Pemulihan Kelistrikan di NTT Berlangsung Cepat Pasca-Gempa
Pemulihan jaringan kelistrikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca-gempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 berjalan sangat cepat. Seluruh 11 gardu induk (GI) yang terdampak berhasil dipulihkan dan kembali beroperasi dalam waktu kurang dari 12 jam setelah bencana terjadi. Proses pemulihan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, karena listrik menjadi kebutuhan dasar dalam situasi pascabencana.
Pemulihan jaringan distribusi mencapai 92 persen pada 16 Agustus dan seluruh pelanggan kembali mendapat aliran listrik pada 18 Agustus. Hal ini menunjukkan kemampuan sistem energi untuk segera pulih dan menjaga layanan publik serta aktivitas ekonomi di wilayah terdampak. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi menyatakan bahwa kecepatan respons dalam pemulihan kelistrikan sangat penting dalam memastikan kelancaran kehidupan masyarakat pasca-bencana.
Peran Listrik dalam Pemulihan Pasca-Bencana
Kholid menekankan bahwa pemulihan listrik bukan hanya tentang menghidupkan jaringan, tetapi juga memastikan fasilitas kesehatan, posko bencana, dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan. Dalam kondisi darurat, kesiapan sistem energi menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan layanan energi kepada masyarakat.
Ia juga menilai bahwa kecepatan pemulihan tersebut perlu menjadi bagian dari penguatan ketahanan energi nasional, khususnya dalam menghadapi risiko bencana alam. Ketahanan energi tidak hanya berbicara tentang ketersediaan pasokan, tetapi juga kemampuan sistem untuk pulih dengan cepat ketika terjadi gangguan atau bencana.
Koordinasi Antarpemangku Kepentingan
Menurut Kholid, koordinasi antarpemangku kepentingan perlu diperkuat agar penanganan gangguan energi dalam kondisi darurat dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta petugas. Pengalaman di NTT menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan kecepatan respons menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan layanan energi.
Situasi Korban Gempa dan Penyaluran Logistik
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi total sebanyak 71 jiwa berdasarkan data per Rabu (19/8) pukul 16.00 WIB. Penambahan satu korban meninggal berada di wilayah Kabupaten Nagekeo. Total pengungsi sebanyak 59.647 dengan jumlah pengungsi terbanyak di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.333 jiwa.
Penyaluran logistik terus dilakukan melalui jalur udara dan laut. Sampai dengan Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, total bantuan yang telah terkirim pada periode 15-18 Agustus sebanyak 398 Ton. Jalur darat masih menjadi opsi utama penyaluran bantuan dari titik logistik menuju lokasi pengungsian.
Transportasi Laut untuk Menjangkau Wilayah Lebih Luas
Pemerintah juga mengoptimalkan transportasi laut untuk menjangkau wilayah lebih luas. Pada Selasa (18/8), KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai, dengan membawa paket bantuan BNPB berupa sembako, tenda keluarga dan tenda pengungsi, serta bantuan dari berbagai unsur masyarakat.
Penanganan pengungsi masih menjadi fokus utama karena sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah akibat kondisi bangunan yang rusak dan kekhawatiran terhadap gempa susulan. Dengan penyaluran bantuan yang terus berjalan, harapan besar tercipta kondisi yang lebih stabil bagi masyarakat terdampak.







