Pesan Menteri Pertanian untuk Wisudawan Untad
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan pesan motivasi kepada sekitar 2.500 wisudawan Universitas Tadulako (Untad) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dalam acara Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Untad periode ke-138 yang berlangsung pada Kamis (20/8/2026), ia menekankan pentingnya semangat juang dan ketekunan dalam membangun masa depan.
Amran meminta para lulusan tidak menganggap wisuda sebagai akhir dari perjalanan. Justru, ia menilai kelulusan merupakan awal bagi para sarjana untuk membangun masa depan melalui keberanian, kerja keras, dan ketekunan. “Kalau mau sukses, harus berjuang. Sukses harus kamu rebut,” ujarnya di hadapan para wisudawan.
Pengalaman hidup Amran sendiri menjadi contoh nyata bagaimana keterbatasan bisa menjadi awal dari kesuksesan. Ia menceritakan bahwa saat pertama kali datang ke Jakarta, uang yang dimilikinya hanya sekitar Rp300 ribu. Keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita. Bahkan, ia pernah memilih tidur di masjid untuk bertahan hidup sambil mencari jalan untuk melanjutkan perjuangan.
Menurut Amran, pengalaman menghadapi kesulitan menjadi bagian penting dalam membentuk mental seseorang. Karena itu, ia meminta para wisudawan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan setelah meninggalkan kampus. “Yang dibutuhkan adalah endurance, ketahanan kita,” ujarnya.
Menghadapi Tantangan dengan Semangat Juang
Amran juga mengingatkan para lulusan agar tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya tujuan setelah memperoleh gelar sarjana. Ia mendorong generasi muda untuk berani membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Menurutnya, peluang dapat dibangun dari berbagai sektor, termasuk pertanian yang kini semakin membutuhkan generasi muda dengan kemampuan teknologi dan pola pikir kewirausahaan. “Jangan hanya mendaftar-mendaftar. Ciptakan lapangan kerja,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Amran juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan sektor pertanian. Ia menilai Indonesia membutuhkan anak muda yang tidak hanya menjadi pekerja, tetapi mampu mengelola usaha pertanian secara modern dan menghasilkan nilai ekonomi.
Bantuan Sarana Pertanian untuk Mahasiswa dan Alumni
Salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian menyampaikan kebutuhan sarana pendukung untuk melakukan penelitian di lahan sekitar dua hektare. Mendengar kebutuhan tersebut, Amran memberikan dukungan berupa sumur bor dan satu unit hand tractor. Ia juga membuka peluang bantuan benih maupun bibit agar lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan praktik mahasiswa.
“Bor airnya dulu supaya lahannya bisa terus ditanami dan digunakan untuk praktik,” ujarnya.
Dukungan juga diberikan kepada alumni Untad yang telah membentuk Brigade Pangan. Kelompok yang beranggotakan sekitar 15 orang itu disebut telah mengelola lahan ratusan hektare di wilayah Napu. Namun, keterbatasan modal membuat mereka masih harus menyewa sejumlah alat mesin pertanian. Amran menyatakan akan memberikan dukungan berupa satu unit combine harvester dan satu unit traktor roda empat. Meski demikian, ia meminta jajarannya terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap kelompok dan lahan dikelola sebelum bantuan diserahkan.
“Saya senang anak muda begini. Kamu jangan lagi mendapatkan pekerjaan. Kamu harus jadi orang kaya,” kata Amran.
Tekanan Bukan Alasan Menyerah
Amran mengingatkan para wisudawan bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu berjalan mulus. Menurutnya, kegagalan, penolakan, kritik, hingga berbagai tekanan merupakan bagian dari proses untuk membentuk mental yang kuat. Ia meminta para sarjana Untad tidak takut menghadapi kondisi sulit ketika mulai membangun usaha atau mengejar cita-cita.
Amran mengibaratkan perjalanan membangun bisnis seperti proses mengebor sumber air. Pada awalnya, seseorang mungkin hanya menemukan lumpur dan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, apabila terus bertahan dan tidak menyerah, hasil yang lebih baik akan diperoleh. “Pada saat mau tembus, di situ orang menyerah,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta para lulusan Untad menjaga semangat, keberanian, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.
Pesan Akhir untuk Wisudawan
Di akhir pesannya, Amran juga mengingatkan para wisudawan agar tetap menjaga nama baik almamater dan menghormati orang tua serta dosen yang telah mendukung perjalanan pendidikan mereka. “Selamat berjuang. Jaga nama baik Tadulako, jaga nama baik ibumu, jaga nama baik gurumu yang ada di sini. Selamat berjuang,” pungkasnya.







