Kondisi Terkini Jalur Batulicin Tanahbumbu-Kandangan HSS Pasca-Longsor
Pada hari Sabtu (28/3/2026), jalur utama yang menghubungkan antara Kabupaten Tanah Bumbu dan Hulu Sungai Selatan (HSS) kembali normal setelah sempat tertutup akibat longsoran tanah. Jalur ini merupakan akses vital bagi masyarakat, sehingga tindakan cepat dilakukan untuk memastikan mobilitas warga tidak terganggu dalam jangka waktu yang lama.
Alat berat segera dikerahkan ke lokasi longsor yang berada di KM 64 dan KM 66, Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe. Material tanah dari tebing yang gugur menutupi seluruh badan jalan, membuat kendaraan tidak dapat melintasi jalur tersebut. Pihak kepolisian bersama instansi terkait bekerja sama untuk membuka kembali jalur tersebut dengan pengawasan ketat di lapangan.
Kapolsek Mantewe, Iptu Kusnin, menjelaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah pembersihan jalan secepat mungkin. “Saat ini, kami sedang upayakan lakukan pembersihan dengan mengerahkan 2 unit alat untuk mengatasi longsoran yang menutupi jalan,” ujarnya. Proses pembersihan dimulai sejak pagi hari, dengan bantuan tiga unit alat berat dari BPBD, Polsek Mantewe, dan swadaya masyarakat.
Meskipun medan cukup berat, tim gabungan tetap berupaya menyingkirkan material tanah dan bebatuan yang menghalangi jalan. Harapan besar diarahkan agar arus lalu lintas dari kedua arah dapat segera normal kembali dalam waktu dekat. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih bersiaga di lokasi untuk mengatur antrean kendaraan yang mengular. Para sopir dan pengendara diminta bersabar menunggu proses pembersihan jalan selesai dilakukan secara menyeluruh.
Keberhasilan Evakuasi dalam Waktu Singkat
Proses pembersihan berhasil diselesaikan dengan cepat berkat kolaborasi taktis antara aparat gabungan dan masyarakat setempat. Peristiwa longsor terjadi di Km 66 dan Km 68, Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, pada Sabtu pagi. Material berupa tanah dan bebatuan besar menutupi seluruh badan jalan, sehingga memutus arus lalu lintas dari kedua arah.
Pembersihan dimulai pukul 09.00 WITA dengan mengerahkan tiga unit alat berat. Proses ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Mantewe Iptu Kusnin bersama Camat Mantewe Nyariman, serta didukung personel Koramil 08 Mantewe dan BPBD Tanah Bumbu. “Jalan mulai bisa dilalui sejak pukul 11.00 WITA. Berkat kerja sama yang solid di lapangan, pembersihan material berhasil diselesaikan dengan cepat,” ujar Iptu Kusnin.
Selain pembersihan material, personel gabungan juga melakukan pengaturan lalu lintas untuk mengurai antrean panjang kendaraan yang sempat tertahan sejak pagi. Tepat pada pukul 11.40 WITA, arus kendaraan dari arah Batulicin maupun Kandangan dinyatakan kembali lancar. Keberhasilan evakuasi dalam waktu singkat ini menjadi bukti efektifitas koordinasi antara Polri, TNI, Pemerintah Kecamatan, hingga warga Desa Gunung Raya dalam menangani kendala akses publik di wilayah rawan bencana.
Longsor: Penyebab, Tanda-tanda, dan Cara Menyelamatkan Diri
Bencana tanah longsor sering terjadi di lingkup persawahan, ladang, jalan, bahkan pemukiman warga. Dampak yang ditimbulkan antara lain bangunan retak, aktivitas terganggu, kerusakan lahan, kerugian materi, menyebabkan trauma, hingga kehilangan nyawa.
Longsor adalah pergerakan massal tanah, batuan, atau material lainnya di lereng gunung maupun lereng bukit. Ada beberapa penyebab longsor yang harus diwaspadai masyarakat, yaitu:
Hujan
Saat musim kemarau penguapan air di permukaan tanah membesar dan memunculkan pori-pori atau rongga tanah yang menyusul retakan atau rekahan di permukaan. Ketika hujan tiba, air akan masuk melalui retakan tersebut dan menjadi jenuh dalam waktu yang singkat dan menyebabkan tanah longsor.Jenis tata lahan
Jika pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah, maka tanah akan lembek dan jenuh dengan air, maka terjadilah tanah longsor. Kondisi ini kerap terjadi di tata lahan persawahan atau perladangan di lereng yang terjal.Getaran
Bisa jadi karena gempa bumi, ledakan, getaran mesin, atau lalu lintas kendaraan yang menyebabkan badan jalan, tanah, dan rumah-rumah menjadi retak.Beban tambahan
Adanya bangunan tambahan pada lereng juga dapat memperbesar gaya dorong tanah dan menyebabkan longsor. Ini sering terjadi di sekitar tikungan jalan di daerah lembah.Erosi
Pengikisan atau erosi salah satunya terjadi akibat penggundulan hutan di sekitar sungai, maka tebing akan menjadi terjal.Daerah pembuangan sampah
Lapisan tanah rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak juga dapat mengakibatkan tanah longsor, terlebih ketika musim hujan tiba.
Tanda-tanda Longsor
Waspadai tanda-tanda longsor di bawah ini agar selalu siaga menyelamatkan diri, seperti:
- Muncul retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Umumnya terjadi setelah musim hujan.
- Adanya mata air baru secara tiba-tiba
- Tebing rapuh dan menyebabkan kerikil berjatuhan
- Pintu dan jendela sulit dibuka
- Bagian tanah runtuh dalam jumlah besar
- Tiang listrik atau pohon banyak yang miring
- Bagian depan rumah seperti halaman tiba-tiba ambles
- Apabila musim hujan air akan tergenang, namun saat bencana datang air akan langsung hilang.
Cara Menyelamatkan Diri Saat Terjadi Longsor
Dilansir dari Buku Tanah Longsor (2023) oleh Ruyani, berikut cara menyelamatkan diri saat terjadi longsor:
Segera keluar rumah
Saat longsor baru saja terjadi dan kamu tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan harta benda, segera selamatkan diri dan keluar dari daerah longsoran ke tempat yang lebih stabil.Lindungi tubuh dan kepala
Jika tidak memungkinkan lari, lingkarkan tubuh seperti bola dengan kuat dan lindungi kepala.Cegah air hujan meresap ke lereng
Tutup retakan tanah dengan material kedap agar air hujan tidak meresap masuk ke dalam lereng.Buat saluran air
Usahakan membuat saluran air sesegera mungkin untuk mengalirkan air yang berada di permukaan menjauh dari lereng yang retak. Buat juga saluran bawah permukaan dengan pipa atau bambu untuk menguras air yang telah meresap ke lereng.Menjauh dari lereng
Segera menjauh dari lereng saat hujan untuk menyelamatkan diri.
Sejumlah langkah waspada dapat dilakukan untuk mencegah longsor sejak dini, seperti melakukan kegiatan konservasi tanah, memastikan sistem drainase yang baik, serta melakukan sosialisasi pemahaman kepada masyarakat sekitar.







