Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    5 tips agar keanggotaan gym maksimal, manfaatkan!

    11 April 2026

    Pemantauan Kemampuan Akademik Siswa SMP oleh Dindikpora Bangka

    11 April 2026

    Syahrini Kembali Bernyanyi, Suara Baru Istri Reino Jadi Sorotan di Pernikahan

    11 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 11 April 2026
    Trending
    • 5 tips agar keanggotaan gym maksimal, manfaatkan!
    • Pemantauan Kemampuan Akademik Siswa SMP oleh Dindikpora Bangka
    • Syahrini Kembali Bernyanyi, Suara Baru Istri Reino Jadi Sorotan di Pernikahan
    • Liburan Musim Dingin Tanpa Visa: 8 Negara Pilihan
    • Hasil Pertandingan FC Bekasi City vs Persekat Tegal: Bekasi City Gagal Lampaui Posisi 3 dan 4 Klasemen
    • Kalender Jawa Selasa Wage 7 April 2026, Tetaplah Pelindung
    • Kantor Polisi Palsu di Kamboja: BBC Terjebak dalam Penipuan Internasional
    • BEI Buka Suara Soal Rahasia Pemegang Saham HSC
    • Parkir Dikaitkan dengan Pajak STNK: Efisien Tapi Berpotensi Merugikan
    • 7 Film 90-an yang Mengharukan dan Bahagia
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Internasional»Maraton Geopolitik dan Anak Yatim Global: Membaca Iran Melalui Vali Nasr

    Maraton Geopolitik dan Anak Yatim Global: Membaca Iran Melalui Vali Nasr

    adm_imradm_imr19 Maret 20263 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perang Iran: Bukan Sekadar Konflik Singkat, Tapi Strategi Panjang

    Konflik antara Iran dan negara-negara Barat sering kali disalahpahami sebagai perang singkat yang mudah dipahami. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks. Ini bukan konflik seperti Vietnam dengan garis depan yang jelas, atau intervensi AS di Amerika Latin, atau invasi ke Irak dan Afghanistan yang bisa diukur dengan target strategis tertentu. Konflik Iran adalah perang yang lebih panjang dan dalam, sering kali disalahpahami karena banyak orang mencoba memahaminya dengan kerangka waktu terlalu sempit.

    Untuk memahami strategi Iran secara mendalam, kita perlu melihat pandangan dari para pemikir besar seperti Vali Nasr, seorang profesor hubungan internasional dan kajian Timur Tengah di Johns Hopkins University, School of Advanced International Studies (SAIS), serta penulis buku laris Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025). Nasr menjelaskan bahwa tindakan Iran bukan sekadar reaksi ideologis terhadap Barat, tetapi strategi panjang yang terstruktur dan historis.

    Banyak analis Barat membaca Iran sebagai negara teokratis, terlalu religius, dan dogmatis. Mereka melihat para mullah sebagai figur yang hanya bergulat dengan fiqih dan hukum teologi. Nyatanya, para mullah, bahkan mereka yang memegang kekuasaan tertinggi, adalah pembaca realitas sosial dan geopolitik yang tajam. Mereka menerjemahkan narasi religius menjadi strategi nasional yang pragmatis.

    Identitas Iran mencakup agama, tentu saja, tetapi juga nasionalisme Persia yang tak tergoyahkan. Mereka sadar posisi Iran sebagai peradaban besar lintas milenium. Nasionalisme Iran bukan hanya soal Islam Syiah. Ia juga kebanggaan atas warisan kerajaan kuno 550 sebelum Masehi, Achaemenid dan Sasaniyah, sastra Persia, dan sejarah panjang sebagai pusat budaya dan pemerintahan di Asia Barat.

    Ayatullah Ruhollah Khomeini, misalnya, tidak hanya memimpin revolusi religius. Nasr menyebutnya “Lenin-nya Iran”, bukan karena ia komunis, tetapi karena ia menerapkan teori ke dalam praxis kehidupan bangsa. Khomeini membangun institusi negara, struktur pemerintahan, dan strategi politik nyata. Ia menggabungkan teokrasi, sekuler pragmatis, dan nasionalisme Persia dalam satu visi.

    Pragmatisme Strategis dan Pemahaman Kant tentang Perdamaian Abadi

    Kunci memahami strategi Iran modern ada pada prinsip yang sejalan dengan gagasan filosofis Immanuel Kant tentang perdamaian abadi — bahwa perdamaian bukan sekadar niat moral, tetapi terjadi ketika pihak-pihak yang berkonflik kehabisan sumber daya, kelelahan, dan tidak lagi mampu berperang. Kant, filsuf Jerman abad ke-18, menulis bahwa perdamaian mesti dilihat sebagai hasil struktur politik dan perhitungan rasional antarnegara, bukan sekadar aspirasi moral semata.

    Dalam konteks Iran, Teheran memahami prinsip ini dengan brutal: bukan moralitas yang memandu tindakan mereka, tetapi pragmatisme strategis – menunggu lawan kelelahan, lalu memaksa mundur. Tujuannya adalah mengusir Amerika Serikat dari Timur Tengah dan memaksa rival besar menghitung ulang biaya keterlibatan mereka, bukan sekadar memenangkan satu pertempuran instan.

    Membangun Ketahanan Internal dan Jaringan Sekutu Religional

    Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama. Untuk memahami strategi ini, kita harus melihat sejarah panjang Iran sebagai “yatim internasional”, negara yang sering menghadapi musuh besar tanpa sekutu setia.

