Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran telah menjadi perhatian utama di tengah dinamika politik dan keamanan negara tersebut. Menurut laporan yang diterbitkan oleh berbagai media, termasuk Iran International, proses pemilihan ini dilakukan oleh Majelis Pakar yang terdiri dari 88 anggota. Pertemuan ini dilaksanakan secara virtual, sebuah langkah yang menunjukkan adaptasi terhadap situasi khusus yang sedang dihadapi.
Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei, disebut sebagai tokoh yang memiliki pengaruh signifikan dalam lingkaran kekuasaan Iran. Meskipun belum pernah memegang jabatan pemerintahan formal, ia diketahui memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Pasukan Quds IRGC. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang konservatif garis keras yang mendukung kebijakan tegas terhadap lawan-lawan rezim.
Menurut laporan dari CNN, pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak tidak sepenuhnya diterima oleh kalangan ulama Syiah di Iran pasca-revolusi. Namun, proses pemilihan ini tetap berlangsung sesuai dengan ketentuan Konstitusi Iran, yang menyatakan bahwa dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus segera memilih pengganti.
Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengumumkan bahwa Majelis Ahli akan berkumpul untuk memulai proses pemilihan. Ia menekankan bahwa proses ini akan dilakukan secara cepat dan transparan.
Serangan AS dan Israel terhadap Iran
Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah mengakibatkan kerugian besar baik dalam korban jiwa maupun biaya ekonomi. Pada 28 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi melalui video di platform Truth Social bahwa AS telah terlibat dalam “operasi tempur besar” di Iran, yang diberi nama Operasi Epic Fury.
Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir serta menghancurkan infrastruktur rudal mereka. Sejak dimulai pada hari Sabtu, lebih dari 1.250 target di Iran telah dihancurkan, termasuk fasilitas nuklir dan militer utama. Serangan ini melibatkan berbagai sistem senjata canggih dari AS dan Israel, seperti pesawat pembom B-1 dan B-2, jet tempur F-35 dan F-22, serta pesawat perang elektronik EA-18G Growler.
Selain itu, sistem pertahanan rudal seperti Patriot dan THAAD juga dikerahkan untuk menghadang serangan balik dari Iran. Buntut dari serangan ini adalah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap kediamannya. Hingga Senin, jumlah korban tewas di Iran mencapai 555 orang, menurut Bulan Sabit Merah Iran.
Biaya Perang yang Membengkak
Biaya operasional dari kampanye militer ini diperkirakan mencapai miliaran dolar AS. Pengeluaran tersebut mencakup biaya senjata, peralatan militer, dan juga pengeluaran untuk mendukung pasukan yang terlibat dalam konflik. Selain itu, penggunaan persenjataan canggih yang intensif turut meningkatkan potensi pemborosan sumber daya negara.
Biaya yang dikeluarkan AS untuk mendukung perang ini sangat tinggi. Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, total pengeluaran AS terkait operasi ini diperkirakan mencapai antara 31,35 miliar dolar AS hingga 33,77 miliar dolar AS sejak dimulai pada Oktober 2023. Untuk Operasi Epic Fury, diperkirakan AS menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS hanya dalam 24 jam pertama, dengan biaya tambahan sebesar 630 juta dolar AS untuk logistik dan mobilisasi pasukan.
Jika operasi ini berlanjut dengan intensitas tinggi, AS bisa menghabiskan sekitar Rp 109 miliar per hari untuk mendanai operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Masalah Persediaan Senjata: Risiko Bagi AS
Meskipun AS memiliki anggaran pertahanan yang besar, para analis memperingatkan bahwa persediaan senjata canggih terutama rudal pencegat seperti Patriot dan THAAD adalah titik lemah yang berpotensi mengancam keberlanjutan operasi. Christopher Preble, analis dari Stimson Center, menjelaskan bahwa senjata-senjata ini tidak dapat diproduksi dengan cepat. Rudal pencegat seperti Patriot dan SM-6, yang digunakan untuk menghadang serangan rudal balistik, membutuhkan waktu produksi yang lama dan sangat mahal.
Selain itu, Iran dapat memproduksi hingga 100 rudal per bulan, sedangkan AS hanya mampu memproduksi sekitar 6 hingga 7 pencegat dalam periode yang sama. Ketidakseimbangan ini dapat melemahkan efektivitas pertahanan AS dalam perang jangka panjang, terutama jika serangan datang dalam jumlah besar dan terkoordinasi.
Para ahli juga mengkhawatirkan bahwa senjata-senjata ini dialokasikan untuk medan pertempuran lain, seperti di Ukraina dan Indo-Pasifik, yang semakin membatasi ketersediaan persediaan bagi AS di Timur Tengah. Preble memperingatkan, tanpa solusi logistik yang memadai, kehilangan persediaan senjata bisa menjadi masalah besar bagi AS jika perang berlangsung lebih lama.







