Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Protes Piala Soeratin 2026: Calon Peserta di Malang Keberatan Biaya Pendaftaran Rp3,25 Juta

    13 Juli 2026

    PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026

    12 Juli 2026

    Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya

    12 Juli 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 22 Juli 2026
    Trending
    • Protes Piala Soeratin 2026: Calon Peserta di Malang Keberatan Biaya Pendaftaran Rp3,25 Juta
    • PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026
    • Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya
    • Harga saham BACH melonjak di BEI, ARA siap bertahan jika naik ke level ini
    • Karina Ranau Memaafkan Terduga Pelaku, Tapi Minta Proses Hukum Berlanjut
    • Qari Kaltim Juara Dunia di Malaysia, Bukti Peningkatan Pesat Pembinaan Al-Qur’an
    • Orang yang Suka Sendirian Punya 6 Hobi yang Membuat Mereka Bahagia
    • Manfaat Kopi Pagi: Rekomendasi Tempat Nongkrong di Kendari
    • Tujuh Keunggulan VinFast VF MPV 7, Pilihan Mobil Listrik Keluarga Indonesia
    • Ada Perbedaan, Taqwaddin Minta Advokat Pahami KUHAP 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Politik»Pagi, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari

    Pagi, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari

    adm_imradm_imr23 Juni 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Mengenang Dua Tahun di Seminari Mataloko, NTT

    Sebagai seorang Frater yang baru saja menyelesaikan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Mataloko, saya merasa beruntung dapat mengalami pengalaman yang luar biasa. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi di tempat ini, waktu terasa seperti aliran sungai yang tenang dan konsisten. Ia membawa saya pada sebuah ziarah intelektual dan spiritual yang penuh makna.

    Seminari Mataloko bukan sekadar tempat pembinaan calon imam. Ia adalah ruang alternatif yang menantang arus zaman. Di tengah dunia yang cepat, bising, dan dangkal, Mataloko menawarkan oase yang kontras. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan permenungan tentang bagaimana kehidupan di lembah sunyi ini menuntun saya menemukan kembali jati diri yang jujur, menghayati waktu yang kudus, meruntuhkan sekat dalam mendidik, hingga mengecap arti dari kesuksesan sejati.

    Subuh: Antara Ritme Biologis dan Ritme Ilahi

    Setiap hari di Mataloko dimulai pukul 04.30 subuh, yang langsung bermuara pada Perayaan Ekaristi. Pola hidup ini membalikkan konsep waktu sekuler. Menurut filsuf Henri Bergson, waktu bukan sekadar durasi matematis yang mekanis, melainkan durasi batiniah yang dihayati.

    Dengan menempatkan Ekaristi pada fajar hari, seminari sedang melakukan sakralisasi waktu. Kehidupan tidak dimulai dengan kecemasan akan urusan duniawi, tetapi dengan penyerahan diri kepada Yang Ilahi. Ekaristi menjadi pusat gravitasi eksistensial. Para seminaris dilatih untuk menyelaraskan ritme biologis mereka dengan ritme ilahi (ritus liturgis).

    Jam tubuh tunduk pada jam rahmat. Sebelum tubuh bekerja, jiwa terlebih dahulu berlutut. Sebelum mereka berbicara kepada dunia, mereka lebih dahulu mendengarkan suara Tuhan. Dari altar itulah seluruh aktivitas memperoleh arah dan makna. Mereka belajar bahwa panggilan imam bukan pertama-tama soal kemampuan intelektual atau keterampilan pastoral, melainkan kemampuan menghadirkan Tuhan sebagai pusat hidup.

    Askese Digital: Jalan Memutar Menuju Kedalaman Berpikir

    Ada paradoks ketika melangkah masuk ke dalam pagar seminari. Jika di luar sana, manusia dipermudah oleh layar kaca berukuran lima inci, maka di Mataloko, kemudahan itu diredam oleh aturan radikal. Siswa dilarang membawa HP. Secara filosofis, larangan ini adalah tindakan askese (penyangkalan diri) yang radikal untuk menyelamatkan autentisitas manusia.

    Filsuf Heidegger mengingatkan bahwa teknologi modern berisiko memperalat manusia dan menjauhkannya dari “Ada” (Sein) yang sejati. Ketika HP disingkirkan, layar-layar yang biasanya memancarkan cahaya semu itu digantikan oleh hamparan kabut pagi Mataloko yang jujur. Bunyi notifikasi yang riuh dan menuntut perhatian konstan, bertukar dengan keheningan yang teduh.

    Di sinilah para seminaris belajar merayakan solitude (kesunyian yang subur), bukan loneliness (kesepian yang gersang). Paul Tillich menyebut kesunyian ini sebagai tempat manusia menemukan kembali kemurnian jiwanya. Larangan membawa HP di Mataloko adalah bentuk “puasa modern”. Aturan ini meruntuhkan berhala kemudadahan.

    Di lembah sunyi ini, para seminaris tidak sedang tertinggal oleh zaman, mereka justru sedang diselamatkan dari pendangkalan zaman. Mereka diajar untuk hadir seutuhnya, dalam doa, dalam tatap muka dengan sesama saudara, dan dalam perjumpaan yang hidup dengan realitas di sekitar mereka.

