Kehidupan Mbah Riyan: Ulama yang Menjadi Kuli Bangunan dan Penulis Kitab
Mbah Riyan, nama panggilan dari Supriyanto, adalah seorang tokoh yang dikenal dalam dunia keilmuan Islam. Ia memiliki julukan Ibnu Harjo Al-Jawi, yang menjadi identitasnya dalam khazanah ilmu ke-Islaman. Meski namanya banyak dibicarakan oleh warganet, ia tetap menjalani kehidupan sederhana sebagai kuli bangunan di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.
Di balik kepiawaiannya dalam mentahqiq kitab klasik berbahasa Arab, Mbah Riyan juga memiliki hobi memancing. Aktivitas ini menjadi salah satu cara untuk menenangkan pikirannya setelah menjalani pekerjaan serabutan. Pria kelahiran tahun 1986 ini tinggal di rumah sederhana yang menghadap langsung ke sawah, tempat ia menyambut tamu dengan secangkir kopi.
Perjalanan Karier dan Pendidikan
Sebelum kembali ke desa, Mbah Riyan pernah bekerja sebagai staf pengajar di lembaga pendidikan Islam Arraayah di Sukabumi Jawa Barat dari tahun 2013 hingga 2018. Keputusan untuk kembali ke Kudus pada 2018 adalah bentuk keinginannya untuk hidup tenang bersama keluarga setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta.
Sejak tahun 2005 hingga 2013, ia menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Setelah lulus, dia diamanahi untuk mengabdi di lembaga pendidikan tersebut. Namun, karena sudah menikah sejak masa mahasiswa, ia terpaksa terpisah dari keluarga. Hal ini membuatnya memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk menjalani kehidupan yang lebih stabil.
Mentahqiq Kitab Klasik
Meskipun bekerja sebagai kuli bangunan, Mbah Riyan tidak pernah meninggalkan aktivitas pentahqiq kitab klasik. Awal mula aktivitas ini dimulai pada tahun 2012 saat masih menjadi mahasiswa di LIPIA. Karya pertamanya yang ditahqiq adalah buku Faraid Saniyah karya KH Syaroni Ahmadi, seorang ulama asal Kudus.
Hingga saat ini, Mbah Riyan telah menahqiq lebih dari 100 kitab klasik berisi ilmu ke-Islaman. Banyak dari karya-karyanya yang belum diterbitkan, terutama manuskrip dari para ulama Nusantara. Proses tahqiq melibatkan analisis, koreksi, dan verifikasi agar karya tersebut layak diterbitkan.
Pendidikan dan Pengembangan Diri
Pengembangan dirinya dalam bidang keislaman dimulai sejak kecil. Ia belajar di Madrasah Diniyah Hidayatul di kampungnya sambil menempuh pendidikan dasar di SDN 3 Wates. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Nahdlatul Muslimin di Undaan Kidul.
Gurunya memberinya arahan untuk melanjutkan studi ke LIPIA Jakarta. Di sana, ia mendalami ilmu ke-Islaman dan terbukti unggul. Pada tahun 2012, ia bahkan mendapatkan undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji.
Karya Tulis dan Kepribadian Sederhana
Selain mentahqiq, Mbah Riyan juga aktif menulis. Dia telah menyelesaikan sekitar 10 karya berbahasa Arab dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Menurutnya, menulis merupakan bagian dari kehidupannya yang memberinya makna. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak terikat pada aturan instansi, sehingga bisa lebih leluasa dalam menulis dan mentahqiq.
Kepribadian sederhananya juga terlihat dalam pilihan hidupnya. Ia tidak lagi menggunakan media sosial seperti Facebook sejak 2018. Hanya WhatsApp yang digunakan untuk komunikasi dengan teman-teman dekat dan kawan-kawan yang meminta bantuan tahqiq.
MUI Award 2026
Pada Juli 2026, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Mbah Riyan sebagai penerima MUI Award 2026 kategori karya tulis Islam. Meskipun awalnya tidak merespons undangan, akhirnya ia menjadi pemenang penghargaan tersebut. Nama lain yang digunakannya adalah Ibnu Harjo Al-Jawi, yang terinspirasi dari kesederhanaan dan kegigihan kakeknya, Harjo.
Harjo, kakek Mbah Riyan, adalah seorang anak yatim yang hidup ala kadarnya. Ia pernah tidur di sembarang tempat sebelum diadopsi oleh orang lain. Keberhasilan kakeknya dalam menghadapi tantangan kehidupan menjadi inspirasi bagi Mbah Riyan untuk menjalani hidup sederhana dan tidak terlalu terkenal.
Kehidupan yang Tenang dan Sederhana
Meski memiliki prestasi dalam bidang keilmuan Islam, Mbah Riyan tetap menjalani kehidupan biasa-biasa saja. Kadang ia bekerja sebagai kuli bangunan atau di gudang jasa ekspedisi. Hobinya memancing tetap menjadi bagian dari rutinitas harian.
Ia tidak ingin diviralkan dan selalu berusaha menghindari keriuhan publik. “Saya berusaha untuk menghindar dari situ,” katanya dengan nada lirih. Meski begitu, karya-karyanya dalam bentuk kitab dan tulisan tetap dikenal dalam khazanah keilmuan Islam.




