Pada tahun 2025, PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi kinerja yang kurang memuaskan baik dari segi laba bersih maupun pendapatan. Meskipun demikian, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang terjadi.
Kinerja Keuangan ASII pada Tahun 2025
Laba bersih ASII pada tahun 2025 mencapai Rp 32,76 triliun, turun sebesar 3,33% dibandingkan dengan periode tahun 2024 yang mencapai Rp 33,9 triliun. Hal ini juga berdampak pada penurunan laba per saham menjadi Rp 810 dari sebelumnya Rp 837 per saham.
Sementara itu, pendapatan bersih ASII pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 323,39 triliun, turun tipis 1,54% dibandingkan pendapatan tahun 2024 senilai Rp 328,48 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari berbagai segmen bisnis seperti otomotif dan mobilitas, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi, energi, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti.
Rincian Kinerja Berdasarkan Segmen Bisnis
Otomotif & Mobilitas
Divisi Otomotif & Mobilitas mencatat laba bersih sebesar Rp 11,4 triliun, meski volume penjualan mobil nasional turun 7% menjadi 804.000 unit. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli di segmen entry-level. Namun, penjualan sepeda motor naik 1% menjadi 6,4 juta unit, dengan pangsa pasar Astra Honda Motor stabil di level 78%.
Jasa Keuangan
Laba bersih divisi Jasa Keuangan meningkat 9% menjadi Rp 9 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan portofolio pembiayaan konsumen dan peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan multiguna.
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih divisi ini turun 24% menjadi Rp 9,1 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh harga batubara yang lebih rendah dan penurunan volume pengupasan lapisan tanah. Namun, bisnis emas mengalami peningkatan karena kenaikan harga rata-rata emas sebesar 40%.
Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis naik 28% menjadi Rp 1,2 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga CPO sebesar 11% dan peningkatan volume penjualan CPO dan turunannya.
Infrastruktur
Divisi Infrastruktur mencatat kenaikan laba bersih 24% menjadi Rp 1,3 triliun, didukung oleh tarif tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas.
Teknologi Informasi
Laba bersih divisi Teknologi Informasi meningkat 33% menjadi Rp 208 miliar, didorong oleh peningkatan pendapatan dari bisnis solusi TI dan margin usaha yang lebih baik.
Properti
Divisi Properti membukukan lonjakan laba bersih 224% menjadi Rp 719 miliar, terutama berasal dari tambahan aset gudang industri dan pengakuan goodwill negatif dari akuisisi.
Perkembangan dan Tantangan di Masa Depan
Presiden Direktur ASII Djony Bunarto Tjondro menyampaikan bahwa kinerja grup yang melemah di tahun 2025 terutama disebabkan oleh harga batubara yang lebih rendah dan melemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien karena kontribusi dari bisnis-bisnis lainnya.
Ke depan, Djony menilai sejumlah segmen usaha masih menghadapi tantangan operasional. Namun, Astra memperkirakan sentimen konsumen secara umum akan menunjukkan perbaikan. “Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” kata Djony dalam keterangan resminya.
Dengan strategi yang matang dan fokus pada keberlanjutan, Astra International Tbk berkomitmen untuk tetap menjadi salah satu perusahaan terdepan di Indonesia, meskipun menghadapi berbagai tantangan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.