    Menolak Segala Bentuk Kasta Intelektual

    Suatu hari, menjelang perlombaan Hardiknas di Aimere, para guru berkumpul di ruang guru SMA. Di tengah pembicaraan tentang persiapan siswa, Romo Alex, guru Bahasa Indonesia senior, tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat ruangan seketika hening: “Jangan-jangan kita hanya sibuk memintarkan orang yang sudah pintar. Lalu mereka yang tidak ikut lomba, apakah kita tega biarkan mereka tetap merasa bodoh dan tertinggal?”

    Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pisau yang menikam sistem pendidikan. Tanpa disadari, dunia pendidikan sering jatuh pada kebiasaan merawat yang sudah bersinar, sementara yang redup dibiarkan perlahan tenggelam dalam bayang-bayang. Sekolah kadang terlalu sibuk mengejar piala, hingga lupa bahwa di sudut-sudut kelas masih ada banyak anak yang sungguh butuh didampingi.

    Freire menolak “konsep bank” dalam pendidikan. Menurutnya, sekolah hanya berinvestasi pada murid-murid tertentu yang dianggap menguntungkan secara reputasi. Ketika sekolah hanya berfokus pada siswa-siswa genius untuk mengejar piala dan reputasi lembaga, sekolah sedang melanggengkan ketidakadilan struktural dan menciptakan “tembok kebodohan” bagi mayoritas siswa lainnya.

    Pendidikan sejati, baginya, bukanlah soal siapa yang paling cepat mencapai podium, melainkan siapa yang paling sungguh dibantu untuk bertumbuh sebagai manusia. Kritik Romo Alex ditanggapi secara serius. Waktu itu, semua bersepakat untuk membuat program perlombaan internal bagi siswa yang tidak ikut Hardiknas.

    Seminari tidak mau membiarkan siapa pun merasa menjadi “murid kelas dua”. Semua diberi ruang untuk berkembang, untuk mencoba, untuk gagal, dan untuk menemukan kemampuan dirinya sendiri. Seminari menolak segala bentuk kasta intelektual. Semua siswa dirangkul dalam rahim yang sama. Bukan hanya mengangkat mereka yang sudah tinggi, melainkan juga merangkul mereka yang belum sempat berdiri tegak.

    Piala Prestasi atau Piala Ekaristi?

    Dunia hari ini cenderung menilai keberhasilan melalui ukuran-ukuran yang kasatmata. Sebuah lembaga pendidikan sering kali dihargai dari banyaknya piala yang dipajang, angka-angka prestasi yang dicetak, serta status sosial yang berhasil diraih para alumninya. Segalanya dibuat terukur, statistik menjadi kebanggaan, dan pengakuan publik perlahan berubah menjadi standar utama keberhasilan.

    Namun, di balik semua kontribusi nyata itu, seminari ini menawarkan cara pandang yang jauh lebih dalam. Visi akhirnya tidak pernah diukur dari seberapa tinggi seseorang mampu berdiri di atas panggung dunia, tetapi dari seberapa dalam ia bersedia membungkuk dan bersujud di hadapan altar. Di tempat ini terjadi transformasi cara pandang, yaitu dari yang bersifat temporal-horizontal menuju yang bersifat kekal-vertikal.

    Ada transformasi dari keinginan meraih kesuksesan menuju keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. Kontras radikal inilah yang mengajak kita untuk merenung kembali: Di manakah sejatinya letak keberhasilan sebuah proses formatio (pembentukan diri)?

    Karena itu, di seminari ini, yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani. Yang dituju bukanlah mimbar retorika, melainkan mimbar sabda. Yang diusahakan bukanlah keharuman nama sekolah, melainkan keharuman nama Kristus.

    Sebuah Catatan Pulang

    Kini, ketika masa dua tahun itu telah genap, saya menyadari bahwa Mataloko tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Bunyi lonceng subuhnya akan tetap bergema dalam ingatan, dingin kabutnya akan selalu dirindukan, dan formasi rohani di depan altarnya telah terpahat permanen dalam jiwa.

    Terima kasih, Mataloko. Terima kasih untuk para seminaris yang mengajari saya arti ketulusan, dan para imam pembina yang menunjukkan arti kesetiaan. Di tanah Ngada ini, saya tidak hanya belajar bagaimana cara membina orang lain, tetapi yang terutama, saya telah dibina oleh kehidupan itu sendiri.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Dokter Tifa Menunggu Jokowi di Sidang, Ingin Bertanya Soal 907 Dokumen

    By adm_imr12 Juli 20262 Views

    Dody Hanggodo, Menteri PU Dugaan Bawa Keluarga ke Amerika Pakai APBN Dibantah Sekjen

    By adm_imr12 Juli 20263 Views

    Penasihat Hukum Nadiem Buka Alasan Laporkan 4 Hakim ke Komisi Yudisial

    By adm_imr12 Juli 20265 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Protes Piala Soeratin 2026: Calon Peserta di Malang Keberatan Biaya Pendaftaran Rp3,25 Juta

    13 Juli 2026

    PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026

    12 Juli 2026

    Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya

    12 Juli 2026

    Harga saham BACH melonjak di BEI, ARA siap bertahan jika naik ke level ini

    12 Juli 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?