Persiapan Menuju Ramadan yang Penuh Berkah
Ramadan semakin dekat, hari demi hari kita menghadapi bulan Sya’ban 1447 H. Di sisa waktu ini, berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadan dalam Islam. Momentum istimewa ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan pahala diri sendiri serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan meningkatkan kepedulian sosial (hablum minannas) melalui ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an.
Penting bagi kita untuk mempersiapkan diri secara sempurna dalam beribadah tanpa jeda per harinya. Topik ini bisa disampaikan dalam penyampaian Khutbah Jumat di tanggal 13 Februari 2026 esok hari.
Khutbah I
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan umat Islam dan menjadikannya sebaik-baik umat yang telah dikeluarkan untuk manusia. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.
Mari tingkatkan kualitas takwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa, dalam arti kita selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan Hari Jumat yang agung ini, hari rayanya umat Islam, yang kita semua berbondong-bondong untuk mendatangi rumah Allah, dan melaksanakan kewajiban kita yaitu Salat Jumat berjamaah.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Ta’ala, karena sampai detik ini, saat ini, kita masih diberikan berbagai nikmat yang tiada mampu kita menghitungnya, termasuk nikmat hidup yang pada hari ini kita sudah berada hampir di penghujung Sya’bän. Semoga kita semua masih diberikan kesempatan untuk menyambut bulan suci Ramadan, yang sekarang sudah berada di depan pintu rumah kita.
Pada kesempatan hari Jumat ini, Khatib akan menyampaikan satu judul khutbah yaitu; Sya’ban di Ruang Tamu Ramadan di Depan Pintu.
Persiapan Batin untuk Menyambut Ramadan
Ramadan besok akan menghampiri kita, dengan suka cita kita akan menyambutnya. Namun tidak jarang dalam menyambut bulan suci Ramadan, kita hanya fokus pada hal-hal berupa pemenuhan fisik semata. Seperti persiapan menu Ramadan, kurma yang dipilih, bahkan jadwal buka bersama teman, kolega pun sudah ditentukan harinya. Padahal Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dengan pahala berlimpah.
Ada hal penting yang luput dari perhatian kita dalam menyambut Ramadan. Persiapan tersebut berupa persiapan batin, terutama di bulan Syaban, bulan sebelum bulan suci. Agar lebih maksimal dan pada akhirnya meraih kemenangan saat Idul Fitri nanti. Layaknya seorang atlit, kita pun perlu mempersiapkan fisik mental sebelum bertanding.
Seperti yang dikatakan Al Imam Habib bin Abi Tsabit, dikatakan Imam Salamah bin Kuhail; “Bulan Syaban adalah bulannya pembaca-pembaca Al-Qur’an”. Diantara makna bulan Syaban adalah bulan bagi pembaca-pembaca Al-Qur’an pemanasan buat Ramadan. “Orang-orang terbaik itu latihan. bukan mengandalkan kemampuannya secara spontanitas”.
Selain baca Al-Qur’an, rutin salat malam, perbanyak puasa sunnah pun dilatih sebelum Ramadan. Terutama di bulan Syaban, bulannya latihan sebelum Ramadan. Sehingga saat bulan Ramadan, kita bisa maksimal dalam beribadah.
Perhatikan Persiapan Jiwa dan Raga
Sidang Jumat yang mulia
Boleh jadi sudah berpuluh puluh tahun kita dalam keadaan lalai, lupa menyambut tamu agung yang sudah berada di depan pintu, hingga kita sama sekali tidak ada persiapan untuk menyambutnya. Boleh jadi kita sudah siap, namun keluarga kita, anak istri kita belum siap. Boleh jadi kita dan keluarga kita sudah siap, tetapi hanya persiapan ekonomi untuk menu sahur dan berbuka puasa, bahkan untuk pemberian THR, hingga Ramadan belum datang anak-anak sibuk minta beli baju lebaran.
Kita yang seharusnya bersiap siap menyambut tamu Ramadan, tapi karena masih sedikit memperturutkan hawa nafsu, akhirnya yang kita sambut adalah satu Syawal, bukan satu Ramadan. Karena, beranggapan jika sudah dekat lebaran harga pakaian akan melambung.
