Kehilangan Seorang Ayah dalam Dunia Pendidikan
Dr. Ir. Bahrudin Hasan, MP., adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai seorang dosen, tetapi juga sebagai ayah bagi banyak mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Kepergiannya ke rahmatullah meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar kampus tersebut. Bukan hanya kehilangan seorang pengajar ahli di bidangnya, tetapi juga kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat berteduh bagi para mahasiswa dalam menghadapi dinamika perkuliahan.
Bahrudin dikenal dengan kerendahan hatinya yang luar biasa. Di ruang kelas, ia bukanlah seorang penguasa pengetahuan yang menakutkan, melainkan seorang pembimbing yang memegang tangan mahasiswanya agar tidak terjatuh. Ia tidak pernah memperlihatkan arogansi atau keangkuhan, melainkan kecerdasan intelektual yang dibarengi dengan kecerdasan spiritual dan kasih sayang yang tulus. Bagi almarhum, setiap mahasiswa adalah darah dagingnya sendiri.
Filosofi Seorang Ayah dalam Ruang Kuliah
Keunikan utama Dr. Bahrudin Hasan terletak pada perspektifnya dalam melihat mahasiswa. Almarhum selalu memperlakukan setiap mahasiswa layaknya anak kandung. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebagai seorang ayah yang memiliki anak di rumah, ia memiliki empati yang tajam. Ia sadar bahwa setiap mahasiswa yang duduk di hadapannya adalah titipan harapan dari orang tua yang jauh di sana.
Dalam sanubari almarhum, selalu tertanam sebuah refleksi: bagaimana jika anak kandungnya diperlakukan secara tidak adil atau disakiti oleh dosen lain? Ketakutan akan hukum karma inilah yang membuatnya tidak pernah berniat menyakiti, mengecewakan, atau memperlakukan mahasiswa secara tidak manusiawi. Baginya, kesuksesan mahasiswa adalah kebahagiaan seorang ayah.
Dosen yang Memiliki Insting Kebapakan
Dunia akademik seringkali menjadi panggung yang keras ketika jabatan jatuh ke tangan individu yang kehilangan sentuhan kemanusiaan. Dalam dinamika kehidupan kampus, sering dipertontonkan perbedaan mencolok antara dosen yang memiliki insting kebapakan seperti Dr. Bahrudin, dengan oknum yang mungkin karena tidak dikaruniai anak, membuatnya kehilangan empati dan menjadi buta hati di saat berkuasa terhadap mahasiswa.
Dosen yang memiliki anak kandung umumnya memiliki rem dalam bertindak. Mereka memahami arti tangisan seorang anak dan harapan sebuah keluarga. Namun, sangat berbeda ceritanya ketika jabatan pimpinan diduduki oleh sosok yang tidak memiliki kelembutan hati tersebut. Ada kecenderungan bagi mereka yang mandul secara rasa dan nurani untuk memperlakukan mahasiswa sebagai musuh, bukan sebagai aset bangsa.
Antitesis dari Kegelapan
Dr. Bahrudin Hasan adalah antitesis dari kegelapan tersebut. Ia membuktikan bahwa pemimpin dan dosen yang baik adalah mereka yang menggunakan hati, bukan sekadar aturan kaku yang mematikan masa depan generasi muda. Bagi rekan sejawatnya di Universitas Tadulako, Dr. Bahrudin adalah sosok yang agamis dalam arti yang sebenar-benarnya. Keberagamaannya tidak ditampilkan melalui jargon-jargon kosong, melainkan melalui perilaku nyata. Ia juga menerapkan nilai-nilai persaudaraan di atas segalanya.
Lelaki yang Beranak Vs Lelaki yang Mandul
Pakar utama yang membahas tentang perbedaan lelaki yang beranak dan lelaki tanpa anak adalah Erik Erikson, seorang psikolog perkembangan terkenal. Dalam teorinya tentang Eight Stages of Psychosocial Development, tahap ketujuh pada usia dewasa madya (40–65 tahun) adalah masa Generativity vs. Stagnation.
Generativitas, Dosen yang Punya Anak yang Berjiwa Ayah. Generativitas adalah dorongan untuk membimbing generasi berikutnya. Laki-laki yang memiliki anak atau memiliki insting kebapayan yang kuat, cenderung berhasil melewati tahap ini. Mereka merasa bertanggung jawab untuk mewariskan kebaikan. Sikap ini berpengaruh ke mahasiswa, di mana ia akan melihat mahasiswa sebagai perpanjangan dari anak sendiri. Ada rasa empati yang muncul secara alami.
Stagnasi pada Dosen yang Mandul secara Psikologis, akan gagal mengembangkan rasa generativitas, yakni berbuat baik karena tidak memiliki anak dan tidak menyalurkan instingnya ke hal positif, atau karena kepribadian yang narsistik, sehingga ia akan mengalami stagnasi. Kondisi stagnan seperti itu merasa dunia hanya berputar di sekitar dirinya. Karena tidak memiliki objek untuk dicintai secara tulus berupa anak kandung, sehingga oknum itu seringkali menjadi pahit, kaku, dan memandang keberhasilan orang lain, termasuk mahasiswa sebagai ancaman.
Selamat jalan Dr. Bahrudin Hasan. Terima kasih telah menunjukkan kepada banyak orang bahwa menjadi dosen tidak harus menjadi kejam, dan menjadi pimpinan tidak harus kehilangan nurani. Semoga setiap kemudahan yang engkau berikan kepada mahasiswa menjadi amal jariyah yang menerangi jalanmu menuju surga-Nya. Innalillahi wa Innailaihi Rojiun.







