Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik di Indonesia

Pasar otomotif nasional kini sedang mengalami perubahan yang signifikan, terutama dalam segmen mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Tahun 2025 menjadi tahun penting bagi sektor ini, dengan penjualan BEV mencapai angka yang mengejutkan. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa total penjualan wholesale BEV selama Januari hingga Desember lalu mencapai 104.000 unit.
Faktor yang Mendorong Minat Konsumen Terhadap BEV
Bebin Djuana, pengamat otomotif, menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang membuat BEV semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Menurutnya, minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik sudah sangat besar, meskipun awalnya ada kendala terkait harga yang masih tinggi.
“Sekarang mulai banyak pilihan produk dengan harga kompetitif,” ujarnya. Selain itu, pengembangan ekosistem pendukung seperti tempat pengisian daya listrik umum juga semakin berkembang. Mobil-mobil BEV yang masuk ke pasar saat ini memiliki desain, fitur, dan spesifikasi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Biaya operasional yang lebih rendah juga menjadi salah satu alasan utama konsumen beralih ke BEV.
Contoh Kasus: BYD Atto 1 dan Penghematan Biaya Operasional
Salah satu contoh yang menunjukkan efisiensi biaya operasional adalah BYD Atto 1. Berdasarkan simulasi penggunaan harian sejauh 40 kilometer, biaya tahunan untuk mobil bensin konvensional mencapai sekitar Rp 12,2 juta. Angka ini meliputi pengeluaran BBM, pajak kendaraan yang lebih tinggi, serta biaya perawatan rutin.
Sebaliknya, BYD Atto 1 memberikan penghematan yang signifikan karena konsumsi energinya yang efisien dan skema pajak kendaraan listrik yang sangat terjangkau di Indonesia. Jika pengisian daya dilakukan di SPKLU, total biaya operasional tahunan hanya mencapai Rp 5,6 juta. Angka ini bisa ditekan lebih rendah lagi hingga hanya Rp 3,6 juta per tahun jika pengguna melakukan pengisian daya di rumah dengan tarif listrik domestik. Selisih biaya antara mobil bensin dan BEV bisa mencapai Rp 9 juta hingga Rp 10 juta per tahun.

Pencapaian Global BYD dan Kehadirannya di Asia Tenggara
Di tingkat global, pencapaian BYD di pasar Indonesia sejalan dengan momentum pertumbuhan yang masif di pasar internasional. Pada tahun yang sama, BYD mendistribusikan total 4,6 juta unit kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1 juta unit di antaranya merupakan komoditas ekspor. Di kawasan Asia Tenggara, BYD bahkan mendominasi pasar sebagai merek nomor satu di Singapura dan meraih penjualan yang signifikan di Thailand.
Keberhasilan regional ini turut memperkuat posisi tawar dan stabilitas BYD di pasar tanah air. Pertumbuhan BYD di pasar Indonesia tidak hanya terlihat dari capaian penjualan, tetapi juga dari keterlibatannya dalam mengikuti dinamika perkembangan industri otomotif nasional yang tengah memasuki fase elektrifikasi.

Perluasan Jaringan Layanan dan Produksi Lokal
BYD memperluas jaringan layanan purna jual di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu melalui rencana produksi lokal yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026. Rencana pengoperasian fasilitas produksi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa elektrifikasi tidak hanya berlangsung pada sisi konsumsi, tetapi juga mulai menyentuh struktur industri dalam negeri.
Kehadiran fasilitas produksi lokal berpotensi memperkuat rantai pasok, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing industri otomotif nasional di era transisi energi.

Kerja Sama dan Program Lingkungan
Dalam konteks pemanfaatan BEV secara lebih luas, BYD juga menjalin kerja sama dengan perusahaan pembiayaan, penyedia layanan mobilitas, serta sektor ride hailing untuk memperluas akses pasar. Upaya edukasi turut dilakukan melalui kegiatan roadshow di sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Diponegoro Semarang, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Hasanuddin Makassar.
Program lingkungan diwujudkan melalui penanaman 500 pohon mangrove yang diperkirakan mampu menyerap sekitar 10 ton CO₂ per tahun. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengembangan BEV di Indonesia tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga pada keterjangkauan biaya serta dukungan ekosistem yang berkelanjutan.







