Pemulihan Penjualan Eceran di Wilayah Malang
Pada Februari 2026, terjadi perbaikan kontraksi bulanan penjualan eceran di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang. Hal ini terjadi seiring dengan masuknya momen Ramadan yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Penjualan eceran di Malang dan sekitarnya mengalami penurunan sebesar 3,95% secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini lebih baik dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya yang turun sebesar 5,20% mtm. Dalam survei penjualan eceran (SPE) yang dilakukan oleh BI Malang, terdapat tiga kelompok komoditas dengan penurunan omzet paling dalam secara bulanan.
Kelompok Kendaraan
Kelompok kendaraan mencatatkan penurunan sebesar 7,40% mtm. Perbaikan ini terlihat dari realisasi bulan sebelumnya yang turun 8,22% mtm. Penurunan ini terutama disebabkan oleh subsektor motor yang turun sebesar 10,16% mtm. Konsumen cenderung menahan pola konsumsi barang tahan lama menjelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Kelompok Peralatan dan Komunikasi
Kelompok peralatan dan komunikasi di toko terkontraksi sebesar 2,11% mtm. Meskipun mengalami penurunan, angka ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang turun sebesar 6,57% mtm. Penurunan ini dipengaruhi oleh subsektor perlengkapan telekomunikasi yang turun sebesar 3,27% mtm. Beberapa merek besar mulai menurunkan harga produk generasi sebelumnya seiring persiapan peluncuran seri terbaru.
Kelompok Suku Cadang dan Aksesori
Kelompok suku cadang dan aksesori diprakirakan terkontraksi sebesar 1,76% mtm. Angka ini berbeda jauh dari realisasi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,88% mtm. Penurunan ini disebabkan oleh subsektor suku cadang dan aksesori mobil yang turun sebesar 7,13% mtm. Berakhirnya masa libur Natal dan Tahun Baru berdampak pada penurunan permintaan servis dan perawatan berkala kendaraan.
Pertumbuhan Komoditas Lain
Di tengah penurunan penjualan yang terjadi, beberapa kelompok komoditas justru mencatatkan pertumbuhan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tumbuh paling tinggi sebesar 7,88% secara bulanan. Selain itu, kelompok barang budaya dan rekreasi mencatatkan pertumbuhan 3,31% mtm, serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya meningkat 1,04% secara bulanan.
Pandangan Ahli Ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai bahwa SPE pada Februari sedikit menguat dibandingkan periode Januari. Hal ini didorong oleh peningkatan konsumsi untuk kebutuhan pangan yang bertepatan dengan momen Ramadan.
Pada Februari, masyarakat cenderung memprioritaskan konsumsi kebutuhan makan dan minum. Kondisi ini dapat dimaklumi karena masyarakat sedang menata pengeluaran untuk mempersiapkan pengeluaran lebih besar menjelang momentum Lebaran.
Joko mengemukakan bahwa seleksi konsumsi atau selective consumption dilakukan oleh masyarakat guna menyambut expansive consumption pada perayaan Lebaran. Situasi ini merupakan pola yang selalu terjadi setiap tahunnya, khususnya pada momen Ramadan dan Lebaran.
Dia memprediksi bahwa SPE akan menguat di Maret karena faktor expansive consumption masyarakat, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan leisure seperti berkunjung ke tempat wisata.







