Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Dukungan NU Abad ke-100: PWNU Jatim Hargai Bantuan Muhammadiyah dan Gereja Malang

    12 Februari 2026

    Murid Marcus Gideon Bergabung dengan Raymond/Joaquin di Pelatnas, Pemenang Medali Kejuaraan Asia Junior Menanti Nasib

    12 Februari 2026

    Keunggulan Aki Lithium pada Motor: Lebih Ringan dan Tahan Lama!

    12 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Kamis, 12 Februari 2026
    Trending
    • Dukungan NU Abad ke-100: PWNU Jatim Hargai Bantuan Muhammadiyah dan Gereja Malang
    • Murid Marcus Gideon Bergabung dengan Raymond/Joaquin di Pelatnas, Pemenang Medali Kejuaraan Asia Junior Menanti Nasib
    • Keunggulan Aki Lithium pada Motor: Lebih Ringan dan Tahan Lama!
    • Daftar Film dan Serial Terbaru Prime Video Februari 2026
    • 5 Tips Puasa untuk Penderita Anemia, Hindari Kelelahan
    • Wamenaker Afriansyah Noor Temui Jokowi Bahas Ijazah dan Koalisi Prabowo-Gibran
    • TKA 2026: Ujian Akademik atau Kesiapan Mental Siswa Kota Kediri?
    • Perang Dagang Mobil Listrik Memanas, Peluang Tarif Rendah di Amerika Membuka Jalan
    • Kekalahan Pertama di Kandang! Gol Almeida Dianulir, Persija Kalah 2-0 dari Arema FC di GBK
    • Ucapan Hari Kacang-kacangan Sedunia 10 Februari 2026 untuk Media Sosial
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Ekonomi»Opini: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, dan Keuntungan Ekonomi

    Opini: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, dan Keuntungan Ekonomi

    adm_imradm_imr12 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Tantangan Industri Peternakan Ayam di Tahun 2026

    Pada tahun 2026, industri peternakan ayam (baik untuk telur maupun daging) menghadapi tantangan yang kompleks. Di satu sisi, ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan peluang pasar yang besar. Di sisi lain, adanya regulasi baru yang membatasi impor bungkil kedelai hanya melalui BUMN PT Berdikari menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga dan pasokan.

    Peluang Pasar dari Program MBG

    Program MBG telah mencakup sebanyak 55,1 juta orang hingga Mei 2026, dengan rencana pelayanan kepada seluruh 82,9 juta penerima manfaat. Dengan peningkatan jumlah penerima manfaat, permintaan akan telur dan daging ayam akan meningkat secara signifikan. Ini berpotensi menjaga stabilitas harga di tingkat peternak agar tidak turun drastis.

    Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan industri dalam menghadapi permintaan yang meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja harga produk ternak menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya akan berdampak pada konsumen.

    Regulasi Baru Impor Bungkil Kedelai

    Dari 1 Januari 2026, impor bungkil kedelai (SBM) hanya dapat dilakukan oleh PT Berdikari. Sebelumnya, impor SBM sepenuhnya diserahkan ke pasar. SBM adalah salah satu bahan baku penting dalam pakan ternak, bersama dengan jagung. Dalam formulasi pakan ternak, SBM menyumbang 21% dan jagung 42,5%.

    Sejauh ini, pemerintah belum menjelaskan alasan pengalihan impor SBM ke BUMN. Isu yang beredar adalah untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga SBM seiring peningkatan kebutuhan dari MBG. Namun, jika tidak ada masalah sebelumnya, kebijakan ini dinilai tidak valid dan justru membawa ketidakpastian baru bagi industri perunggasan.

    Dampak dari Kebijakan Mendadak

    Kebijakan ini ditetapkan pada 19 Desember 2025 dan mulai berlaku 1 Januari 2026. Sementara itu, PT Berdikari belum siap untuk mengeksekusi tugas tersebut. Selain tidak terbiasa mengimpor SBM, perusahaan ini juga tidak memiliki infrastruktur pendukung seperti gudang dan trucking.

    Selain itu, kebijakan ini tidak didasarkan pada bukti (evidence-based policy). Tanpa uji coba atau evaluasi, kebijakan ini langsung diberlakukan. Akibatnya, dari 25 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026, SBM mengalami kelangkaan dan harga naik Rp1.000 per kg.

    Harga SBM Akan Lebih Mahal

    Karena PT Berdikari tidak siap menjual langsung ke peternak atau pabrik pakan, SBM akan diimpor hingga pelabuhan, lalu diangkut ke gudang oleh importir lama. Hal ini menambah titik distribusi, sehingga margin baru muncul dan harga SBM menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

    Ini berarti negara melegalkan rente ekonomi baru, yang pada akhirnya akan membuat harga telur dan daging ayam meningkat, beban bagi konsumen.

    Stabilitas Pasokan Telur dan Daging Ayam

    Sejatinya, pasokan telur dan daging ayam untuk MBG tidak perlu khawatir. Produksi kedua komoditas ini lebih dari cukup bahkan berlebih. Misalnya, produksi telur ayam pada 2025 mencapai 6,52 juta ton atau 104 miliar butir. Dengan kebutuhan konsumsi 6,22 juta ton, ada surplus 0,3 juta ton.

    Untuk daging ayam, produksi pada 2025 mencapai 4,25 juta ton, dengan kebutuhan konsumsi sekitar 3,87 juta ton, ada surplus 380.000 ton. Dengan peningkatan kebutuhan dari MBG, surplus ini bisa diatasi dengan memperpanjang usia ayam peliharaan.

    Peran Industri Perunggasan dalam Ekonomi Nasional

    Industri perunggasan adalah penyedia protein yang terjangkau dan melimpah bagi rakyat. Tingkat partisipasi konsumsi telur sekitar 92,77% dan daging ayam 66,1%, tertinggi di antara produk unggas. Subsektor peternakan juga berkontribusi 12%—14% dari penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Kapitalisasi industri ini mencapai lebih dari Rp500 triliun.

    Subsektor perunggasan adalah pilar ekonomi penting. Seharusnya negara membuat kebijakan yang mendukung efisiensi dan daya saing. Bukan sebaliknya: membuka rente ekonomi yang mengancam industri ini mundur.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Pertumbuhan ekonomi Sumbar 2025 melambat, di bawah nasional dan 2024

    By adm_imr12 Februari 20260 Views

    Kasus Dana Syariah Indonesia: Tipu Daya dan Celah Perlindungan Pemberi Pinjaman

    By adm_imr12 Februari 20268 Views

    Apa Itu Underwriter dan Perannya di Dunia Keuangan

    By adm_imr12 Februari 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Dukungan NU Abad ke-100: PWNU Jatim Hargai Bantuan Muhammadiyah dan Gereja Malang

    12 Februari 2026

    Murid Marcus Gideon Bergabung dengan Raymond/Joaquin di Pelatnas, Pemenang Medali Kejuaraan Asia Junior Menanti Nasib

    12 Februari 2026

    Keunggulan Aki Lithium pada Motor: Lebih Ringan dan Tahan Lama!

    12 Februari 2026

    Daftar Film dan Serial Terbaru Prime Video Februari 2026

    12 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    Unduh Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026, Lengkap Muhammadiyah dan Kemenag

    8 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?