Tantangan Industri Peternakan Ayam di Tahun 2026
Pada tahun 2026, industri peternakan ayam (baik untuk telur maupun daging) menghadapi tantangan yang kompleks. Di satu sisi, ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan peluang pasar yang besar. Di sisi lain, adanya regulasi baru yang membatasi impor bungkil kedelai hanya melalui BUMN PT Berdikari menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga dan pasokan.
Peluang Pasar dari Program MBG
Program MBG telah mencakup sebanyak 55,1 juta orang hingga Mei 2026, dengan rencana pelayanan kepada seluruh 82,9 juta penerima manfaat. Dengan peningkatan jumlah penerima manfaat, permintaan akan telur dan daging ayam akan meningkat secara signifikan. Ini berpotensi menjaga stabilitas harga di tingkat peternak agar tidak turun drastis.
Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan industri dalam menghadapi permintaan yang meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa saja harga produk ternak menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya akan berdampak pada konsumen.
Regulasi Baru Impor Bungkil Kedelai
Dari 1 Januari 2026, impor bungkil kedelai (SBM) hanya dapat dilakukan oleh PT Berdikari. Sebelumnya, impor SBM sepenuhnya diserahkan ke pasar. SBM adalah salah satu bahan baku penting dalam pakan ternak, bersama dengan jagung. Dalam formulasi pakan ternak, SBM menyumbang 21% dan jagung 42,5%.
Sejauh ini, pemerintah belum menjelaskan alasan pengalihan impor SBM ke BUMN. Isu yang beredar adalah untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga SBM seiring peningkatan kebutuhan dari MBG. Namun, jika tidak ada masalah sebelumnya, kebijakan ini dinilai tidak valid dan justru membawa ketidakpastian baru bagi industri perunggasan.
Dampak dari Kebijakan Mendadak
Kebijakan ini ditetapkan pada 19 Desember 2025 dan mulai berlaku 1 Januari 2026. Sementara itu, PT Berdikari belum siap untuk mengeksekusi tugas tersebut. Selain tidak terbiasa mengimpor SBM, perusahaan ini juga tidak memiliki infrastruktur pendukung seperti gudang dan trucking.
Selain itu, kebijakan ini tidak didasarkan pada bukti (evidence-based policy). Tanpa uji coba atau evaluasi, kebijakan ini langsung diberlakukan. Akibatnya, dari 25 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026, SBM mengalami kelangkaan dan harga naik Rp1.000 per kg.
Harga SBM Akan Lebih Mahal
Karena PT Berdikari tidak siap menjual langsung ke peternak atau pabrik pakan, SBM akan diimpor hingga pelabuhan, lalu diangkut ke gudang oleh importir lama. Hal ini menambah titik distribusi, sehingga margin baru muncul dan harga SBM menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Ini berarti negara melegalkan rente ekonomi baru, yang pada akhirnya akan membuat harga telur dan daging ayam meningkat, beban bagi konsumen.
Stabilitas Pasokan Telur dan Daging Ayam
Sejatinya, pasokan telur dan daging ayam untuk MBG tidak perlu khawatir. Produksi kedua komoditas ini lebih dari cukup bahkan berlebih. Misalnya, produksi telur ayam pada 2025 mencapai 6,52 juta ton atau 104 miliar butir. Dengan kebutuhan konsumsi 6,22 juta ton, ada surplus 0,3 juta ton.
Untuk daging ayam, produksi pada 2025 mencapai 4,25 juta ton, dengan kebutuhan konsumsi sekitar 3,87 juta ton, ada surplus 380.000 ton. Dengan peningkatan kebutuhan dari MBG, surplus ini bisa diatasi dengan memperpanjang usia ayam peliharaan.
Peran Industri Perunggasan dalam Ekonomi Nasional
Industri perunggasan adalah penyedia protein yang terjangkau dan melimpah bagi rakyat. Tingkat partisipasi konsumsi telur sekitar 92,77% dan daging ayam 66,1%, tertinggi di antara produk unggas. Subsektor peternakan juga berkontribusi 12%—14% dari penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Kapitalisasi industri ini mencapai lebih dari Rp500 triliun.
Subsektor perunggasan adalah pilar ekonomi penting. Seharusnya negara membuat kebijakan yang mendukung efisiensi dan daya saing. Bukan sebaliknya: membuka rente ekonomi yang mengancam industri ini mundur.







