menjadi jembatan silaturahmi yang menghangatkan hati dalam mengikat tali ukhuwah.
Di balik semua itu, tersimpan makna yang lebih dalam: bahwa Ramadhan tidak hanya tentang ibadah yang dilakukan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa yang diperkaya oleh kebersamaan, keberagaman, dan ketulusan dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Terkait shalat Tarawih dan Witir, ada jemaah masjid yang melaksanakannya 20 rakaat shalat Tarawih dan 3 rakaat Witir. Ada juga yang melaksanakan shalat Tarawih dengan 8 rakaat dan 3 rakaat Witir. Bagi yang melaksanakan 20 rakaat, ada juga makmum yang melaksanakan 8 rakaat dan melaksanakan Witir 3 rakaat terpisah sendiri. Sebaliknya, bagi yang melaksanakan Tarawih 20 rakaat, sedangkan di masjid tersebut melaksanakan 8 rakaat, pada umumnya mereka akan melanjutkan lagi sendiri sampai 20 rakaat plus 3 rakaat Witir.
Pada shalat Witir pun terjadi juga perbedaan. Ada yang melaksanakan dua kali salam, ada yang langsung sekali salam. Di sini saya melihat tidak ada terjadi perselisihan dalam masyarakat Aceh—atau setidaknya di Kota Banda Aceh—antara yang melaksanakan 20 rakaat dengan yang 8 rakaat, maupun Witir dengan sekali atau dua kali salam. Semuanya berjalan dengan rukun dan damai.
Suasana Khusyuk dalam Ibadah
Di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, shalat Tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan Witir 3 rakaat sekali salam, sedangkan di Masjid Oman Banda Aceh shalat Tarawih 8 rakaat dan Witir 3 rakaat sekali salam. Hampir di setiap masjid dan meunasah di dalam Kota Banda Aceh yang saya kunjungi, imam shalat Tarawih dan Witir dipimpin oleh para qari muda penghafal Al-Qur’an yang berada dalam rentang usia sekitar 30 hingga 40 tahun. Suara mereka merdu mengalun, dengan lafaz yang fasih dan penuh penghayatan. Ini menghadirkan suasana khusyuk yang menyentuh relung hati.
Bagi jemaah yang melaksanakan Tarawih 20 rakaat, ayat yang dilantunkan imam biasanya berkisar antara tiga hingga lima ayat di setiap rakaat. Sementara itu, pada pelaksanaan Tarawih delapan rakaat, ayat yang dibaca imam cenderung lebih panjang, antara lima hingga sepuluh ayat. Perbedaan ini tidak hanya memperkaya pengalaman ibadah, tetapi juga menghadirkan keindahan dalam keberagaman cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Kebersamaan dalam Ibadah
Di sinilah makna sesungguhnya terasa: keberagaman yang dirajut dalam harmoni, keyakinan yang berjalan beriringan, tanpa saling menafikan. Semua diterima dengan lapang dada, seolah mengajarkan bahwa kebersamaan lebih utama daripada perbedaan. Dan pada akhirnya, safari Tarawih bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjalanan spiritual yang menemukan kenikmatan, kedamaian, dan kehangatan dalam setiap pertemuan dan silaturahmi.
Sebuah kebanggaan yang begitu terasa ketika sekitar 60 persen jemaah Tarawih diisi oleh kaum muda. Mereka bukan hanya hadir sebagai jemaah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah Tarawih dan qiyamullail, menghadirkan semangat yang hidup di tengah malam-malam Ramadhan. Memasuki sepuluh malam terakhir, tepatnya setelah malam ke-20 Ramadhan, suasana masjid tetap dipenuhi jemaah, dengan jumlah yang masih bertahan sekitar 70 hingga 80 persen daripada biasanya. Ini menjadi gambaran keteguhan hati masyarakat dalam meraih keutamaan malam-malam yang penuh berkah selama Ramadhan.
Keheningan dan Doa dalam Ibadah
Pelaksanaan qiyamullail pun berlangsung di hampir seluruh masjid dan meunasah, khususnya di Kota Banda Aceh. Ibadah ini dimulai sekitar pukul 02.30 WIB hingga menjelang imsak, dilanjutkan dengan santap sahur yang telah disediakan bersama, lalu ditutup dengan pelaksanaan shalat Subuh berjemaah. Syahdu sekali.
Ada kebahagiaan yang tak selalu dapat diukur dengan kata-kata, tetapi begitu terasa merayap dalam setiap langkah safari Tarawih. Dari satu masjid ke masjid lainnya, saya menemukan wajah-wajah yang tidak sekadar hadir, tetapi menjadi jembatan silaturahmi yang menghangatkan jiwa.
Sesudah shalat Isya dan sunat kita menikmati ceramah singkat sekitar 15 hingga 20 menit yang menyejukkan hati. Namun, di beberapa tempat, keheningan justru menjadi bahasa yang lebih dalam; tanpa ceramah, hanya doa yang mengalun lirih, seakan langsung mengetuk pintu langit. Begitu juga dalam setiap selang dua atau empat rakat shalat Tarawih, doa-doa hadir dalam ragam cara. Ada yang dipanjatkan dengan suara oleh bilal, ada yang tidak bersuara, tetapi dilaksanakan sendiri-sendiri oleh jemaah.
Harapan dan Pesan Akhir
Perbedaan itu tidak pernah menjelma menjadi jarak, apalagi pertikaian, melainkan menjadi warna yang memperindah kebersamaan ritual keislaman di Aceh. Kita berharap, ikhtiar ini dapat menjadi sebuah pola dalam memakmurkan malam-malam Ramadhan melalui safari Tarawih yang tidak hanya menghidupkan ibadah, tetapi juga merajut kembali tali silaturahmi yang semakin erat. Dari langkah yang berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya, semoga tumbuh kelapangan hati untuk menerima perbedaan yang ada, tanpa menjadikannya sumber perselisihan di kalangan umat. Sebab, pada hakikatnya, setiap keyakinan memiliki ruangnya masing-masing, dan tidak semestinya perbedaan itu melahirkan pertikaian, apalagi keributan, yang justru mencederai kesucian ibadah.
Biarlah Ramadhan menjadi ruang teduh, tempat di mana kebersamaan, toleransi, dan ketulusan berjalan beriringan menguatkan, bukan memisahkan atau memicu polarisasi. Reportase berdasarkan pengalaman saya pribadi ini hendaknya bermanfaat bagi khalayak pembaca bahwa berpuasa di Aceh itu memang asyik, damai, dan khidmat. Semoga Allah panjangkan umur kita agar dapat berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang.







