Infomalangraya.com.CO.ID – JAKARTA.Perusahaan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), melakukan penyesuaian ulang indeks untuk bulan Agustus 2026. Hasil dari perubahan indeks ini akan berlaku mulai penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026 atau dimulai pada awal perdagangan tanggal 1 September 2026.
Pada kali ini, proses penyesuaian kembali portofolio sahamGOTO dan CPINkeluar dari kategori Global Standard. Di sisi lain, sembilan saham dikeluarkan dari kategori Small Cap, yaituARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.
Manajer Edukasi Keuangan Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menyatakan bahwa dampak dari penyesuaian indeks MSCI sebagian besar sudahpriced-inoleh pasar. Hasil pembaruan MSCI Agustus telah diumumkan pada 13 Agustus lalu tanpa adanya kejutan negatif, mengikuti pengakuan MSCI sejak 7 Juli mengenai perlakuan khusus terhadap Indonesia, yaitu penundaan Foreign Inclusion Factor/Number of Shares (FIF/NOS) serta tidak ada penambahan saham ke dalam kategori Standard.
“Yang tersisa saat ini adalah pelaksanaan teknis dana pasif pada tanggal efektif, yaitu penutupan perdagangan 31 Agustus yang jatuh pada hari Senin,” ujar Hendry kepada Infomalangraya.com, Rabu (26/8/2026).
Hendry memprediksi, volume dan tingkat fluktuasi perdagangan akan mencapai puncaknya menjelang penutupan pada 29 Agustus hingga 31 Agustus, terutama untuk saham-saham yang keluar dari indeks karena cenderung mengalamioutflowdana yang tidak aktif, serta saham-saham dalam LQ45 atau Standard yang bobotnya meningkat secara relatif.
“Memasuki minggu setelah efektif pada 1 September, tekanan teknis darirebalancingdiperkirakan mulai menurun dan arah pasar kembali dipengaruhi oleh faktor fundamental makro,” kata Hendry,
Secara teknis, Hendry melihat IHSG masih berada dalam tren positif meskipun mengalami koreksi wajar pada perdagangan hari ini, Rabu (26/8/2026). Hendry memperkirakan tingkat support IHSG berada di kisaran 6.377–6.255 dan resistance atau target penguatan berada dalam rentang 6.623–6.730.
Secara struktur menengah, tren tetap berlangsungbullishselama IHSG tetap berada di atas tingkat dukungan saat ini,” jelas Hendry.
Secara terpisah, Analis Equity Research dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyampaikan, menjelangrebalancingIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami fluktuasi pada 31 Agustus 2026, dengan arah yang cenderung tidak menentu.sideways.Â
“Investor kemungkinan melakukan positioning sebelum rebalancing, sementara potensi perubahan foreign flowdapat meningkatkan fluktuasi, khususnya pada saham-saham yang terkena dampak indeks,” tambah Azis.
Selain isu MSCI, berbagai sentimen lain juga mendapat perhatian dari pelaku pasar.Fit and proper testKandidat Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang diadakan pada 26–27 Agustus menjadi salah satu faktor pemicu dalam negeri.
Pasaran merespons positif kepastian kepemimpinan definitif BI, terlihat dari penguatan rupiah menjadi sekitar Rp 17.670 per dolar AS dibandingkan sebelumnya yang berada di Rp 17.705. Meskipun demikian, rupiah dinilai masih rentan bergerak dalam kisaran Rp 17.670 hingga Rp 17.712, dengan angka psikologis Rp17.700 sebagai penentu arah.
Dari sudut pandang global, data inflasi Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat serta petunjuk arah kebijakan The Fed setelah simposium Jackson Hole menjadi faktor utama yang memengaruhi ekspektasi suku bunga AS, yang pada akhirnya berdampak pada aliran dana asing ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Sentimen eksternal lainnya, seperti pulihnya Wall Street yang didorong saham teknologi, penurunan harga minyak, dan penguatan pasar obligasi, dianggap netral hingga positif terhadap pasar dalam negeri.
Mengenai rencana aksi demonstrasi pada 27 Agustus, Hendry menyatakan, dampaknya terhadap arah IHSG cenderung kecil dan terbatas. Tuntutan yang diajukan lebih mengarah pada isu politik dan peraturan perundang-undangan, seperti RUU Perampasan Aset serta hukuman mati bagi pelaku korupsi, bukan isu ekonomi atau fiskal yang berpotensi merusak keyakinan pasar.
Selama aksi berlangsung secara damai, Hendry memprediksi dampaknya lebih bersifatnoise jangka sangat pendek berupa risk-off intradaydan penurunan nilai tukar rupiah yang sedikit, bukan berarti mengubah tren.
Namun, ia memperingatkan adanya potensi eskalasi yang tidak terduga atau bentrokan yang tetap perlu diwaspadai karena berisiko memicu tindakan ambil untung (profit-taking) secara cepat.
Sementara Azis menganggap aksi demonstrasi besar-besaran sebagai salah satu risiko yang perlu diperhatikan, karena dapat memperbesar ketidakpastian politik dan sentimen para investor. Jika situasi memburuk, hal ini berpotensi menjadi hambatan bagi IHSG danforeign inflow dalam jangka pendek.
Menurut Hendry, fokus utama pergerakan pasar minggu ini adalah perpindahan ke sektor komoditas dan energi, karena sektor barang mentah menjadi satu-satunya bidang yang konsisten mengalami peningkatan, di tengah sikap hati-hati para investor menjelang volatilitas penyesuaian kembali portofolio.
Â
Beberapa saham yang layak diperhatikan antara lainAMMN, PSAB, BRMS, INET, BUMI, PTRO, PGEO, dan TINS.
Azis menyarankan saham perbankan sepertiBBCA dengan rekomendasi buydengan target sebesar Rp 8.075 danBMRI dengan target Rp 5.400.







