Perubahan Demografi di Sulawesi Utara
Lagu Alphaville yang populer pada 1984, “Forever young,” seakan menggambarkan keinginan manusia untuk tetap muda selamanya. Namun, waktu tidak pernah bisa diajak kompromi. Manusia menua, generasi berganti. Kini, Sulawesi Utara sedang memasuki fase penuaan penduduk. Anak-anak semakin sedikit, penduduk usia produktif akan berkurang, sementara lansia bertambah banyak. Pertanyaannya, apakah Sulawesi Utara sudah siap menghadapi dampak sosial dan ekonomi dari penuaan penduduk?
Proporsi penduduk lansia 60 tahun ke atas di Sulawesi Utara tahun 2025 telah mencapai 14,12 persen, lebih tinggi dari proporsi lansia secara nasional. Dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2020, angka ini menunjukkan tren meningkat. Di sisi lain, proporsi anak-anak di bawah 15 tahun menurun. Sekilas, perubahan tersebut mungkin terlihat biasa saja. Padahal, di balik angka-angka tersebut sedang berlangsung perubahan besar pada wajah demografi Sulawesi Utara. Jika diabaikan, perubahan ini akan membawa konsekuensi serius.
Bayangkan Sulawesi Utara ketika Indonesia memasuki era Indonesia Emas 2045. Sebagian Generasi X akan memasuki kelompok lansia, sementara generasi milenial menuju usia paruh baya. Generasi Z dan generasi yang lebih muda akan menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, mereka akan memasuki kelompok usia produktif ketika jumlah generasi muda semakin kecil akibat rendahnya kelahiran.
Jangan terlena dengan bonus demografi. Jendela kesempatan ini tidak terbuka selamanya. Rendahnya kelahiran akan mempersempit pasokan penduduk usia kerja. Sulawesi Utara harus memastikan penduduk usia produktif benar-benar produktif karena bonus demografi tidak secara otomatis mendatangkan bonus ekonomi. Mereka harus terserap dalam pekerjaan yang produktif dan layak, bukan semata-mata terserap di pekerjaan informal yang relatif rentan terhadap gejolak ekonomi dan minim perlindungan kerja. Perempuan juga harus memperoleh ruang lebih luas dalam pasar kerja dan pertumbuhan ekonomi.
Inilah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Sulawesi Utara harus mempersiapkan setiap generasi sebelum bonus demografi berakhir.
Dari Kelahiran Rendah ke Penduduk Menua
Penuaan penduduk tidak terjadi begitu saja. Salah satu akarnya adalah penurunan angka kelahiran yang berlangsung selama puluhan tahun. Sejak tahun 1971 hingga 2025, total fertility rate (TFR) Indonesia turun drastis, dari sekitar lima anak per perempuan menjadi sekitar dua anak. Penurunan tersebut merupakan capaian penting dalam pembangunan kependudukan. Namun, dalam jangka panjang, penurunan kelahiran juga berjalan bersamaan dengan perubahan cara pandang masyarakat terhadap keluarga, perkawinan, dan keputusan untuk memiliki anak.
Kini sebagian besar pasangan usia subur menggunakan kontrasepsi, usia perkawinan pertama semakin mundur, dan fenomena childfree mulai muncul. Keputusan untuk memiliki anak kini semakin dipengaruhi pertimbangan biaya hidup, pendidikan, karier, dan gaya hidup. TFR Sulawesi Utara pada 2025 telah mencapai 2,07 anak per perempuan dan diproyeksikan terus menurun hingga 2050. Di antara kabupaten/kota di Sulawesi Utara, TFR Minahasa adalah yang terendah. Gambaran ini bukanlah alasan untuk memaksa masyarakat memiliki lebih banyak anak, karena memiliki anak adalah keputusan pribadi. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah menyiapkan kebijakan untuk menghadapi konsekuensi demografis dari perubahan tersebut. Ketika kelahiran terus turun, struktur umur pasti bergeser. Jika tidak diantisipasi, tekanan terhadap ketersediaan tenaga kerja bukan lagi sekadar proyeksi, melainkan dapat menjadi kenyataan.
Lahir Sedikit, Pergi Banyak
Dinamika penduduk tidak sekadar tentang kelahiran dan kematian, tetapi juga migrasi. Dari perspektif daerah asal, migrasi keluar dalam skala besar dapat berarti berkurangnya sumber daya manusia yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal.
