Harga Emas Turun, Minat Masyarakat untuk Investasi Perhiasan Meningkat
Setelah momen Lebaran 2026, harga emas mengalami penurunan signifikan. Sebelumnya, harga emas mencapai Rp2.330.000 per gram, kini turun menjadi sekitar Rp2.160.000 per gram. Penurunan ini justru memicu minat masyarakat untuk berbelanja, terutama pada produk perhiasan. Menurut Diana Kusuma Atmaja, Manajemen Representatif Wahyu Redjo Group, ketika harga emas turun, minat beli biasanya meningkat.
Perhiasan menjadi alternatif investasi yang semakin diminati karena memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni sebagai instrumen investasi dan penunjang penampilan. Dari sisi model, cincin menjadi perhiasan yang paling banyak diminati. Tren saat ini menunjukkan penggunaan cincin secara layering atau kombinasi lebih dari satu dalam satu tangan masih digemari. Hal ini membuat tren investasi dalam bentuk perhiasan sangat diminati, istilahnya berinvestasi dan bergaya.
Investasi Emas: Pilihan Menarik di Tengah Fluktuasi Harga
Investasi emas masih menjadi pilihan menarik di tengah fluktuasi harga. Fatimah, seorang pengusaha ayam di Pasar Mangga Dua Surabaya, mengaku konsisten membeli perhiasan emas tanpa terlalu memikirkan naik turunnya harga. Ia rutin membeli emas maksimal dua kali dalam sebulan selama memiliki dana lebih. Baginya, investasi emas tidak hanya aman, tetapi juga bisa langsung dimanfaatkan sebagai perhiasan.
“Tidak ada ruginya, bisa dipakai dan juga menghasilkan untuk investasi,” ujarnya. Fatimah bahkan mengaku telah menjadi “top spender” dengan total pembelian perhiasan mencapai sekitar Rp600 juta. Ia membeli berbagai jenis perhiasan seperti kalung, gelang, hingga cincin. Namun, ia tidak terlalu memperhatikan model. Menurutnya, yang terpenting adalah jumlah gram emas yang dibeli.
“Kalau kecil-kecil suratnya lebih banyak dan susah disimpan, jadi saya pilih gram besar,” jelasnya. Fatimah juga menegaskan bahwa dirinya tidak menunggu harga emas turun untuk membeli. Selama memiliki uang, ia lebih memilih mengalokasikannya untuk emas dibanding kebutuhan konsumtif lainnya.
“Daripada beli yang lain, mending beli perhiasan,” katanya. Selain perhiasan, ia juga berinvestasi pada logam mulia. Ia pernah membeli emas Antam seberat 50 gram dengan harga Rp2,7 juta per gram. Emas tersebut disimpan sebagai aset jangka panjang.
Pengalaman Investasi yang Menghasilkan
Pengalaman investasinya pun membuahkan hasil. Pada 2020, Fatimah membeli emas seharga Rp850 ribu per gram, lalu menjualnya pada 2023 dengan keuntungan mencapai Rp85 juta, yang kemudian digunakan untuk membeli mobil. Wanita berusia 48 tahun ini mengaku mulai mengenal emas sejak tahun 1990-an. Bahkan, anting yang dimilikinya sejak kecil diakui masih disimpan hingga kini dan menjadi kenang-kenangan untuk anaknya.
“Dari anting itu saya turunkan ke anak, masih ada sampai sekarang,” tuturnya. Fatimah juga mengajak anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya berinvestasi emas. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun aset dari logam mulia.
Saat ini, ia memiliki perhiasan dalam jumlah besar, termasuk kalung seberat 120 gram. Ia menilai, selama surat atau sertifikat emas tersimpan dengan baik, proses penjualan kembali akan lebih mudah. “Emas itu naik turun, tapi saya tetap beli kalau ada uang. Tujuan saya invest jadi memang milihnya yang gram besar. Selama ada surat, perhiasan sesuai, jualnya gampang. Memang harus konsisten,” tutupnya.
Tren Cincin Layering dan Pembelian Emas Gram Besar
Tren cincin layering dan pembelian emas gram besar semakin diminati masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan nilai investasi dari logam mulia. Selain itu, pembelian emas dalam jumlah besar juga menjadi strategi untuk menghindari kerugian akibat fluktuasi harga. Dengan gram yang besar, emas lebih mudah disimpan dan memiliki nilai tukar yang stabil.







