Infomalangraya.com.CO.ID – JAKARTA. Proyeksi perusahaan semen diperkirakan tetap positif hingga akhir 2026. Pertumbuhan penjualan semen dalam negeri yang cukup kuat diperkirakan akan terus berlanjut, seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan meningkatnya kegiatan konstruksi.
Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menyatakan, volume penjualan semen menunjukkan pertumbuhan yang kuat hingga semester pertama 2026.
Tren tersebut memiliki kemungkinan untuk terus berlanjut di paruh kedua tahun ini, terutama didukung oleh kondisi cuaca yang lebih kering dan meningkatnya kegiatan konstruksi.
“Potensi momentum ini akan terus berlanjut pada 2H26, didukung oleh musim yang lebih kering, peningkatan kegiatan konstruksi, serta percepatan proyek pemerintah,” ujar Brigita kepada Infomalangraya.com, Rabu (26/8/2026).
Penjualan semen dalam negeri pada Juli 2026 mencapai 6,1 juta ton, naik 5,9% dibanding tahun sebelumnya. Dengan demikian, total penjualan selama tujuh bulan pertama tahun 2026 mencapai 36,1 juta ton atau meningkat 9,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan permintaan tersebut juga terlihat di beberapa wilayah, termasuk Aceh. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mengatakan permintaan semen di berbagai wilayah Aceh mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga penyerapan persediaan di beberapa titik distribusi berlangsung lebih cepat.
Kondisi tersebut terutama dirasakan pada Juli 2026, seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur dan perbaikan rumah warga setelah bencana. Kenaikan permintaan menyebabkan distributor mengalami antrean kendaraan di pabrik guna memperoleh pasokan.
Untuk menghadapi peningkatan permintaan, SMGR meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi melalui PT Solusi Bangun Andalas di Lhoknga dan Lhokseumawe serta pabrik pengemasan PT Semen Padang di Malahayati. Pasokan tambahan juga disalurkan dari fasilitas Semen Padang di Indarung.
Sekretaris Perusahaan SIG Vita Mahreyni menyampaikan, perusahaan terus menyesuaikan pasokan guna memenuhi kebutuhan pasar di Aceh sambil memastikan distribusi berjalan dengan lancar.
“SIG memaksimalkan kemampuan produksi dan distribusi agar kebutuhan pasir di Aceh terpenuhi,” ujar Vita dalam pernyataannya.
Kepala Operasional PT Wadah Suci Emy Rinaldi menyampaikan bahwa peningkatan permintaan di Aceh mulai terlihat pada pertengahan hingga akhir Juli. Namun, kondisi pasokan kini mulai membaik dan distribusi kembali berjalan dengan lancar.
Berdasarkan pendapat Emy, pasokan tambahan tidak hanya datang dari fasilitas SIG di Aceh, tetapi juga dari pabrik Semen Padang di Indarung. Barang yang tiba kemudian segera didistribusikan untuk memenuhi permintaan pasar yang masih tinggi.
Perkembangan di Aceh menjadi salah satu contoh bahwa peningkatan penggunaan semen mulai menyebar ke luar Jawa. Pada semester pertama 2026, konsumsi semen di luar Jawa meningkat 12% dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan di Sulawesi mencapai 21%, sementara daerah Indonesia Timur berkembang sebesar 13%.
Brigita menganggap permintaan semen pada paruh kedua tahun ini masih memiliki kemungkinan didukung oleh percepatan proyek infrastruktur, pengembangan perumahan, serta kegiatan konstruksi di berbagai wilayah.
Beberapa program pemerintah, seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), rekonstruksi wilayah Sumatra, serta pembangunan tiga juta rumah, juga berpotensi menjadi sumber permintaan tambahan semen.
Meskipun ada potensi peningkatan volume, kenaikan penjualan belum tentu secara langsung menghasilkan pertumbuhan laba yang sebanding. Perusahaan semen masih menghadapi tekanan biaya energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta persaingan ketat dalam memperluas pangsa pasar.
Brigita menganggap bahwa margin keuntungan perusahaan semen akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam menjaga kedisiplinan harga serta meningkatkan efisiensi energi, penggunaan pabrik, dan komposisi produk.
Dari segi perusahaan, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dianggap memiliki daya tarik yang lebih baik dari segi risiko dan potensi keuntungan. Di sisi lain, SMGR memiliki keunggulan dalam hal skala operasional dan paparan terhadap proyek infrastruktur nasional.
Volume penjualan INTP pada Juli 2026 naik sebesar 13,2% dibanding tahun sebelumnya, sementara pangsa pasarnya meningkat menjadi 31,3%. Di sisi lain, volume penjualan SMGR mengalami pertumbuhan 10% YoY pada semester pertama 2026, dengan kenaikan volume di luar Jawa mencapai 13% pada Juni 2026.
“INTP lebih unggul dalam hal potensi pengembangan dasar, sedangkan SMGR unggul dari segi paparan terhadap pemulihan permintaan dan proyek infrastruktur nasional,” ujar Brigita.
Di sisi lain, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Saragih tetap mempertahankan pandangan netral terhadap sektor semen. Menurutnya, peningkatan penjualan semen di bulan Juli menyebabkan realisasi penjualan selama tujuh bulan pertama 2026 sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Andreas mencatat bahwa konsumsi semen domestik pada Juli mencapai 6,1 juta ton, meningkat 10,9% dibanding bulan sebelumnya dan 5,9% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh cuaca yang lebih kering, faktor perbandingan yang rendah, serta percepatan proyek infrastruktur.
Untuk SMGR, volume penjualan grup pada bulan Juli mencapai 3,3 juta ton. Namun, pangsa pasar dalam negerinya berkurang menjadi 45,1%, sementara volume INTP naik sebesar 13,2% dibanding tahun lalu menjadi 1,9 juta ton.
Andreas mempertahankan target harga SMGR sebesar Rp2.750 per saham dan INTP sebesar Rp6.500 per saham. Namun, ia memberikan peringatan mengenai beberapa risiko, mulai dari kenaikan suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia, pengurangan pengeluaran, pelemahan nilai tukar rupiah, harga energi yang tinggi, hingga kemungkinan inflasi pangan akibat El Nino.
Di sisi lain, penggunaan semen yang lebih tinggi dari prediksi, pemulihan pangsa pasar perusahaan utama, serta kenaikan harga jual semen bisa menjadi faktor positif yang mendorong kinerja saham perusahaan semen hingga akhir tahun.