Minahasa memberi contoh nyata. Rendahnya angka kelahiran menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya proporsi lansia di daerah ini, yang telah menembus 17,65 persen, melampaui angka nasional dan provinsi. Pada saat yang sama, arus migrasi keluar lebih deras daripada yang masuk. Dari 100 penduduk yang bermigrasi keluar dari Minahasa pada 2025, sekitar 16 orang merupakan penduduk yang lahir di Minahasa. Keputusan untuk bermigrasi adalah hak setiap orang. Namun faktor apa yang mendorong mereka keluar dari Minahasa dan faktor apa yang menarik mereka masuk ke wilayah lain perlu dicermati. Apakah karena fasilitas, pekerjaan, upah, atau peluang karier? Jika anak muda pergi karena daerahnya tidak mampu menawarkan masa depan, persoalannya bukan semata-mata migrasi. Itu adalah alarm bagi daya saing daerah.
Minahasa mungkin hanya satu potret kecil. Namun, potret ini menunjukkan bahwa perubahan demografi, meski bergerak perlahan, pada akhirnya akan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menua Tanpa Persiapan
Penuaan penduduk bukan semata-mata persoalan tentang berapa banyak lansia, melainkan bagaimana mereka akan menjalani masa tua. Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2025 menunjukkan bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidup, hampir separuh lansia masih bergantung pada keluarga. Hanya sekitar satu persen yang memenuhi kebutuhan hidupnya dari jaminan sosial, sementara kurang dari satu persen yang mengandalkan tabungan atau investasi. Artinya, sebagian besar lansia belum memiliki ketahanan ekonomi untuk menjalani masa tua secara mandiri.
Kondisi ini membuat fenomena sandwich generation semakin relevan. Ketika jumlah anak dalam keluarga semakin sedikit, biaya perawatan anggota keluarga dapat menjadi persoalan ekonomi rumah tangga. Di satu sisi, ada rasa tanggung jawab dan bakti terhadap orang tua. Di sisi lain, anak harus menanggung kebutuhan keluarga yang semakin beragam.
Karena itu, kita tidak bisa membangun masa depan dengan asumsi bahwa setiap orang tua akan selalu memiliki anak yang mampu menopangnya. Keluarga juga tidak dapat terus menjadi jaring pengaman. Kebijakan menghadapi penuaan penduduk pun tidak boleh berhenti pada bantuan sosial ketika seseorang sudah berada di kondisi rentan. Persiapan harus dimulai jauh sebelum usia lanjut tiba. Setidaknya ada tiga agenda besar yang perlu dilakukan.
Pertama, rawat generasi baru sejak 1.000 hari pertama kehidupannya dan pastikan mereka mendapatkan pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Kedua, optimalkan generasi usia produktif di pasar kerja dengan menciptakan lapangan kerja yang produktif dan bernilai tambah tinggi, serta memperluas keterlibatan perempuan di pasar kerja.
Ketiga, siapkan generasi tua menjadi lansia sehat, mandiri, dan berdaya melalui jaminan sosial, layanan kesehatan, literasi keuangan, dan lingkungan yang ramah lansia.
Penuaan penduduk pada akhirnya bukan hanya persoalan demografi. Ia akan masuk ke ruang keluarga, memengaruhi pendapatan rumah tangga, biaya perawatan, dan kualitas hidup.
Belajar Sebelum Terlambat
Dunia sudah memberi banyak contoh tentang apa yang terjadi ketika perubahan demografi tidak diantisipasi sejak awal. Jepang menunjukkan bagaimana kelahiran rendah dan penuaan penduduk dapat berlangsung bersamaan dengan penyusutan populasi dan tekanan pada pasar kerja serta sistem jaminan sosial. Kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan kependudukan Jepang tentunya berbeda dari Indonesia. Tetapi pengalamannya memberikan pesan sangat penting, yaitu perubahan demografi berlangsung lebih cepat dari kemampuan kebijakan untuk beradaptasi, dan dampaknya merembet dari pasar kerja ke sistem jaminan sosial dan kehidupan keluarga. Sulawesi Utara tidak harus menunggu dampak penuaan penduduk semakin berat untuk mulai bersiap.
Penduduk adalah Masa Depan
Anak hari ini adalah pekerja esok hari, dan pekerja hari ini adalah lansia masa depan. Karena itu, kebijakan kependudukan harus memastikan setiap generasi siap menjalani zamannya. Pemerintah daerah perlu menjadikan perubahan struktur penduduk sebagai pertimbangan utama dalam setiap perencanaan pembangunan, bukan sekadar sebagai angka dalam proyeksi statistik.
Pada akhirnya, masa depan bangsa ditentukan oleh penduduknya. Jika kita gagal menyiapkan generasi hari ini, jangan berharap generasi esok mampu menyelamatkan bangsa yang fondasinya telah rapuh.
Menua adalah kepastian. Tetapi menua tanpa persiapan adalah pilihan.







