Kekacauan di Pasar Emas Digital Shenzhen
Sebuah peristiwa yang mengejutkan terjadi di kota Shenzhen, Tiongkok, ketika sebuah platform perdagangan emas digital tiba-tiba runtuh. Insiden ini menyebabkan kerugian besar bagi ratusan ribu investor ritel, dengan total kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun.
Platform tersebut bernama JWR, yang menjadi pilihan banyak investor ritel Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir. Mereka ingin memanfaatkan lonjakan harga emas global yang terus meningkat. Namun, saat harga emas kembali melonjak, para investor berusaha mencairkan keuntungan mereka secara bersamaan. Hal ini memicu krisis likuiditas pada JWR, yang tidak mampu memenuhi permintaan penarikan dana yang sangat tinggi.
Beberapa video yang diunggah oleh investor di media sosial menunjukkan ratusan orang berkumpul di luar kantor JWR di Shenzhen untuk menuntut pengembalian dana. Aparat kepolisian turun tangan untuk menjaga ketertiban di lokasi tersebut.
Otoritas Distrik Luohu, Shenzhen, telah membentuk satuan tugas khusus untuk menyelidiki dugaan aktivitas bisnis tidak normal di JWR. Menurut perkiraan para investor, jumlah dana yang belum dibayarkan oleh perusahaan tersebut diperkirakan melebihi 10 miliar yuan.
Insiden ini juga mengguncang kepercayaan terhadap pusat perdagangan emas Shuibei di Shenzhen, yang selama ini dikenal sebagai jantung pasar emas Tiongkok. Kasus ini menyoroti risiko yang semakin meningkat bagi investor ritel Tiongkok yang menanamkan dana pada platform perdagangan logam tanpa izin, terutama dalam situasi reli panjang harga emas dan perak.
Seorang pengguna platform media sosial RedNote atau Xiaohongshu menulis:
“Saya dan banyak investor lain telah melaporkan kasus ini ke polisi, baik di kota asal kami maupun di Shenzhen, dan banyak orang datang langsung ke Shenzhen.”
“Masih banyak platform serupa di pasar, dan risikonya sekarang sangat tinggi.”
Krisis likuiditas JWR disebut terkait dengan model perdagangan pre-pricing yang diterapkannya. Dalam model ini, perusahaan menarik investor ritel dengan promosi perdagangan emas dan perak berambang masuk rendah serta leverage tinggi melalui media sosial.
Dalam transaksi pre-pricing, perdagangan tidak dilakukan melalui bursa logam mulia yang teregulasi. Platform secara privat menyepakati harga emas atau perak di masa depan dengan investor, sementara aliran dana tidak melalui sistem kliring publik. Ketika harga emas dan perak melonjak tajam dan investor secara kolektif menarik keuntungan, platform harus segera menyediakan dana besar atau menyiapkan pengiriman fisik. Jika perusahaan tidak melakukan lindung nilai secara memadai atau tidak memiliki cadangan modal yang cukup, risiko gagal bayar dapat meningkat dengan cepat.
Otoritas Tiongkok sebelumnya telah berulang kali memperingatkan investor ritel mengenai risiko mengikuti reli harga emas. Beberapa insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Shenzhen dalam beberapa waktu terakhir, yang berkaitan dengan perdagangan logam mulia daring dan model pre-pricing.
Pada Oktober lalu, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen mengeluarkan peringatan risiko yang mengungkap bahwa sejumlah pemasok bahan emas lokal, yang beroperasi dengan kedok perdagangan emas, sejatinya terlibat dalam praktik “taruhan emas nonfisik” melalui platform daring. Otoritas menduga praktik tersebut mengarah pada perjudian ilegal.
“Kasus-kasus ini mengungkap bagaimana sejumlah perusahaan, demi mengejar keuntungan ilegal dengan kedok perdagangan emas fisik, telah mendorong klien untuk terlibat dalam taruhan berarah berleverage tinggi, yang pada dasarnya adalah spekulasi atas naik-turun harga,” demikian bunyi peringatan industri tersebut.
Pengacara berbasis di Guangzhou, Deng Ping, yang menangani sejumlah sengketa penggalangan dana swasta, mengatakan pasar kini menunggu hasil penyelidikan pemerintah.
“Kolapsnya platform investasi swasta semacam ini belakangan semakin sering terjadi,” ujarnya.
“Dua tahun lalu yang runtuh adalah teh dan mata uang kripto, sekarang logam mulia.”