    Titik awalnya jauh sebelum era modern. Pada 1828, melalui Treaty of Turkmenchay, Iran kehilangan wilayah besar di Kaukasus kepada Rusia – sebuah bukti bahwa negara itu berada di persimpangan kepentingan kekuatan besar. Titik balik modern terjadi pada 19 Agustus 1953, ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan oleh operasi CIA – AS dan MI6 – Inggris setelah ia menasionalisasi industri minyak karena ancaman terhadap kepentingan Barat, sebuah pengalaman yang membentuk keyakinan bahwa bergantung pada campur tangan asing selalu berujung pada pengkhianatan.

    Ini memperkuat kesadaran bahwa bertahan sendiri adalah satu-satunya pilihan. Pelajaran itu diuji lagi pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah. Banyak mengira revolusi itu sekadar religius. Faktanya, ia adalah reaksi terhadap dominasi asing dan kerinduan kedaulatan. Revolusi ini mencampurkan aspirasi religius dengan nasionalisme Persia yang kuat. Tak lama kemudian, ketegangan wilayah memuncak menjadi perang Iran–Iraq.

    Perang yang Berlangsung Delapan Tahun

    Perang berlangsung hingga 1988, delapan tahun penuh kehancuran. Yang membedakan perang ini adalah dukungan asing terhadap Irak: Amerika Serikat memberi intelijen, kredit, teknologi, serta dukungan diplomatik, sementara negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait memberi dukungan finansial besar. Iran menghadapi perang sendiri, memperkuat pengalaman sebagai yatim internasional. Namun di balik kesendirian itu muncul kebijakan luar biasa: kesabaran strategis.

    Teheran tidak membalas secara impulsif atau agresif di luar konteks, tetapi memilih bertahan. Ia membangun ketahanan internal dan mengembangkan pendekatan kompleks melalui jaringan sekutu regional. Ini termasuk Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman – strategi yang dikenal sebagai Axis of Resistance.

    Program Nuklir sebagai Deterrence

    Program nuklir Iran sering disalahpahami oleh pengamat Barat sebagai ambisi agresif. Sementara bagi Teheran, ia adalah elemen deterrence — pencegahan, bukan soal bom semata, tetapi soal menghitung ulang biaya intervensi lawan setelah sejarah panjang tekanan dan isolasi. Teheran menikmati kesabaran ini seperti pelari maraton, bukan sprinter. Ia tidak mengejar kemenangan cepat. Ia tahu lawan bisa menang di babak awal, tetapi strategi Iran tetap: bertahan, membangun kekuatan internal, dan memperluas pengaruh secara perlahan.

    Strategi yang Terbukti dalam Konflik Kontemporer

    Sejarah panjang menguatkan pola ini: dari Treaty of Turkmenchay 1828, kudeta Mossadegh 1953, revolusi 1979, hingga perang Iran–Iraq 1980–1988 – setiap tekanan memperdalam kesadaran untuk berjalan sendiri dan memperkuat narasi “yatim internasional.” Fenomena kontemporer memperlihatkan strategi ini dengan nyata. Serangan Iran terhadap seluruh pangkalan AS di Teluk, negara Arab, dan Asia Tengah menunjukkan jangkauan strategis luar biasa.

    Bukan sekadar reaksi atau propaganda. Iran menunjukkan kemampuan ofensif melalui proxy, rudal, drone, dan jaringan sekutu regional. Setiap serangan bertujuan mengalihkan tekanan, menciptakan biaya berkelanjutan, dan memaksa lawan menilai ulang keterlibatan mereka di kawasan. Serangan ini bukan aksi tunggal; ia terintegrasi dengan Axis of Resistance – sumbu perlawanan yang memperluas pengaruh Iran sekaligus menguras kesabaran lawan.

    Bertahan Lebih Lama Daripada Lawan

    Pandangan Nasr membuat konflik kontemporer antara Iran, AS, dan Israel lebih mudah dipahami. Serangan awal mungkin tampak berhasil bagi Washington atau Tel Aviv, tetapi strategi Iran adalah maraton geopolitik, bukan sprint. Tehran bertahan, membangun kapasitas internal, dan memperluas pengaruhnya secara bertahap. Babak awal bisa tampak Amerika menang, tetapi jika kita menunggu bulan, tahun, atau dekade, pola Iran tetap: kesabaran, pragmatisme, dan ketahanan. Tidak ada kemenangan instan, hanya kemenangan melalui keausan lawan.

    Definisi kemenangan menurut Iran, dalam pandangan Nasr, bukan memusnahkan musuh dalam hitungan minggu, tetapi bertahan lebih lama daripada lawan, memaksa mereka mundur, dan menjaga integritas nasional. Inilah kemenangan yang bersifat historis, pragmatis, dan strategis. Dalam kerangka ini, konflik nuklir, regional, dan militer yang sedang berlangsung hari ini bukan perang biasa. Ia adalah pertempuran panjang dengan logika maraton, di mana lawan diharapkan kelelahan, pengaruh diperluas perlahan, dan kemenangan terukur bukan dari jumlah serangan, melainkan dari kemampuan bertahan dan mempertahankan kedaulatan dalam jangka panjang.






    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Anggota DPR Usulkan Pergeseran TNI dari UNIFIL Setelah 3 Prajurit Gugur

    By adm_imr11 April 20260 Views

    Macron vs Trump: Kekacauan Barat dan Strategi Iran

    By adm_imr11 April 20261 Views

    Beberapa Jam Lagi, Trump Akan Serang Iran: Listrik, Jembatan, dan Militer Jadi Target

    By adm_imr11 April 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    5 tips agar keanggotaan gym maksimal, manfaatkan!

    11 April 2026

    Pemantauan Kemampuan Akademik Siswa SMP oleh Dindikpora Bangka

    11 April 2026

    Syahrini Kembali Bernyanyi, Suara Baru Istri Reino Jadi Sorotan di Pernikahan

    11 April 2026

    Liburan Musim Dingin Tanpa Visa: 8 Negara Pilihan

    11 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?