Tamu yang di depan pintu kita abaikan, malah tamu yang masih di jalan justru kita sambut dengan suka ria. Sungguh fakta-fakta di lapangan mengatakan, mana mau masuk puasa, uang tidak ada, simpanan habis. Bagaimana nanti jika anak-anak minta bikin ketupat, minta beli baju lebaran, minta bikin kue!
Bukannya mempersiapkan diri untuk menghadapi Ramadan, banyak-banyak mohon ampunan Allah. Memperbanyak lebih dekat lagi kepada Allah dengan amalan-amalan yang bisa mendapatkan cintanya Allah, mempersiapkan jiwa dan raga agar Ramadan tahun ini, bisa mendapatkan predikat takwa sebagaimana yang dijanjikan Allah. Tapi justru malah kita khawatir dengan keadaan ekonomi.
Keutamaan Ramadan dalam Kehidupan Umat Islam
Ramadan adalah bulan berkah, jangankan umat Islam, non muslim pun ikut kecipratan, pedagangnya panen. Penghasilan dan keuntungannya luar biasa meningkat, karena memang Ramadan adalah bulan suci yang penuh berkah, Rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Maasyiral muslimin yang berbahagia
Mari kita persiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut tamu yang sudah di depan pintu. Tamu yang akan membawa berkah, ampunan, dan Rahmat, dia akan singgah di rumah kita selama satu bulan. Dan barang siapa yang bergembira menyambutnya, maka dikatakan dalam sebuah hadis Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda;
“Telah datang kepada kalian ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”. (HR. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Kisah Thalhah bin Ubaidillah
Ramadan telah tiba. Bulan agung penuh berkah, waktu di mana umat Islam dibukakan berjuta kebaikan oleh Allah Swt.
Salah satu keutamaan Ramadan dikisahkan melalui mimpi Thalhah bin Ubaidillah ra. Beliau merupakan satu di antaranya 10 sahabat Rasulullah Muhammad saw yang dijamin masuk surga.
Saat perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah SAW sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah gugur dalam Perang Jamal di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun dan dimakamkan di Basrah.
Kembali ke mimpi Thalhah. Kisah ini mengenai dua orang lelaki dari Baliy, sebuah perkampungan dari suku Qudha’ah. Dari sumber lainnya, kedua merupakan kepala suku dan kaya raya. Keduanya masuk Islam bersama dan menjadi sahabat-sahabat yang bertakwa.
Saat Islam membutuhkan bantuan, mereka dengan ringan tangan membantu, harta maupun tenaga. Hingga suatu saat kedua mendapat panggilan untuk berjihad. Seperti yang sudah-sudah, keduanya dengan gembira menyambut panggilan jihad tersebut. Jihad merupakan ibadah yang diidam-idamkan para sahabat karena jika mereka meninggal dalam perang, mereka akan mati syahid dan dijamin masuk surga.
Keduanya bertempur dengan gagah berani hingga banyak anggota pasukan musuh yang tewas di tangan mereka. Namun dalam perang tersebut, satu di antaranya keduanya mati syahid. Sedangkan teman satunya pulang dan membawa kemenangan gemilang. Setahun kemudian, dia meninggal karena sakit.
Beberapa waktu kemudian, suatu malam Thalhah bermimpi tentang keduanya. Dalam mimpinya itu, Thalhah berada di depan pintu surga bersama kedua sahabat yang telah meninggal tersebut. Tiba-tiba dari dalam surga terdengar suara yang memanggil sahabat yang meninggal karena sakit di dalam kamarnya. Suara tersebut mempersilahkan si sahabat untuk masuk surga. Setelah itu, suara dari dalam surga kembali terdengar dan memanggil sahabat yang mati syahid. Masuklah sahabat tersebut masuk surga. Kembali suara itu terdengar dan berkata kepada Thalhah, “Kembalilah karena belum waktumu masuk surga”. Thalhah pun terbangun dari mimpinya.
Keutamaan Ramadan yang Mengalahkan Mati Syahid
Maasyiral Muslimin rahimakumullah
Keesokan harinya, Thalhah menceritakan mimpinya tersebut kepada sahabat- sahabat lainnya. Namun para sahabat tidak percaya. Mereka tidak percaya bagaimana mungkin sahabat yang meninggal karena sakit itu dipanggil lebih dahulu masuk surga dari pada yang mati syahid. Hingga desas-desus peristiwa mimpinya Thalhah tersebut terdengar Rasulullah saw. Lalu dipanggillah Thalhah untuk menceritakan mimpinya tersebut. Setelah mendengar cerita tersebut, Rasullullah membenarkan tentang mimpi Thalhah itu. Para sahabat pun heran.
