Peringatan Sosiolog Aceh Mengenai Tekanan Ekonomi Global
Menuruh Prof. Humam Hamid, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar seiring lonjakan harga minyak dunia yang sudah melampaui asumsi awal. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya ekspor, termasuk ke China. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas fiskal negara.
Dampak Konflik Internasional Terhadap Ekonomi Nasional
Prof. Humam menekankan pentingnya pemerintah untuk berhati-hati dalam merespons gejolak ekonomi global, khususnya dampak konflik internasional yang mendorong kenaikan harga energi. Ia bahkan menyarankan Presiden Prabowo Subianto agar tidak ragu mengambil keputusan tidak populer, termasuk menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika kondisi ekonomi semakin memburuk.
“Pemerintah harus sangat hati-hati. Mudah-mudahan jangan malu lah Pak Presiden kalau memang harus membuat keputusan yang agak berat. Misalnya ya, tiba-tiba MBG dihentikan misalnya,” ujar Prof Humam dalam sebuah podcast.
Perkembangan Harga Minyak dan Ekspor yang Menurun
Menurut Prof Humam, asumsi APBN kita sebelumnya adalah sekitar 70 dolar, namun saat ini sudah mencapai 100 dolar lebih. Artinya, Indonesia harus membayar lebih untuk minyak. Di sisi lain, ekspor kita ke Cina juga menurun. Jadi uang masuk kecil, bayarnya besar.
Ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, pemerintah perlu mengutamakan stabilitas fiskal dibanding popularitas politik. “Jangan takut nanti enggak populer karena sudah berjanji MBG. Jangan pernah ragu untuk mengambil keputusan yang tidak populer untuk menyelamatkan bangsa dan negara,” tegasnya.
Risiko Krisis Ekonomi terhadap Stabilitas Politik
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa krisis ekonomi dapat berdampak serius terhadap stabilitas politik. Contohnya adalah pada tahun 1998 ketika kepemimpinan Soeharto runtuh akibat gejolak besar krisis ekonomi.
“Persoalan begini jangan main-main. Dulu Pak Harto jatuh karena harga bahan pokok, karena krisis ekonomi. Penyakit itu akan datang kalau enggak hati-hati. Mudah-mudahan tidak terjadi, tapi risikonya tetap ada,” katanya.
Dampak Nyata di Aceh
Lebih jauh, Prof Humam menilai bahwa kendati konflik global terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya sudah mulai dirasakan masyarakat, termasuk di Aceh. Kenaikan harga energi dipastikan akan merembet ke berbagai sektor.
“Sekarang saja sudah terasa. Sebentar lagi harga minyak, gas naik, ongkos transportasi naik, bahan kebutuhan akan inflasi,” ujarnya.
Ia mencontohkan sektor perikanan dan pertanian sebagai sektor yang paling rentan terdampak. Nelayan terancam tidak melaut jika harga solar naik, sementara petani dan pelaku usaha akan terbebani biaya operasional sehingga hasil taninya terkendala untuk dipasarkan.
Menurutnya, kondisi ini akan sangat berat bagi masyarakat karena terjadi tanpa keterlibatan langsung dalam konflik. “Kita tidak terlibat perang, tapi kita yang kena. Dan itu sakit sekali. Ini tugas pemerintah untuk memastikan penderitaan itu tidak menjadi sangat berat,” katanya.
Peran Pemerintah Aceh dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi
Untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, Humam mendorong Pemerintah Aceh memperkuat program yang langsung menyentuh masyarakat, misalnya dengan mengedepankan skema padat karya dalam penanganan banjir di Aceh. Hal ini penting agar terjadi perputaran uang langsung di tengah masyarakat.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya memastikan distribusi pupuk subsidi di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Menurutnya, saat ini berbagai wilayah di Aceh mengalami kesulitan mendapatkan pupuk.
“Ini harus dijamin sampai ke masyarakat. Orang lagi susah, lagi teriak,” tuturnya.
Tantangan Ekonomi Global yang Melibatkan Wilayah Timur Tengah
Seperti diketahui, konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kini telah genap satu bulan mulai menimbulkan dampak serius di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara dilaporkan telah membatasi aktivitas karena kekhawatiran terjadinya krisis BBM.
“Sekitar 20 persen energi dunia itu ada di Hormuz, 10 persen di Laut Merah. Jadi baru diancam saja, harga minyak sudah naik karena risiko asuransi dan logistik,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dampak terbesar konflik global bagi Indonesia bukan pada aspek militer, melainkan ekonomi. Perang besar mungkin tidak sampai ke Indonesia, namun dampak terburuk tetap pada sektor ekonomi.
Di tengah situasi tersebut, Prof Humam mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah dalam mengambil setiap kebijakan. “Jangan ugal-ugalan dalam kebijakan. Ini situasi serius,” ujarnya.