Beliau berkata, “Apa yang membuat kalian heran?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah orang yang pertama ini adalah yang paling banyak jihadnya di antara mereka, lalu ia mati syahid, tapi kenapa temannya yang meninggal terakhir masuk surga lebih dahulu darinya?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Bukankah temannya itu masih hidup setahun setelah kematiannya?” Mereka menjawab, “betul”.
Beliau berkata, “Dan bukankah ia masih mendapati Ramadan, lalu ia berpuasa, melakukan salat ini dan itu selama satu tahun itu?!” Mereka menjawab, “betul”. Maka Rasulullah berkata, “Maka jarak antara mereka lebih jauh dariapda jarak antara langit dan bumil”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih, dari Abu Salamah bin Abdurrahman)
Masya Allah. Kisah tersebut memperlihatkan kepada kita betapa keutamaan Ramadan dan ibadah di dalamnya dapat mengalahkan keutamaan seorang yang mati syahid yang sangat agung.
Termasuk nikmat yang sangat besar terhadap seorang hamba, Allah memberinya kesempatan dan umur panjang dalam ketaatan kepada Allah. Hal tersebut sebagaimana ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah manusia yang paling baik?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu)
Doa dan Harapan
Masya Allah. Dengan mengingat keutamaan Ramadan, marilah kita bersiap diri secara sempurna. Dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh keyakinan, kita menyambut bulan suci Ramadan.
Semoga kita semua diberi kesempatan untuk menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan persiapan yang matang. Aamiin, Allahhumma Aamiin.
Khutbah II
Nahmadu allaha wa nasta’inuhu wa nastaqfiruhu, wa na’uzu bihi min syuruuri anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Asyhadu an laa ilaaha illa allahu wachdahu laa syarika lah, wa asyhadu an muhammadan abduhu wa rasuluhu. Allahuhamma sholli wasallim ‘ala sayyidina muhammadin nabiyi ar-rahmah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi min yaumin kami haza ilaa yaumi al-nuhdzah. Amma ba’du. Ayyuha al-nasu! Uwshiyakum bitaqwa allahi wa ta’atih, faqad faza al-muttaqun. Faqala ta’ala mukhbiran wa amiran: innallaha wa malaaaikatuhu yusholluuna ‘ala nabiyyi ya ayyuha alladzina aamanu sholluu ‘alaihi wasallimu tasliman. Allahuhamma sholli wasallim wa barik ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala aali sayyidina muhammadin kama shollaita wa barakta ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala aali sayyidina ibrahima fi al-‘alamin. Inna ka hamidun majidun, birahmatika ya arhamar rahiimin…. Allahuhamma ghfir lil-mu’minina wa al-mu’minat, wa al-muslimina wa al-muslimat al-ahyaa minhum wa al-amm wat. Innaka mujibu ad-da’awat yaa qadhiy al-hajaat. Allahuhamma a’izzil islam wa al-muslimina. Allahuhamma ashlih wulata al-muslimina bimaa fihii shalahu al-islami wa al-muslimina. Rabbana atina min ladunka rahmataw wa haiy linna min amrina rashadan. Rabbana la tuzigh quluubana ba’da idza hadaytana wa hab lana min ladunka rahmata inna anta al-wahhabu. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun wa aj’alna lil muttaqina imaaman. Rabbana atina fi al-dunya hasanatan wa fi al-akhirati hasanatan wa qinna ‘adzaba an-nar. ‘Ibadallah! Innallaha yamuru bi al-‘adli wa al-ihsani wa i’ta’i dzil qurbaa wa yanhiyu ‘ani al-fakhsha wa al-munkari wa al-baghyi ya’izzukum la’allakum tazakkaruuna, fa dzakru allaha al-‘azhim yadzkurukum wa syukruhu ‘ala ni’mi yanzidukum wa sa’aluu min fadhlihi yu’tikum wa ladzikru allaha akbaru.







